JAKARTA (KBK) – Kaum perempuan belum dilihat sebagai donatur dan pendukung potensial untuk program sosial kemanusiaan.
Padahal, kaum perempuan dengan beragam potensi yang dimilikinya bisa digerakkan untuk menjadi donatur, volunteer, campaigner, atau bahkan fundraiser bagi lembaga-lembaga sosial dan nirlaba.
Filantropi kaum perempuan ini berpotensi untuk digalang guna mengatasi berbagai persoalan sosial di Indonesia, khususnya persoalan-persoalan yang dihadapi kaum perempuan.
Hal ini tergambar dari paparan para pembicara pada Philanthropy Learning Forum 6 dengan tema “Filantropi untuk Pemberdayaan Perempuan: Potensi, Tantangan dan Strategi Penggalangannya” yang digelar Filantropi Indonesia di Jakarta (28/4/2016).
Forum yang dihadiri oleh para pegiat filantropi tersebut menghadirkan 4 pembicara dari kalangan kaum perempuan yang mengembangkan kegiatan filantropi dan melibatkan kaum perempuan sebagai donatur dan pendukungnya.
Mereka adalah Maria Anik Wusari (Direktur Eksekutif Yayasan Indonesia untuk Kemanusiaan), Ressa Ria Lestari (Co-Founder Komunitas Samahita Bandung), Indira Abidin (Chief Happiness Officer PT Fortune PR yang juga dikenal sebagai penyintas dan pegiat kampanya kangker) dan Anantya van Bronckhorst (Managing Director Girls in Tech)
Co-Chair Badan Pengarah Filantropi Indonesia, Erna Witoelar, menyatakan bahwa pengembangan filantropi di Indonesia belum banyak melibatkan kaum perempuan dalam kegiatan kedermawanan. Berbagai organisasi sosial yang melakukan penggalangan dukungan dan sumber daya juga belum menggali potensi kaum perempuan sebagai donatur dan pendukung program-program sosial kemanusiaan.
Kurangnya perhatian terhadap potensi perempuan dalam kegiatan filantropi ini, lanjut Erna, dikarenakan adanya asumsi bahwa perempuan tidak memiliki harta atau penghasilan sebesar laki-laki. Perempuan tidak dianggap sebagai donatur yang prospektif karena donasi perempuan dinilai lebih kecil dari laki-laki.
Ditambahkannya, perempuan juga dinilai tak punya kekuasaan dalam pengambilan keputusan menyumbang karena pemberi nafkah dalam keluarga adalah sebagian besar laki-laki yang juga berperan sebagai kepala keluarga.
Namun, menurut Erna Witoelar, asumsi-asumsi itu tak sepenuhnya benar. Kaum perempuan saat ini muncul sebagai pendukung dan donatur bagi program-program sosial, khususnya program yang berkaitan dengan isu perempuan. Mereka secara mandiri bisa menjadi donatur karena banyak perempuan yang sudah punya penghasilan sendiri seiring meningkatnya jumlah perempuan yang bekerja di sektor publik maupun swasta atau mengelola usaha sendiri.
Laporan CAF World Giving Index 2015 menyebutkan, bahwa sumbangan perempuan dalam bentuk dana maupun inkind tak jauh berbeda dengan jumlah sumbangan laki-laki. Sementara laporan survei PIRAC (Public Interest Research Advocacy Center) pada 2007 menyebut tingkat kedermawanan (rate of giving) perempuan yang sangat tinggi (99,7%) dengan jumlah rata-rata sumbangan Rp.287.242/orang/tahun.
“Tingkat kedermawanan perempuan tersebut lebih tinggi dari laki-laki (99,5%), meskipun jumlah sumbangannya lebih rendah dari kaum laki-laki yang nilainya Rp 360.736/orang/tahun,” ujar Erna.
Hamid Abidin, Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia, menambahkan bahwa meningkatnya jumlah kaum perempuan yang menduduki posisi strategis di berbagai perusahaan dan lembaga pemerintahan juga menjadikan mereka sebagai donatur potensial karena memiliki pengaruh dan penghasilan yang tinggi.
Studi lembaga konsultan bisnis Grant Thornton 2016 menunjukkan bahwa jumlah wanita karir Indonesia yang menduduki posisi penting di sebuah perusahaan menempati urutan keenam di dunia. Studi tersebut menyebutkan 36% posisi top manajer di perusahaan dipegang oleh perempuan.
Selain itu, beberapa studi menyebutkan bahwa perempuan juga berpotensi untuk menjadi volunteer, campaigner, atau fundraiser handal yang bisa menghasilkan dukungan dan sumber daya dalam jumlah besar bagi organisasi sosial.





