
DENGAN pemahaman, perubahan iklim merupakan persoalan bersama umat manusia, Indonesia aktif menggalang kemitraan dan kolaborasi dengan negara-negara lain untuk menghadapinya bersama-sama.
Hal itu tercermin dari Forum Negara Kepulauan dan Pulau (Archipelagic and Island States Forum – AIS) yang digelar di Nusa Dua, Bali, sejak Rabu (11/10) dihadiri oleh kepala pemerintahan atau perwakilan negara-negara anggotanya.
Wakil-wakil ke-32 negara anggota Forum AIS yang hadir menandatangani deklarasi a.l. memuat tekad untuk meningkatkan kerja sama menghadapi ancaman perubahan ikalim termasuk naiknya permukaan air laut.
Mereka menyatakan sepakat berkolaborasi dalam kerangka Forum AIS sesuai prinsip-prinsip kesetaraan, solidaritas, resolusi damai serta penghormatan atas kedauatan dan integritas teritorial.
Presiden Joko Widodo dalam temu media usai membuka forum tersebut mengajak seluruh peserta bersama-sama berkolaborasi menghadap isu perubahan iklim di tengah dunia yang berubah saat ini.
“Laut adalah sumber kehidupan. Bagi Indonesia, laut bukan pemisah tapi perekat dan penghubung, “ ujarnya di Forum AIS yang dibentuk di New York, 1 Nov. 2018 itu.
Ancam Kehidupan di Fiji
Ancaman kenaikan permukaan dan suhu air laut terhadap kehidupan warga disampaikan oleh Wakil PM Fiji, Manoa Seru Nakausabaria Kamikamica yang menyebutkan (Kompas, 11/10), 46 desa di negerinya terancam direlokasi akibat kenaikan permukaan laut.
“Dampak perubahan iklim sangat nyata. Ini mengancam kehidupan kami, “tandasnya.
Ia juga mengonfirmasi data dari PBB yang menyebutkan, 924.000 penduduk Fiji atau 75 persen rawan terdampak bencana akibat perubahan iklim, tremasuk kenaikan permukaan laut.
Sementara Program Pengamatan Bumi dan Antariksa Uni Eropa Copernicus merilis pernyataaan ynag menyebutkan tahun ini (2023) adalah terpanas.
Suhu global sepajang Januari sampai September lebih tinggi 1,4 derajat Celsius disbanding rata-rata suhu di era pra-industri (1850 – 1900).
Kenaikan suhu tahun ini sebesar 0,2 derajat Celsius dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan rekor kenaikan suhu tertinggi terjadi pada tahun 2016 dan 2020 saat suhu rata-rata lebih tinggi 1,25 deraja Celsius yang berdampak pada kenaikan permukaan laut.
Sedangkan data dari Badan atmosfir dan Kelautan Nasional AS (NOAA) antara 1900 – 1990 mencatat kenaikan permukaan laut global antara empat dan lima inci, 1990 – 2015 tiga inci dan pada 2100 diperkirakan naik satu hingga delapan kaki (30,48 cm – 240 cm).
Sebelumnya, Jakarta juga menjadi tuan rumah Konferensi Agama dan Perubahan Iklin Asia Tenggara (CORECS) yang digelar Majelis Hukama Muslimin (MHM) pada 5 Okt. Lalu yang dihadiri 150 tokoh-tokoh lintas agama dan aliran kepercayaan sekawasan.
Konferensi yang dihadiri 150 peserta dari berbagai agama di Asia Tenggara dan melibatkan cendekiawan, akademisi dan kelompok pegiat peduli perubahan iklim, hasilnya akan dibawa ke Konferensi Perubahan Iklim PBB di Dubai, 30 November – 12 Desember .
Perubahan iklim adalah persoalan kita semua warga dunia, apa pun latar belakang dan profesinya. Yuk cawe-cawe merembuk dan mengatasinya!




