SEMARANG – Di tengah derasnya budaya modern yang datang ke tanah air, masih ada beberapa sanggar budaya yang masih menaruh harapannya kepada anak-anak muda dalam hal mempertahankan kesenian tradisional.
Sanggar budaya Sobokartti, yang merupakan sanggar tertua di Semarang masih memberikan ruang kepada anak-anak muda.
Kepala seksi Sanggar Sobokartti, Darmadi menjelaskan beberapa cara yang dilakukan Sobokartti dalam menggaet anak-anak muda untuk semakin memperdalam kesenian tradisional.
Berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa Jawa Tengah, sanggar Sobokartti yang mulai berdiri sejak 13 Maret 1920 ini terus berupaya mewariskan kesenian tradisonal agar tidak mudah punah.
“Pertama kami tidak membebankan iuran yang berat kepada anak muda, karena sudah ada bantuan juga dari Dompet Dhuafa untuk insentif pelatihnya,” ucap Darmadi kepada awak media di acara press tour Dolan Nang Semarang, Selasa (30/5/2023).
Kedua, lanjut Darmadi, Sobokartti sering juga mengadakan pelatihan di luar, karena setiap minggunya memfokuskan pelatihan semua kelas dari usia 4 – 60 thn.
“Kita belajar di luar ada pendopo jadi bisa dilihat masyarakat disana,” sambungnya.
Peran media sosial seperti instagram, youtube, facebook, juga kita gunakan untuk info-info tentang kepelatihan dan berbagai kegiatan yang sudah diikuti.
Ditambahkan juga setiap siswa wajib menguasi sebuah tarian dan itu makin membuat semangat para pelatih Sobokartti karena tentunya juga jadi banyak yang ikut latihan bersama kami.
Pimcab Dompet Dhuafa Jawa Tengah, Zaini Tafrikhan menerangkan untuk bantuan yang diberikan sudah dari akhir 2022 lalu, kemudian kalau berdampak positif untuk Sabokartti atau budaya Jateng keseluruhan akan terus kita lanjutkan.
‘Ini merupakan pilot project pertama disini tapi setiap tahunnya kita juga supprot selalu,” ucap Zaini.
Salah satu pelatih kawrawitan yang ditemui, Slamet Riyanto mengucapkan terimakasih kepada Dompet Dhuafa karena pelatih pun menjadi semangat dalam mengajar.
“Kita berterimakasih kepada Dompet Dhuafa karena sudah dibantu untuk insentif kepada para pengajar seni disini, dan untuk karawitan dulu ada 30 murid kemudian sekarang jadi 90an murid, ada grup dari mahasiswa, sd sampai sma, jadi semakin banyak,” tutup Slamet.





