JAKARTA, KBKNEWS.id – Korban dugaan pelecehan seksual oleh oknum kiai di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kini menjalani pendampingan psikologis intensif akibat trauma berat yang masih dirasakannya hingga dewasa.
Meski telah berusia 21 tahun, korban disebut masih kerap menangis dan merasa takut saat mengingat kejadian yang dialaminya sejak duduk di bangku SMP.
Kepala Dinas Perempuan dan Anak (DP3AP2KB) Jawa Tengah, Ema Rachmawati, mengatakan dugaan pelecehan itu terjadi berulang sejak korban kelas VIII SMP hingga lulus Madrasah Aliyah (MA). Trauma yang dialami korban disebut masih membekas hingga sekarang.
“Kalau mengingat masih nangis, masih jijik, masih takut,” ujar Ema, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, korban selama bertahun-tahun memilih memendam pengalaman tersebut karena takut. Korban baru berani bercerita kepada ayahnya setelah lulus sekolah dan meninggalkan lingkungan pesantren.
Saat ini korban mendapat pendampingan melalui UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Pati untuk membantu pemulihan kondisi psikologisnya.
Pendampingan itu juga dilakukan karena korban kini sudah bekerja dan berencana menikah dalam waktu dekat.
“Calon suaminya juga perlu memahami kondisinya,” kata Ema, dilansir kompas.com.
DP3AP2KB Jawa Tengah menilai kasus tersebut sebagai fenomena gunung es di lingkungan pesantren. Beberapa santri lain sempat mengaku mengalami hal serupa, namun akhirnya memilih mencabut pengakuannya karena takut terhadap relasi kuasa dan tekanan sosial. “Mereka takut karena pelaku dianggap tokoh agama dan dianggap tidak mungkin salah,” ucapnya.
Pihak dinas juga mendesak aparat penegak hukum segera melakukan visum psikiatrikum untuk memperkuat proses hukum terhadap tersangka. Menurut Ema, dampak trauma akibat kekerasan seksual dapat terbawa hingga korban beranjak dewasa.
Selain itu, posko pengaduan masih dibuka guna memberikan perlindungan bagi saksi maupun korban lain yang ingin melapor tanpa rasa takut atau intimidasi.





