Terungkap, Kak Seto Pernah Rasakan Pahitnya Jadi Yatim

Seto Mulyadi (Kak Seto) (Foto: Muhammad Fida)

JAKARTA, KBKNews.id – Pemerhati anak Prof Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto menceritakan pengalamannya menjadi anak yatim. Dia bisa merasakan getirnya perjuangan anak-anak yang ditinggalkan orang tua untuk selamanya.

Kak Seto awalnya menjelaskan pentingnya peran berbagai pihak untuk memelihara anak yatim. Perlu kerja keras dan kepedulian tinggi agar anak yatim bisa tumbuh dengan baik.

“Mereka kalau mendapatkan lingkungan kondisif, itu akan berkembang. Saya umur 14 tahun juga yatim. Tapi karena banyak diberikan perhatian, saya percaya diri dan bisa survive juga,” kata Kak Seto dalam program Muliakan Yatim Dompet Dhuafa di Jakarta, Senin (14/7/2025).

Kak Seto menyebut banyak anak yatim yang berada di panti asuhan tapi hanya menerima bantuan finansial. Menurutnya, hal itu tidak cukup.

“Bukan hanya dananya tapi juga kehadirannya. Mereka butuh cinta di dalam kehidupannya. Selalu harus ditekankan semua anak pada dasarnya cerdas,” jelasnya.

Pria berusia 73 tahun ini juga mengingatkan semua anak mempunyai potensi berbeda. Potensi tersebut harus dipeliharan dan dikembangkan agar anak tumbuh optimal.

“Hargailah semua potensi mereka. Jadi mereka tumbuh dan berkembang dengan potensinya masing-masing,” katanya.

Pengalaman menjadi yatim saat remaja cukup mengguncangnya. Namun, dia mendapat dukungan dari lingkungan sehingga bisa tetap bersikap positif.

“Jadi pengalaman saya waktu remaja, saya sebagai anak jalanan, sekolah di SMA. Kalau habis istirahat makan sisa milik teman. Tapi temen-temen saat itu, bisa memberikan semangat. Tunjukkan sisi positif, anak kalo dilatih positive thinking, maka dia akan tumbuh dan berkembang secara optimal lagi,” ujarnya.

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here