
Prevalensi pengidap kanker prostat, penyakit yang muncul tanpa gejala dan umumnya menyerang pria di atas usia 50 tahun atau lansia, di Indonesia cukup tinggi yakni 11 per 100.000 penduduk.
Penyakit dengan korban terbanyak kedua setelah kanker paru ini baru menyentak para pria setelah Presiden RI ke-6 SB Yudhoyono dikabarkan mengalaminya dan saat ini sedang menjalani pengobatan di sebuah RS di AS.
Kanker prostat berkembang di dalam kelenjar prostat pada pria, umumnya ditandai gangguan buang air kecil, tidak bersifat agresif, berkembang perlahan, sedangkan mayoritas korban berusia di atas 65 tahun.
Prostat sendiri berupa kelenjar kecil di bagian dasar kandung kemih, bagian sistem reproduksi yang posisinya mengelilingi saluran yang membawa urin dari kandung kemih ke penis dan juga berfungsi sebagai penghasil semen (sperma) saat ejakulasi.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, diperkirakan sekitar 1,3 juta penduduk dunia menderita kanker prostat dan lebih 100 ribu meninggal, sedangkan di Indonesia tercatat sekitar 15.000 pengidap baru pada 2020.
Sedangkan menurut laman American Cancer Societi (ACS), satu dari delapan pria di negara itu mengalami kanker prostat, dan tercatat 28.530 kasus baru pada 2021 (sampai Oktober) yang menyebabkan 3.130 kematian.
Penyebab kanker prostat adalah mutasi atau perubahan genetik pada sel-sel di kelenjar prostat walau penyebab mutasi itu sendiri belum diketahui secara pasti.
Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker prostat, a.l. pertambahan usia, obesitas, pola makan yang kurang sehat termasuk kekurangan asupan antioksidan seperti likopen, paparan zat kimia, penyakit menular seksual dan genetik
Yang perlu diwaspadai, kanker prostat pada tahap awal tidak bergejala, baru terasa jika terjadi peradangan ditandai volume zakar membesar dan buang air seni tidak lancar.
Gejalalain misalnya terdapat darah dalam urin atau sperma, disfungsi ereksi, nyeri pinggul, tulang belakang dan rusuk atau ke bagian tubuh lain jika sudah menyebar ke tulang, mati rasa pada tungkai dan kaki atau kehilangan kontrol kandung kemih.
Untuk itu, dianjurkan agar pria di atas usia 50 tahun atau jika ada keluarga yang memiliki riwayat terkena kanker prostat untuk menjalani pemeriksaan Prostate-spesific Antigen (PSA).
Melalui pemeriksaan colok dubur, PSA dan transectal ultrasonographic (TRUS) dan bippsi prostat diharapkan pasien dapat memastikan negatif atau positif dari kanker prostat.
Pemeriksaan dini jauh lebih baik ketimbang terlambat atau sudah berada di stadium tinggi.




