
Presiden Suriah Bashar Al Assad dilaporkan melarikan diri setelah aliansi pemberontak dipimpin lasykar Hayat tahrir al-Sham (HTS) memasuki Ibu Kota Damaskus pada Minggu (8/12).
Pemerintah Suriah belum mengonfirmasi kepergian Assad, tetapi menurut badan pemantau perang Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) mengutip laporan Reuters, ia bersama keluarga besarnya kabur ke luar negeri, namun belum jelas tujuannya.
Sekitar 90 persen wilayah Kota Daraa di Suriah yang berbatasan dengan Yordania  kini dikuasai pasukan pemberontak. Sebelumnya, kota kedua terbesar, Aleppo, Hama dan sejumlah kota besar sudah dalam kendalai mereka dalam beberapa hari terakhir ini.
Pasukan pemberontak dilaporkan memasuki Damaskus pada Minggu dini hari, merebut kantor pusat televisi dan radio negara untuk menyiarkan akhir rezim Assad.
Mereka juga membebaskan semua tahanan di Penjara Sednaya dekat ibu kota, sementara kekacauan terjadi di Bandara Damaskus saat warga berusaha melarikan diri dari serangan pemberontak.
Kaburnya Assad terjadi kurang dari dua minggu setelah koalisi pasukan pemberontak melancarkan serangan mendadak pada akhir November, merebut kota-kota besar di seluruh Suriah.
Sebelum serangan mendadak itu, perang saudara Suriah nyaris terlupakan selama hampir satu dekade.
Pasukan oposisi dilaporkan mengepung Damaskus sepanjang hari Sabtu, Â Desember, merangsek masuk dari permukiman di Maadamiyah, Jaramana, dan Daraya.
Pemberontak pada hari itu juga merebut kota strategis Homs, sehingga Assad tidak dapat menjangkau pantai Mediterania dan pangkalan militer utama Rusia.
Kini serangan makin meluas dan Rusia sebagai salah satu sekutu utama Assad berjanji terus membantu Pemerintah Suriah. “Moskwa melakukan segala upaya untuk tidak membiarkan teroris menang, “kata Menlu  Rusia Sergey Lavrov, Sabtu (7/12).
Meskipun mengucapkan jaminan tersebut, Lavrov mengaku tak bisa menebak apa yang akan terjadi di Suriah. Pasukan Rusia menargetkan kota-kota di Suriah dengan serangan udara dalam seminggu terakhir untuk memukul mundur pemberontak.
Namun, dukungan militer untuk Assad kini dilaporkan terbatas karena Rusia juga sedang berperang di Ukraina. Citra satelit menunjukkan, Rusia menarik semua kapal dari Pangkalan Angkatan Laut Tartus, satu-satunya pangkalan AL Moskwa di Mediterania.
Rusia memberikan bantuan militer ke Suriah sejak 2015 dengan mengerahkan pesawat tempur, tank, artileri, dan pasukan darat guna mendukung rezim Assad. Bantuan militer Rusia berkontribusi besar membuat pasukan Assad mampu merebut Aleppo pada 2016.
Aliansi baru para pemberontak dipimpin HTS melancarkan serangan terbesar dalam beberapa tahun terakhir terhadap pemerintah Suriah dan empat hari kemudian atau hari Minggu, mereka sudah menguasai sebagian besar wilayah kota terbesar kedua negara itu, Aleppo, dan terus merangsek maju menuju Hama di selatan.
Serangan mendadak para pemberontak itu memicu serangan udara Rusia pertama di Aleppo sejak tahun 2016. Rusia merupakan sekutu Presiden Suriah, Bashar al-Assad. Aliansi para pemberontak itu terdiri dari sejumlah kekuatan oposisi dengan beragam ideologi, mulai dari yang berhaluan ekstrem hingga moderat.
Sejarah panjang konflik Suriah
Pemimpin utama serangan adalah kelompok HTS yang memiliki sejarah panjang dalam konflik Suriah yang ditetapkan oleh AS dan PBB sebagai organisasi teroris.
HTS awalnya didirikan dengan nama berbeda, yaitu Jabhat al-Nusra. Kelompok itu didirikan tahun 2011 sebagai afiliasi langsung dari Al Qaeda. Pemimpin kelompok Negara Islam (ISIS), Abu Bakr al-Baghdadi, terlibat dalam pembentukan kelompok tersebut.
Kelompok HTS tampil sebagai salah satu yang paling efektif dan mematikan dalam melawan rezim Presiden Assad.
Namun, ideologi yang ekstrem tampaknya menjadi pendorong utama kelompok itu ketimbang semangat revolusioner — dan saat itu dianggap bertentangan dengan koalisi utama pemberontak Suriah di bawah panji Free Syria.
Jatuhnya pemerintahan rezim Bashar al-Assad (2000- 2024) sebagai penerus rezim otoriter yang diwariskan ayahnya, Hafez  al-Assad selama tiga dekade hingga kematiannya (1971 – 2000) sekaligus mengakhiri dinasti Assad di panggung politik Suriah.




