
BOM bunuh diri di Gereja Katedral, Makassar, Minggu (28/3) pukul 10.30 Wita yang menewaskan dua pelaku perempuan dan 20 korban terluka menunjukkan bahwa negeri ini belum bebas sepenuhnya dari terorisme.
Sepanjang 2020, di tengah pandemi global Covid-19 yang mulai terlacak di Indonesia pada 2 Maret, tidak terjadi aksi-aksi bom bunuh diri, dan kejadian di Makassar pada 23 Maret adalah yang peristiwa pertama kalinnya sejak 2019.
Dari kedua pelaku, diduga berafiliasi dengan Jamaat Ansharut Daulah (JAD) yang kelompoknya digrebek polisi di Vila Mutiara, Makassar awal Januari lalu, yakni pasangan suami isteri (YSF dan L) anggota kelompok tersebut yang dinikahkan enam bulan lalu.
Berdasarakan dugaan sementara, keduanya yang bergoncengan dengan sepeda motor meledakkan diri di halaman gereja sehingga tewas di TKP dengan kondisi mengenaskan.
Dalam aksi penggerebekan yang dilakukan Densus 88 di Vila Mutiara, Makassar pada 6 Januari tersebut, dua teroris yakni MR (46) dan menantunya SA (23) berhasil ditembak mati, sementara belasan lainnya diamankan.
Kapolri Jenderal Pol. Lystio Sigit Wibowo menyebutkan, kelompok tersebut diduga jga berkaitan dengan yang beraksi di Jolo, Filipina 2018, sementara alat peledak yang digunakan dari jenis bom panci rakitan.
Sejumlah kecaman dilontarkan oleh tokoh agama seperti Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir yang menyebutkan, segala kekerasan yang mengancam dan mengorbankan nyawa manusia, apa pun motif dan tujuannya, oleh siapa pun, sangat biadab.
Sementara Sekjen PB Nahdlatul Ulama Helmy Faishal Zaini menyatakan, semua agama termasuk Islam, tidak ada yang mengajarkan kekerasan. “Setiap agama mengajarkan cinta kasih pada sesama, Islam pun mengajarkan nilai nilai toleransi dalam kehidupan beragama dan menebarkan perdamaian, “ ujarnya.
Sedangkan Direktur Setara Institute, Ismail Hasani mengingatkan, kasus bom Makassar menjadi sinyal keras bagi semua pihak terutama aparat keamanan agar tidak kendur menjalankan protokol penanganan ekstrimisme dan kekerasan, pencegahan maupun penindakannya.
Sejak tiga tahun terakhir tercatat sejumlah aksi pengeboman, a.l. aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya pada 13 Mei 2018 dengan korban enam pelaku dan 15 warga tewas.
Pada hari yang sama di Sidoarjo, tiga peghuni rusun tewas saat bom rakitanya meledak, dan selang sehari kemudian (14 Mei), empat pelaku tewas dan 10 korban termasuk empat polisi terluka dalam aksi bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya.
Terduga teroris Abu Hamzah, ister serta dua anaknya tewas meledakkan bom bunuh diri saat digrebek Densus 88 di Sibolga, Sumut pada 13 Maret 2019.
Seorang pelaku terluka dalam peristiwa bom bunuh diri di pos polisi di Kartasura, Jateng pada 3 Juni 2019, sementara seorang pelaku tewas dan empat polisi dan dua warga terluka dalam aksi bom bunuh diri di Markas Poltabes Medan, 13 November 2019.
Selain aksi untuk mengendus dan memburu para terduga teroris, program deradikalisasi melalui literasi keagamaan dan kebangsaan perlu digalakkan agar orang tidak mudah terprovokasi dan tersesat melakukan aksi sia-sia, apalagi mengatasnamakan agama.




