
PANDEMI global Covid-19 yang dialami hampir seluruh negara di dunia, bagi China adalah peluang untuk menanamkan kukunya dengan melalui jalur diplomasi termasuk menyumbangkan ratusan juta vaksin Covid-19 gratis untuk negara-negara di Afrika dan Asia Tenggara.
Hal itu tercermin dari pidato Presiden Xi Jin Ping dalam Forum Ekonomi dunia (WEF) tahunan yang berlangsung di Davos, Swiss, 17 -22 Januari yang than ini digelar secara daring di tengah pandemi.
Untuk bangkit bersama dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19, Xi menyerukan komunitas dunia untuk meningkatkan pola multilateralisme dan meninggalkan pola unilateralisme.
Yang dijanjikan Xi antara lain kerjasama di bidang ekonomi berskala luas dan mengulangi lagi komitmennya untuk mendistrbusikan vaksin dalam jumlah besar ke Afrika dan Asia Tenggara.
Menyonsong tahun baru Imlek awal Februari nanti yang merupakan tahun macan simbul keberanian dan kekuatan, Xi menyebutkan, perlunya menambah “sepasang sayap” untuk mengatasi berbagai rintangan yang ada.
Xi menyebutkan sejumlah persoaalan yang dihadapi dunia selain pandemi Covid-19 yakni krisis iklim dan terputusnya rantai pasok global.
“ Untuk mengatasinya, agar tiap negara tidak menggunakan perahu-perahu kecil, tatapi membangun bahtera besar yang tahan badai, “ ujarnya.
Dalam upaya menangani Covid-19, di luar dua juta dosis vaksin yang sduah dikirimkan ke 12 negara, China berencana membagikan satu milyar dosis vaksin ke Arika, 600 juta dosis di antaranya diberikan cuma-cuma dan 120 juta vaksin ke Asia Tenggara.
Kampanye Diplomatik
Dalam beberapa dekade terakhir ini, China memang gencar melancarkan diplomasi ekonomi melalui berbagai skim kerjasama dengan negara-negara di Afrika dan negara-negara di Asia Tenggara melalui forum ASEAN.
Tidak hanya di bidang ekonomi, ambisi China menjadi kekuatan global menyaingi Amerika Serikat juga tampak dari pengembangan persenjataan yang juga gencar dilakukannya.
Anggaran militer China pada tahun ini tercatat 252 milyar dollar AS (sekitar Rp 3.568 triliun atau menempati urutan kedua setelah AS (770 milyar dollar atau Rp11.000 triliun) dan saat ini sedang mengembangkan rudal hipersonik yan mampu melesat minimal lima kali keceaan suaran.
China paling tidak sudah memiliki tiga kapal induk, juga rudal-rudal balistik seri Dong Feng (DF) salah satunya DF-21 untuk pembunuh kapal induk dan pesawat tempur berkualifikasi siluman J-21 Cheng Du atau Rajawali Hitam.
Bagi RI yang cinta damai, ingin menjalin persahabatan dengan negara mana saja, termasuk dengan China.




