DPR Desak Kemenkes Usut Tuntas Kematian dr. Myta

DPR minta kematian dr internship (magang) Myta Aprilia Azmy di RS Daud Arif, Kuala Tngkal, Jambi Jumat pekan lalu (1/5) diduga akibat dipaksa pihak RS kerja dari pkul 08.00 sampai pukul 23:00 diusut tuntas. (ilustrasi: instagram)

WAKIL Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini mendesak Kementerian Kesehatan melakukan investigasi menyeluruh atas kematian dokter magang (internsip) Myta Aprilia Azmy di RS Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi.

Kemenkes seperti dilaporkan kompas.com (4/5) diminta segera melakukan audit investigasi untuk mengungkap penyebab pasti kematian korban. Sebab, adanya dugaan korban tetap dipaksa bekerja meski dalam kondisi sakit.

“Pertama, Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya dr. Myta Aprilia Azmy dokter internship di Jambi, yang meninggal sewaktu menjalankan tugas,” ujar Yahya, saat dihubungi, Senin (4/5).

“Kedua, meminta Kemenkes melakukan audit investigasi atas kasus tersebut, untuk mengetahui penyebab kematian dari yang bersangkutan,” sambung dia.
Politikus Golkar itu juga mendesak agar hasil investigasi dibuka ke publik dan tidak ada informasi yang ditutup-tutupi.

Menurut Yahya, masyarakat berhak mendapatkan akses luas terhadap hasil audit yang dilakukan pemerintah.

“Karena informasinya yang bersangkutan sudah menderita sakit tetapi dipaksa untuk tetap praktik. Diduga yang bersangkutan mengalami kelelahan,” ujar Yahya.

Jika ditemukan adanya kesalahan atau kelalaian, Yahya meminta agar pihak yang bertanggung jawab diberikan sanksi tegas. Dia mendesak agar kasus ini dibawa ke ranah hukum jika terdapat indikasi pidana.

“Beri sanksi yang tegas kepada pihak-pihak yang terbukti terlibat melakukan kesalahan atas musibah tersebut,” ucap dia.

“Jika terdapat indikasi pidana akibat kelalaian sehingga menyebabkan kematian segera diproses secara hukum,” kata dia.

Komisi IX juga mendorong adanya evaluasi sistem dalam program internship dokter. Salah satunya dengan memastikan kondisi kesehatan peserta sebelum ditempatkan di lokasi tugas.

“Mendesak Kemenkes melakukan medical check-up terhadap dokter peserta internship sebelum mereka ditugaskan, untuk memastikanbenar-benar sehat,” pungkas dia.

Sementara itu Keluarga almarhumah dr. Myta menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (IKA FK Unsri) untuk mendorong investigasi atas wafatnya dokter muda itu dan berharap agar hasil penyelidikan dapat menjadi bahan evaluasi menyeluruh terhadap sistem kerja dokter internship di Indonesia.
Perwakilan keluarga, dr. Pebri Mahardika, menegaskan bahwa pihak keluarga menginginkan kejelasan terkait penyebab menurunnya kondisi kesehatan dr. Myta selama menjalani tugas di Kuala Tungkal, Jambi.

“Kami mendukung upaya investigasi IKA FK Unsri. Harapannya, kasus ini menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan sistem kerja dokter internship ke depan agar jangan sampai ada ‘Myta’ kedua,” ujar dr. Pebri saat ditemui di Muaradua, Sabtu (2/5)

Pebri menggambarkan almarhumah sebagai sosok harapan besar orang tuanya, Khadriatul Azmi dan Okta Yusri, SKM., M.M, yang saat ini menjabat Kepala Puskesmas Mekakau Ilir, OKU Selatan.

Menurutnya, dr. Myta hampir menyelesaikan program internship yang dijalaninya di Kabupaten Kuala Tungkal, Provinsi Jambi selama hampir setahun dan akan berakhir Agustus 2026.
“Almarhumah adalah tumpuan keluarga. Sebentar lagi seharusnya menyelesaikan program internship dan menjadi dokter umum sepenuhnya,” ungkapnya dengan nada haru.

Keluarga menjelaskan bahwa sebelum meninggal dunia, dr. Myta sempat menjalani perawatan di Kuala Tungkal dan dirujuk ke rumah sakit di Provinsi Jambi.
Kondisinya sempat menunjukkan perbaikan, namun belum ada kejelasan terkait rekomendasi perawatan lanjutan.

Setelah kembali ke Palembang, kondisi kesehatannya justru menurun. Ia kemudian dirawat intensif di ruang ICU RSUP Dr. Mohammad Hoesin (RSMH) selama sekitar tiga hari sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia, Jumat (1/5) pukul 11.20 WIB.

Investigasi menyeluruh
Keluarga juga menilai penting dilakukannya investigasi menyeluruh terkait penanganan medis yang diberikan termasuk alur rujukan dan tindak lanjut pengobatan.

Keluarga besar almarhumah berharap investigasi yang dilakukan dapat mengungkap fakta secara transparan dan menyeluruh dan peristiw ini harus jadi momentum penting untuk memperbaiki sistem pendidikan dan kerja dokter internship.

Dr. Pebri menegaskan bahwa kepergian dr. Myta merupakan kehilangan besar bagi keluarga.

“Kami masih dalam duka yang sangat mendalam. Myta ini adalah harapan keluarga, tumpuan bagi orang tuanya. Apalagi sebentar lagi ia akan menyelesaikan program internship,” ujarnya dengan suara tertahan.

Ia juga menekankan, perlindungan terhadap dokter internship harus menjadi perhatian utama, termasuk memastikan kondisi kerja yang manusiawi dan aman.

Menurut laporan, dr Myta bertugas mulai pukul 08:00 pagi hingga pukul 23:00 malam sebelum jatuh sakit kemudian nyawanya tak tertolong lagi. Keluhan terkait beratnya beban kerjanya juga disampaikan almarhumah menjelang akihir hayatnya.

Jangan sampai, tenaga dokter yang sudah melampaui seleksi ketat saat seleksi di perguruan tinggi, mengeluarkan biaya besar, malah sia-sia di tangan pengelola RS yang mengeksplotasi korban sehingga meregang nyawa secara sia-sia. (kompas.com/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here