Perjuangan Guru di Pedalaman, Mengajar Enam Kelas Sekaligus

foto ilustrasi

PONTIANAK – Hasnia Uju, satu-satunya guru di SD Bina Setia Semaru, Dusung Bacang, Desa Tengue, Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak berjuang mengajar semua murid dari kelas 1 hingga kelas 6.

Sekolah tempatnya mengajar dibangun dengan dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) dan swadaya masyarakat. Ia mengajar seorang diri sejak 2011 hingga sekarang. Bahkan, terkadang ia harus mengajar sambil menggendong anaknya.

“Yang ada itu kelas I sampai kelas 6, saya ajar semuanya,” tuturnya kepada Rakyat Kalbar, Kamis (19/5/2016).

Lantaran harus mengajar enam kelas seorang diri, Hasnia pun membagi sekolah tersebut jadi dua lokal. Satu lokal untuk Kelas I sampai III dan satunya lagi untuk Kelas IV sampai VI.“Sebenarnya ada tiga ruangan, tetapi yang dipakai hanya dua ruang,” terang Hasnia.

Ia menjelaskan mengenai pembagian ruangan yang telah diaturnya, “Kelas I sampai III satu papan tulis dibagi tiga. Begitu pula ruang lainnya, Kelas IV sampai Kelas VI, satu papan tulis dibagi tiga,” paparnya.

Sistem mengajar yang diterapkan Hasnia berbeda dengan di sekolah pada umumnya. Sistem itu terpaksa diterapkan karena dia harus mengajar enam kelas sekaligus.

Hasnia mulai mengajar Kelas I dengan memberikan buku serta penjelasan dan soal. Ketika murid-murid sibuk mengerjakan soal, ia pindah ke Kelas II dan menerapkan hal serupa. Begitulah seterusnya sampai ke Kelas VI.

“Jika sudah sampai Kelas VI selesai diberi soal. Kelas VI itu ditinggalkan lagi dan kembali ke Kelas I untuk mengecek. Kemudian murid-murid diajak istirahat. Jam belajar dari pukul 08.00 sampai 11.00, baru pulang,” bebernya.

Dari mengajar 40 murid (kelas I sampai VI), ia hanya mendapat honor Rp500 ribu perbulan dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dibayar pertriwulan. “Murid-murid semuanya sekolah gratis,” ungkap Hasnia.

Beratnya perjuangan Hasnia dalam mendidik generasi penerus bangsa ini diketahui setelah Ketua DPC FSB Kamiparo, KSBSI Kabupaten Landak, Yasiduhu Zaluku alias Yusuf, berkunjung ke Desa Tengue guna membentuk Serikat Pekerja di PT Perusahaan Anak Negeri Pasaman (PANP) KYA, AMS Group.

“Saya datang sore hari, dan malam hari bertemu dengan masyarakat setempat. Lalu banyak laporan dari masyarakat untuk minta bantu tenaga guru, karena sekolah di kampung itu tidak ada guru. Siangnya kami pergi ke sekolah itu, dan melihat memang benar satu orang ibu guru yang mengajar untuk enam kelas,” ujar Yusuf.

Kekurangan tenaga kerja sebagai guru diakuinya karena desa ini masih daerah pedalaman yang sulit dijangkau. Untuk mencapai Desa Tengue, memakan waktu delapan jam perjalanan dari ibukota Kabupaten Landak, Ngabang. Sebenarnya, di sana terdapat SD Negeri. Namun jaraknya sangat jauh dari Dusun Bacang.

Sementara itu, Kepala Dusun Bacang, Roni Setiawan menceritakan, Hasnia mengajar dari rumah ke rumah sejak 2007. Kemudian pada 2011 diusulkan pembangunan SD melalui PNPM Mandiri.

Advertisement