Rakyat Kuba (Mulai) Berani Unjukrasa

Unjuk rasa terbesar di Kuba sejak 1994 lalu digelar di berbagai kota menuntut perbaikan ekonomi, kebebasan dan presiden Miguel Diaz-Canel mundur.

KUBA, garda terakhir negara komunis selain Korea Utara diguncang aksi unjukrasa besar-besaran di kota Antonio de los Banos di bagian barat, kota Palma de Soriano di timur sampai Santiago dan ibukota, Havana, Minggu (12/7) waktu setempat.

Reuters melaporkan (13/7), ribuan pengunjukrasa turun ke jalan untuk memprotes himpitan ekonomi akibat dampak pandemi Covid-19 dan embargo Amerika Serikat sejak bertahun-tahun yang menstigma Kuba sebagai pusat teroris.

Kemarahan publik memuncak akibat kekangan pemerintah terhadap kebebasan sipil, dan menilai tidak becus menangani pandemi Covid-19 tercermin dari lonjakan jumlah orang terpapar dalam beberapa hari terakhir ini .

Bahkan pengunjukrasa di Havana dan kota Santiago sudah berani meneriakkan yel-yel dan spanduk memuat seruan kebebasan dan bahkan meminta Presiden Miguel Diaz-Canel mengundurkan diri.

Demo terbesar dalam tiga dekade di Kuba telah pecah, ribuan orang turun ke jalan di sejumlah kota, menyuarakan penderitaan rakyat, krisis pangan, harga kebutuhan pokok yang mahal, dan rezim komunis yang dianggap tak becus.

Aksi unjukrasa segera menyebar ke seluruh negeri hingga ibu kota Havana. mengundang solidaritas massa. “Ribuan orang di pusat kota Havana meneriakkan yel-yel “tanah air dan kehidupan” serta “kemerdekaan”, “ tulis the Guardian.

“Saya di sini karena lapar, tidak ada obat, listrik padam, kecurangan di mana-mana,” ujar seorang pria berusia 40-an yang tidak ingin disebutkan namanya karena takut bakal ada aksi balasan.

Kuba di bawah pemimpin besar revolusinya Fidel Castro berhasil menggulingkan diktator Jenderal Fulencio Batista, lalu memimpin negara dengan haluan Marxisme-Leninisme selama enam dekade, dari 1959 sampai 1976 sebagai PM dan 1976 sampai 2008 sebagai presiden. Dinasti Castro berlanjut pada adiknya, Raul Castro sampai 2018.

Perekonomian Kuba, negara berpenduduk sekitar 13 juta di Laut Karibia  nyaris kolaps dan mengalami penurunan terburuk sejak tiga dekade pada 2020 lalu akibat pandemi dan embargo AS ditambah badai Elsa yang memaksa 180.000 orang dievakuasi.

Melansir The Guardian, Minggu (12/7), berita demo segera menyebar ke seluruh negeri hingga mengundang solidaritas ribuan warga ibu kota Havana yang turun ke jalan-jalan meneriakkan yel-yel “tanah air dan kehidupan” serta “kemerdekaan”.

Sebaliknya Presiden Miguel yang memimpin Kuba sejak 2018 bertujuan menciptaan distabilitas di negerinya, sementara massa pendukungnya juga meneriakkan yel-yel agar Kuba meneruskan revolusi.

Ia bersumpah akan melakukan “respons revolusioner” atas aksi-aksi massa tersebut, sehingga diplomat AS untuk Amerika Latin, Julie Chung seperti dikutip BBC (12/7) dalam cuitannya melontarkan kecemasannya  atas seruan di tengah masyarakat untuk “maju  perang”.

“AS mendukung hak-hak rakyat Kuba untuk menyampaikan orasi secara damai dan menyerukan agar pihak-pihak terkait tidak melakukan kekerasan, “ pinta Chung.

Kekuasaan yang terlalu lama, seperti juga terjadi di negara-negara lain termasuk Indonesia, bakal ada batasnya, begitu juga rezim diktator komunis di Kuba yang masih tersisa, padahal dunia sudah jauh berubah.

“Revolusi akan memangsa anak-anaknya sendiri,” demikian perjalanan sejarah yang sebelumnya acap terjadi. Kapan giliran Kuba? Waktu akan membuktikan nanti. (the Guardian/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement