Perang di Timteng, Harga Pupuk Melonjak

Perang di Timur Tengah juga mengancam ketahanan pangan terutama negara-negara miskin akibat tersedatnya pasokan pupuk urea akibat penutupan Selat Hormuz (foto: istimewa)

PERANG berkepanjangan Iran melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel tak hanya menyengsarakan rakyat Iran, Israel dan Lebanon serta negara tetangganya, juga mendistorsi perekonomian global.

Terganggunya distribusi terutama minyak mentah dan pupuk yang melalui Selat Hormuz, seperti dilaporkan Deutsche Welle,  membuat kapal tanker  berhenti beroperasi dan juga menimbulkan efek domino bagi pasokan pupuk dunia.

Selain jalur pelayaran seperlima tanker pengangkut minyak mentah global, lintasan pelayaran separuh urea, pupuk berbasis nitrogen- yang diperdagangkan di dunia, berasal dari kawasan Teluk dan dari kawasan yang sama juga diproduksi sekitar seperlima pasokan gas alam cair dunia (LNG).

“Ini benar-benar  hanya satu langkah lagi menuju skenario terburuk,” kata Josh Linville, analis pasar pupuk global dari perusahaan komoditas StoneX, kepada DW.

Ancaman gagal panen global akibat serangan AS-Israel ke Iran sudah di depan mata. “Qatar hingga Bangladesh sudah mulai menghentikan produksi urea. Apa yang akan terjadi selanjutnya sangat bergantung pada seberapa cepat Selat Hormuz kembali dibuka setelah kesepakatan gencatan senjata dua minggu tercapai, “ ujarya.

Linville menyebutkan, kekurangan bahan bakar dan masalah pupuk yang terjadi bersamaan, bakal melonjakkan harga pangan sehingga negara termiskin di dunia akan paling merasakan dampaknya.

Sementara itu, pemerintah dan petani dihadapkan pada pilihan sulit untuk beradaptasi.

Kendalikan demand and supply

Sementara itu, solusi tercepat, menurut Linville, jika negara-negara di seluruh dunia dapat menggunakan kebijakan pasar untuk mengendalikan demand dan supply.

India yang memiliki cadangan beras dan gandum yang cukup besar misalnya, bisa memanfaatkannya jika pasokan menurun, sedangkan China, sebagai produsen pupuk terbesar di dunia, menyimpan cadangan pupuk dalam jumlah sangat besar.

Ketika harga pupuk naik, beberapa pemerintah juga mampu menanggung biaya tersebut sehingga tidak seluruhnya dibebankan kepada petani.

Saat Rusia pertama kali menginvasi Ukraina pada 2022 dan memicu guncangan besar pasokan pupuk, India menaikkan subsidi pupuknya hingga 233 persen di atas anggaran awal.

Banyak negara juga dapat membatasi perdagangan untuk memprioritaskan kebutuhan domestik, seperti yang

beberapa kali dilakukan China sejak 2021.

Masalahnya, banyak opsi ini bersifat “zero sum”. Ketika negara seperti China menimbun pupuk atau memilih tidak mengekspor,memang membantu produsen dalam negeri, tetapi merugikan petani di negara lain.

Selain itu, opsi semacam itu  umumnya hanya bisa dilakukan oleh negara kaya. India mampu memberikan subsidi pupuk, tetapi negara tetangganya seperti Bangladesh, Nepal, dan Sri Lanka kemungkinan besar tidak mampu.

Pemerintah Indonesia sendiri sudah melakukan sejumlah kebijakan untuk menjaga ketahanan pangan nasional, jauh hari sebelum pecah perang, walau efektivitasnya perlu terus diawasi.

Pemerintah Indonesia mengambil serangkaian langkah strategis dan pro-rakyat untuk mengatasi lonjakan harga pupuk, terutama untuk melindungi petani dan menjaga ketahanan pangan nasional.

Kebijakan yang diambil a.l. penurunan HET pupuk subsidi,  sebesar 20 persen mulai 22 Okt., 2025,lalu melalui efisiensi dan optimalisasi anggaran pemerintah.

Amankan pasokan dari hulu

Untuk mengamankan pasokan dari hulu, Pupuk Indonesia Holding Company melakukan kerja sama strategis dengan negara produsen (contoh: Aljazair).

Indonesia juga berencana membangun industri bahan baku di luar negeri untuk menguasai hulu pasokan, sehingga tidak mudah didikte oleh fluktuasi harga global.

Pemerintah juga merombak tata kelola dan distribusi pupuk bersubsidi agar lebih tepat sasaran, cepat sampai ke petani, dan memangkas inefisiensi di jalur distribusi.

Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KPPP) juga memperketat pengawasan untuk mencegah penyalahgunaan pupuk bersubsidi.

Selain berusaha menekan kendala dalam negeri, tentunya yang diharapkan, agar perang segera selesai dan para pihak bertikai melanjutkan langkah menuju perdamaian. (DW/ns/berbagai sumber)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here