
JAKARTA, KBKNews.id – Dompet Dhuafa mengkampanyekan Muliakan Yatim selama Muharram 1447 Hijriah. Pemeliharaan anak yatim merupakan salah satu program prioritas Dompet Dhuafa.
Beberapa penerima manfaat dari program untuk anak yatim yakni Arwan Priyanto Pamungkas dan Muhammad Farizki. Keduanya merupakan siswa berprestasi di SMART Ekselensia yang dikelola Dompet Dhuafa.
Arwan yang duduk di kelas XI ini sudah lima tahun bersekolah di SMART Ekselensia. Dia bersyukur mendapat beasiswa sehingga bisa meringankan beban finansial orang tua.
Pemuda berkacamata ini mengaku awalnya bergabung dengan SMART Ekselensia usai mendapat info dari guru kelas 6 SD.
“Jadi waktu lulus kelas 6 SD, saya kan siswa dengan prestasi akademik tinggi. Saya menyabet peringkat satu dalam satu angkatan. Wali kelas saya melihat saya berpotensi,” katanya dalam kampanye Muliakan Yatim di Gedung Philantrophy, Jakarta, Senin (14/7/2025).
Arwan yang bercita-cita sebagai dokter ini sukses mengikuti seleksi hingga akhirnya lulus. Namun, dia sempat ragu karena harus mengikuti asrama.
“Waktu itu sempet sedih karena bakal asrama. Cuma kata ibu ‘nggak apa-apa. Kalau mau sukses harus jauh dari orang tua’,” ujarnya.
Beberapa saat setelah bergabung di SMART Ekselensia, dia menerima kabar buruk. Dia menerima kabar ayahnya meninggal dunia.
“Saya masuk Juni, Agustus ayah meninggal. Pas 17 Agustus (2020)…Saya minta izin pulang tapi tak boleh karena Covid-19,” katanya.
Beruntungnya, Arwan berada di lingkungan yang sangat kondusif. Teman-temannya memotivasi Arwan untuk tetap semangat dan terus bertumbuh bersama SMART Ekselensia.
“Di SMART Ekselensia, saya awalnya malu, sampai sekarang bisa berubah. Saya belajar sikap kepemimpinan, sikap mengatur waktu,” katanya.
Berbeda dengan Arwan, Farizki yang masih kelas X di SMART Ekselensia sudah ditinggal kedua orang tua sejak kecil. Ibunya meniggal saat dia berusia 2 tahun. Sedangkan sang ayah meninggal saat dia berusia 10 tahun.
“Tapi alhamdulillah kakak saya, nenek saya dan saudara mendukung saya,” ujarnya.
Dia yang bercita-cita menjadi astronom ini selalu bekerja keras dan belajar. Dia ingin mengangkat derajat keluarganya dengan prestasi.
“Saya punya mimpi menjadi ahli astronomi. Saya biasanya belajar nyisihin waktu, saya ambil beberapa waktu sebelum tidur untuk belajar,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Republika Ahmad Juwaini menjelaskan program untuk anak yatim menjadi program yang mendapat banyak perhatian dari donatur.
“Saat disurvei, program anak yatim menempati peringkat kedua,” katanya.

Menurut data 2022, jumlah anak yatim di Indonesia sekitar 4 juta orang. Mereka membutuhkan pendampingan agar bisa mandiri dan tidak kehilangan kasih sayang.
“Bangsa ini perlu perhatian kepada anak yatim. Karena jika tidak mendapatkan treatment yang memadai. Tentu mereka akan mengalami kesulitan, mencapai kemandiria dan bersosialiasi dengan orang,” jelasnya.
Dompet Dhuafa bekerja sama dengan Gramedia untuk program Muliakan Yatim: Bantu 10.000 Anak Raih Cita. Gramedia mengajak pelanggan untuk berbelanja dan sebagian hasil keuntungan akan disalurkan kepada anak yatim melalui Dompet Dhuafa.




