FENOMENA El Nino yang tiba bersama dengan musim kemarau saat ini menyebabkan kekeringan areal tanaman padi di sejumlah wilayah yang pada gilirannya menyebabkan anjloknya produktivitas tanaman.
“El Nino berdampak besar pada produksi padi sehingga juga berdampak pada ketersediaan beras secara nasional, “ kata Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arif Prasetyo di Jakarta (11/10).
Sejumlah lahan sawah di sentra-sentra produksi daerah seperti Jawa dan Lampung, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat, menurut Arif, mengalami curah hujan rendah atau terjadi kekeringan.
Hal itu sejalan dengan penelitian Litbang Kompas yag dilakukan melalui permodelan regresi data panel dengan mengombinasikan data runtut empat tahunan sepanjang 2000- 2022 dan cross section di 34 provinsi yang berdampak pada produksi padi.
Analisis tersebut menggunakan enam variabel yang memiliki pengaruh kuat terhadap produksi padi yakni luas lahan, tenaga kerja, pupuk, nilai tukar petani, curah hujan dan uhu udara.
Hasil analisis tersebut menemukan variabel terkait iklim seperti suhu udara dan curah hujan yang berdampak signifkan terhadap produksi padi, bahkan menjadi ancaman serius pada produksi tanaman pangan lainnya.
Hasil regresi data panel menunjukkan variabel suhu udara memiliki koefisien sebesar 4,572829 atau berarti setiap kenaikan satu derajat Celsius suhu udara setahun akan menurunkan produksi padi sebanyak 4.500 ton di Indonesia.
Variabel iklim lainnya yang berdampak signifikan positif adalah curah hujan yang setiap naik satu mm per tahun di tiap provinsi di Indonesia akan menaikkan produksi padi sebanyak 42 ton.
Selain berkolaborasi dengan negara-negara lain untuk mencegah pemanasan global, berbagai cara harus dimanfaatkan untuk menjaga agar volume padi yang diproduksi mencukupi konsumsi beras penduduk.
Selain faktor iklim, perluasan sawah terutama di luar Jawa yang lahannya masih tersedia, mencegah konversi lahan pertanian bagi peruntukan lain di Jawa (pembangunan jalan, rumah, industri etc.), peningkatan poduktivitas tanaman (dengan varietas unggul) dan mengurangi konsumsi beras (diversifikasi pangan) perlu dilakukan.





