JAKARTA, KBKNEWS.id — Bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Barat beberapa bulan terakhir tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga memukul sektor ekonomi, khususnya UMKM.
Tercatat sebanyak 4.876 pelaku usaha terdampak langsung dan kesulitan mengakses permodalan karena usahanya tidak lagi bankable.
Merespons kondisi ini, Dompet Dhuafa meluncurkan Program Mufakat (Modal Usaha Bermanfaat Untuk Masyarakat) sebagai upaya pemulihan ekonomi berbasis pemberdayaan.
Program ini diperkenalkan dalam seminar kolaboratif di Convention Hall Universitas Andalas, Padang.
Ketua Pengurus Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini, menegaskan bahwa fase pemulihan ekonomi menjadi fokus utama setelah penanganan darurat bencana. “Program Mufakat ini adalah bentuk dukungan nyata agar para penyintas bisa kembali mandiri dan bermartabat,” ujarnya.
Berbeda dengan bantuan konsumtif, Mufakat mengusung pendekatan produktif melalui pembiayaan syariah yang terintegrasi dengan pendampingan usaha.
Program ini dijalankan bersama Yayasan Wirausaha Indonesia Berdaya (YWIB) dan melibatkan 21 Baitul Maal wat Tamwil (BMT), masing-masing membina sekitar 50 anggota.
Direktur LPIW Dompet Dhuafa, Prima Hadi Putra, menjelaskan bahwa program ini juga mencakup literasi keuangan dan sertifikasi halal bagi pelaku usaha. “Kami tidak hanya memberi modal, tapi juga memperkuat kapasitas usaha agar UMKM bisa bertahan dan berkembang,” katanya.
Dukungan juga datang dari kalangan akademisi. Dr. Fery Andrianus dari Universitas Andalas menyebut kolaborasi ini sebagai contoh nyata penerapan microfinance dalam pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana.
Sebagai langkah konkret, Dompet Dhuafa menandatangani nota kesepahaman dengan 10 BMT di Sumatera Barat. Kerja sama ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan UMKM dan menggerakkan kembali roda ekonomi daerah secara berkelanjutan.
Program Mufakat pun diharapkan menjadi model nasional dalam membangun ketahanan ekonomi masyarakat di wilayah rawan bencana.





