BEIRUT – Pemimpin Israel, Benjamin Netanyahu, meminta PBB untuk menarik misi penjaga perdamaian dari Lebanon selatan di tengah serangan darat Israel di daerah tersebut.
Dalam pesannya kepada Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, Netanyahu menyatakan bahwa sudah waktunya untuk menarik UNIFIL dari wilayah yang dikuasai Hizbullah dan zona konflik.
Ia menuduh bahwa Hizbullah menggunakan UNIFIL sebagai tameng manusia dan menyebutkan bahwa angkatan bersenjata Israel (IDF) telah beberapa kali meminta hal ini, tetapi ditolak.
“Tuan Sekretaris Jenderal, singkirkan pasukan UNIFIL dari bahaya. Itu harus dilakukan sekarang, segera,” kata pemimpin Israel itu, Minggu (13/10/2024).
Netanyahu juga menyebutkan insiden di mana dua penjaga perdamaian terluka akibat serangan Israel pada pos pengamatan PBB di Lebanon selatan dan peluru artileri yang menghantam pusat komando UNIFIL di Naqoura.
Meskipun Netanyahu menyatakan penyesalan atas cedera yang dialami penjaga perdamaian, ia menegaskan bahwa langkah terbaik untuk melindungi mereka adalah mengevakuasi pasukan UNIFIL dari zona bahaya.
“Penolakan Anda untuk mengevakuasi tentara UNIFILÂ akan menjadikan mereka sandera Hizbullah. Ini membahayakan mereka dan nyawa tentara kami,” kata Netanyahu.
UNIFIL, yang dibentuk pada 1978, memiliki tujuan awal untuk memverifikasi penarikan pasukan Israel dari Lebanon dan membantu pemerintah Lebanon mengembalikan otoritasnya di wilayah tersebut.
Mandatnya telah diperluas seiring berjalannya waktu, khususnya setelah perang Israel pada 2006, untuk memantau gencatan senjata dan mendukung bantuan kemanusiaan.
Sejak 23 September, Israel melakukan serangan udara besar-besaran di Lebanon, menargetkan kelompok Hizbullah, yang telah menyebabkan lebih dari 1.437 orang tewas, 4.123 terluka, dan lebih dari 1,34 juta orang mengungsi.
Serangan ini merupakan eskalasi dari konflik lintas batas antara Israel dan Hizbullah yang dimulai sejak serangan Israel di Jalur Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 42.200 orang sejak serangan Hamas tahun lalu.
Pada 1 Oktober, Israel memperluas konflik ini dengan melancarkan serangan darat di Lebanon selatan, meskipun ada peringatan internasional bahwa kawasan Timur Tengah berada di ambang perang regional.




