
INSIDEN pelanggaran koridor wilayah udara di Selat Taiwan yang diklaim masing-masing oleh dua negara serumpun – China dan Taiwan yang bersteru – terjadi berulang kali sehingga dicemaskan berujung perang terbuka.
Channel News Asia melaporkan, 28 pesawat tempur AU China dari tiga varian jenis Shenyang J-11, J-14 (copi paste Tupolev TU-27 eks-Uni Soviet) danĀ J-16 yang mirip F-15 Eagle (eks-AS) dan pengebom H-6 Xian (mirip TU-16 eks-Soviet) yang bisa membawa senjata nuklir, memasuki Zona Identifikasi Pertahanan Taiwan (ADIZ), Selasa (15/6).
Insiden tersebut berlangsung setelah negara-negara anggota G-7 dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan, Minggu (13/6) menegur China terkait sejumlah isu dan menekankan pentingnya stabilitas di selat Taiwan, sebaliknya China menganggap tudingan itu sebagai fitnah.
Taiwan sendiri dalam beberapa bulan terakhir ini mengeluhkan aksi pesawat pesawat tempur china yang sering mendekati wilayahnya terutama terkonsentrasi di kawasan ADIZ dekat Kepulauan Pratas yang diklaim miliknya.
Sementara itu, gugus tugas armada laut AS dipimpin kapal induk bertenaga nuklir USS Donald Reagan (nomor lambung SVN-76) yang mampu mengangkut 90 pesawat dan sejumlah helikopter dilaporkan sudah merapat ke Laut China Selatan (CLS) antara lain dikawal kapal penjelajah rudal USS Shiloh dan kapal perusak USS Halsey.
Ancaman demi ancaman dilontarkan China untuk merebut kembali Taiwan yang diklaim sebagai wilayahnya, sebaliknya Taiwan juga terus mengasah kemampuannya untuk mempertahankan diri.
Bagai Langit dan Bumi
Perbandingan kekuatan antara China dan Taiwan versi Global Firepower 2020 bagai langit dan bumi. China bertengger pada ranking ke-3 setelah Amerika Serikat dan Rusia, sementara Taiwan di posisi ke -22.
China dengan belanja militer 224 milyar dollar (sekitar Rp3. 228Ā triliun atau setara 1,5 kali APBN Indonesia) memiliki tiga juta personil. AU-nya mengoperasikan 3.170 pesawat berbagai jenis, AL diperkuat 714 kapal perang termasuk dua kapal induk, 76 kapal selam, sedangkan AD didukung 13.500 tank.
Ambisi China menguasai dunia, tampak nyata, mulai dari membeli persenjataan ex-Uni Soviet, meniru atau memperoleh lisensi, kemudian membuat sendiri, bahkan kini sudah menjadi negara pengekspor alutsista utama global.
Selain arsenal nuklirnya, China bersaing dalam lomba persenjataan konvensional, misalnya membuat pesawat tempur siluman generasi ke-5 āelang hitamā Chengdu J-20 dan rudal penghancur kapal induk Dongfeng DF-21.
Sebaliknya, kekuatan Taiwan walau jauh lebih kecil, dengan personil 300.000 orang, 300-an pesawat tempur, 87 kapal perang dan sekitar 1.855 tank tidak bisa dianggap enteng, karena selain terlatih juga canggih. Anggaran militer Taiwan pada 2020 tercatat 15,2 miliar dollar AS (setara Rp224 triliun).
AU Taiwan ditulangpunggungi lebih 100 pesawat tempur āElang Tempur F-16 C/D (eks AS) yang kemampuannya akan ditingkatkan menjadi F-16 Viper, pesawat Mirage 2000-5 (Perancis) dan Chengko F-CK1 buatan lokal yang keandalannya disebut-sebut setara dengan F-16.
Taktik asimetris
Sadar, tidak sebanding untuk berhadap-hadapan langsung dengan kekuatan raksasa China, pasukan Taiwan menerapkan taktik asimetris untuk bertahan selama mungkin.
Hal itu tampak dalam latihan perang yang digelar di Provinsi Changhua, Selasa lalu (28/5) dimana jalan raya dengan cepat berubah fungsi menjadi pangkalan udara dan landas pacu pesawat-pesawat tempur.
āJalan raya menjadi prioritas alternatif bagi pengoperasian pesawat udara jika pangkalan-pangkalan udara dihancurkan musuh, ā kata seorang perwira menengah AU Taiwan.
Dari simulasi perang itu, tampak Taiwan akan menggunakan kekuatannya yang terbatas secara efektif dan efisien, ābertahan selama mungkin dan mengakibatkan kerugian besar bagi penyerang.
Hal itu bisa dipahami, karena jika Taiwan diserang China, tentu AS sebagai pelindung utama, juga sekutu-sekutunya yang lain, tidak bakal tinggal diam.
Skenario Taiwan, bertahan pada awal-awal serangan dengan menimbulkan kerugian besar pada musuh, selanjutnya ātunggu saja, pasti bantuan akan tiba!ā (dari AS dan NATO-red).
Sebaliknya, petinggi militer China tentu juga paham, menyerang Taiwan, harus diperhitungkan pula, di belakangnya ada AS dan kekuatan NATO.
Mudah-mudahan gertakan China sekedar intermezzo saat dunia sedang jenuh menghadapi pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai, tidak berlanjut menjadi perang yang bakal merugikan semua pihak. (AFP/Reuters/ns)




