Putin Bakal Dikudeta?

Kepala Intelijen Ukraina memprediksi, Presiden Rusia akan dikudeta karena dianggap gagal memimpin invasi pasukannya ke Ukraina dan himpitan ekonomi negranya akibat perang tersebut.

INTELIJEN Ukraina memprediksi, perjuangan pasukannya melawan invasi Rusia yang dilancarkan negara Beruang Merah itu sejak 24 Februari lalu bakal “berjalan mulus” dan akan berakhir di penghujung 2022.

Prediksi optimistis tersebut disampaikan oleh Kepala Intelijen Ukraina, Mayjen Kyrylo Budanov dalam wawancara dengan Sky News (13/5).  Perang “berjalan mulus” yang ia maksudkan, tentu bisa dibaca secara tersirat, berarti kemenangan di pihak Ukraina.

Padahal, Rusia yang merupakan salah sat raksasa militer Global, semula dipredikasi bakal mudah “melumat” Ukraina, tetangganya dan juga sama-sama bekas negara yang bernaung di bawah Uni Soviet.

Rusia memiliki lebih dua juta personil aktif, 12.400 unit tank, 4.173 aneka pesawat plus 770 pesawat tempur, 554 helikopter serang dan 600 lebih kapal perang.

Sementara Ukraina hanya berkekuatan 200.000 personil aktif, 2.600-an tank, 70-an pesawat tempur dan 38 kapal perang. Sebagian besar alutsista tergolong lawas, sisa-sisa warisan eks-Soviet.

Budanov juga menuturkan, Presiden Rusia Vladimir Putin akan dikudeta, walau pernyataan ini tidak diklarifikasi lebih jauh, siapa yang akan melakukannya, unsur-unsur militer atau anasir pembangkang lainnya?

Yang jelas, keputusan Putin menginvasi Ukraina tidak didukung seluruhnya di dalam negeri, tercermin dari “insiden” protes tidak sengaja wartawan TV yang muncul di stasiun TV pemerintah beberapa waktu lalu.

Himpitan ekonomi akibat embargo dan tekanan int’l terhadap Rusia juga bisa jadi menjadi pemicu munculnya aksi-aksi protes di kalangan rakyat terutama generasi muda Rusia.

Di medan tempur sendiri, pasukan Beruang Merah itu sampai hari ke-79 (13/5) belum mampu mengakhiri perlawanan pasukan Ukraina yang bertempur sendiri tanpa bantuan pasukan NATO yang dijanjikan sebelumnya.

Dengan taktik perang kota yang efektif, didukung senjata-senjata pasokan NATO seperti rudal anti tank Javelin (buatan AS) dan N-LAW (Inggeris-Swedia) serta rudal anti pesawat Stinger (AS), pasukan Ukraina yang kalah dari jumlah personil mau pun persenjataan, ternyata mampu menahan gerak maju tentara Rusia.

Budanov juga menilai, taktik pasukan Rusia bergeser menyerang dari arah timur, tidak lagi mengincar ibukota, Kiev setelah menurut dia, mengalami kekalahan besar,  tetap tidak akan bisa memenangkan pertempuran.

“Tentara Rusia cuma gerombolan orang-orang bersenjata. Kami tahu segalanya tentang mereka dan rencana mereka. Kekuatan Rusia yang digembar-gemborkan cuma mitos, “ ujarnya.

Kekalahan dan kerugia besar yang dialami pasukan Rusia di sejumlah front di Ukraina, menurut Budanov, akan memicu aksi kudeta terhadap kepemimpinan di Kremlin.

Lebih Jauh Budanov menuturkan, Putin dalam kondisi psikologis dan fisik yang sangat buruk, menderita kanker dan mengidap penyakit lainnya.

“Ini pekerjaan saya (sebagai kepala intelijen-red),” kilah Budanov  menangkis anggapan bahwa dia menyebarkan informasi ini sebagai propaganda dan  bagian dari perang informasi.

Perang Rusia dan Ukraina masih berkecamuk, sementara kedua belah pihak mengklaim kemenangan, namun yang jelas, korban terus berjatuhan, dan tidak ada yang diuntungkan. (Sky News/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement