JAKARTA, KBKNews.id – Indonesia sedang menghadapi tantangan serius dengan meningkatnya angka bunuh diri dalam beberapa tahun terakhir. Data dari Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri menunjukkan bahwa hingga Oktober 2024, tercatat 1.023 kasus bunuh diri. Angka ini naik dibandingkan periode yang sama pada 2023 yang mencatat 971 kasus.
Peningkatan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks, seperti kemiskinan, tekanan sosial, gangguan depresi, hingga stigma terhadap kesehatan mental.
Psikolog klinis dari Universitas Syiah Kuala, Zahrani, memperingatkan bahwa cara media memberitakan kasus bunuh diri justru dapat berdampak besar.
Ia menjelaskan bahwa pemberitaan yang tidak sensitif bisa memicu meningkatnya kasus baru, fenomena yang dikenal sebagai efek Werther.
“Ada penelitian yang menyebutkan bahwa pemberitaan bunuh diri yang dilakukan terus-menerus itu justru semakin meningkatkan jumlah angka bunuh diri di daerah atau negara tertentu,” kata Zahrani dilansir dari Antara, Jumat (18/4/2025).
Istilah ini berasal dari novel “The Sorrows of Young Werther” karya Johann Wolfgang von Goethe, yang menggambarkan bagaimana pemberitaan yang mendramatisasi atau meromantisasi bunuh diri dapat mendorong orang lain untuk melakukan hal serupa, terutama mereka yang sudah memiliki kecenderungan.
Menurut Zahrani, ketika media mengungkapkan detail seperti cara bunuh diri, lokasi, atau isi catatan terakhir korban, hal itu bisa mendorong individu yang sebelumnya hanya memiliki niat, untuk benar-benar melakukan tindakan tersebut.
“Awalnya dia hanya punya ide saja, tetapi tidak punya keberanian. Terus ketika dia baca berita seperti itu, maka terdorong untuk melakukan karena dia merasa bahwa dia tidak sendirian. Ada juga, nih, orang yang melakukan suicide,” tuturnya.
Zahrani mengingatkan bahwa jurnalis perlu bijak dalam melaporkan peristiwa bunuh diri. Terlebih, dalam penelitian yang ia lakukan terhadap 407 mahasiswa di Banda Aceh, hasilnya terdapat sebanyak 80 orang mengaku memiliki ide bunuh diri, sementara empat di antaranya telah memiliki ide yang serius karena sudah memikirkan metode dan rencana.
“Nah, karenanya perlu berhati-hati dalam memberitakan, jangan sampai menginspirasi,” katanya.
Zahrani menekankan bahwa jurnalis perlu bersikap bijak dan fokus pada aspek solutif, seperti mendorong orang untuk mencari bantuan, mengenali tanda-tanda risiko, dan menyediakan informasi tentang layanan psikologis.
“Yang paling penting ketika melaporkan suicide itu adalah support apa yang bisa dilakukan, atau apa yang harus dilakukan bagi orang yang punya suicide ideation,” pungkasnya.





