
PARA pemain, pelatih dan seluruh pecinta sepak bola di tanah air, bagaikan “seteguk air yang sudah di bibir”, dengan harap-harap cemas menanti regukan kemenangan Timnas Indonesia U-22 melawan kesebelasan Thailand, di Phnom Penh, malam ini (16/5).
Betapa tidak. Kesebelasan Indonesia, hanya mampu menorehkan gelar juara di ajang SEA Games 1987 dan terakhir 1991 atau tepatnya 32 tahun lalu.
Selebihnya, dunia persepakbolaan Indonesia hanya diramaikan dengan isu sengketa antara pengurusnya, lalu “dibanned” oleh FIFA pda 2015 akibat konflik antara pengurus PSSI dengan Menpora, Imam Nachrowi.
Dalam SEA Games di Phnom Penh 2023 saat ini, asa para pemain, pelatih dan komunitas sepak bola di tanah air kembali menggumpal, menanti hasil pertandingan final malam mini (16/05).
Timnas Indonesia U-22 tampil sempurna dalam babak fase grup di Grup A, membantai semua lawan-lawannya, mulai dari Filipina (3 – 0, Myanmar (5 – 0), Timor Leste (3- 0) dan tim tuan rumah (2 – 1).
Di semi final, superioritas pasukan Garuda Muda juga tidak bisa dibendung oleh tim Bintang Emas Vietnam, dalam laga dramatis, keras, panas dan adu taktik, dengan kemenangan 3 – 2 untuk lolos ke final, berhadapan dengan tim Gajah Perang Thailand.
Tak pelak lagi, timnas Indonesia U-20 menjadi yang paling produktif sejak awal fase grup sampai semi final, dengan melesakkan seluruhnya 16 gol dan hanya kemasukan tiga gol.
Namun menghadapi Thailand di final malam mini, tentu banyak faktor untuk bisa menjadi juara, selain kepiawaian, ketangkasan dan kebugaran serta kemaangan mental para pemain, taktik jeli yang diterapkan pelatih Indra Shafri, dukungan penonton dan, last but not least, tergantung dewi fortuna atau keberuntungan.
Tim Gajah Perang, Raja Asia Tenggara
Tim Gajah Perang Thailand yang bakal dihadapi Garuda Muda, bukanlah kaleng-kaleng tetapi raja sepak bola di kawasan Asia Tenggara yang menjuarai 16 kali SEA Games sejak bernama SEAP Games pada 1959.
Skuad Thailand di fase penyisihan Grup B SEA Games 2023 juga tampil prima dengan mengalahkan seluruh lawannya yakni Singapura (3 – 1), Malaysia (2 – 0), Laos (4 – 1) dan Vietnam (1 – 1), dan di semi final menaklukkan perlawanan Myanmar dengan 3 – 0.
Dibesut pelatih asal Jepang Issara Shitaro, timnas Thailand U-22 diperkuat oleh dua pemain Yang merumput di Liga Eropa yakni Cayapith Supunpach di Akademi Braga dan Estoril, Liga Portugal dan Achiptol Keererom yang bermain di klub Jerman Nettenburg dan TSV 1860 Rosenheim.
Pertandingan sepak bola adalah bagian olah raga yang mengedepankan persaingan secara fair dan sportif, dan pemenangnya, selain yang terbaik, tentu juga tergantung garis tangan.
Ayo siap-siap untuk menerima yang terburuk, walau kita semua tentu berharap yang terbaik yakni Garuda Muda tampil sebagai kampiun sepak bola di SEA Games 2023 yang telah didambakan selama 32 tahun.




