
JAKARTA – (KBKNEWS) – 30/7- PELEMAHAN nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sudah tembus lagi di atas Rp18.000 berdampak ke produk elektronik.
Sekretaris Ditjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Feby Setyo Hariyono di Jakarta, Kamis (30/7) menyebut kondisi ini menjadi salah satu faktor kenaikan harga produk elektronik, termasuk HP.
Pada penutupan perdagangan Kamis (30/7/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot ditutup melemah di kisaran Rp18.075 hingga Rp18.114 per dolar AS. Sementara itu, berdasarkan kurs referensi JISDOR Bank Indonesia, dolar AS berada di level Rp18.078.
Pasar merespons keputusan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level di 3,50-3,75 persen.
Dampak lanjutannya membuat penjualan perangkat elektronik di pasar domestik ikut tertekan. Menurut Feby, Hal itu tercermin dari survei BI yang menunjukkan penjualan eceran kelompok peralatan informasi, komunikasi, dan elektronik masih terkontraksi.
“Survei Bank Indonesia itu menunjukkan bahwa penjualan eceran di kelompok peralatan informasi dan komunikasi atau elektronik ini memang masih mengalami kontraksi,” kata Feby dalam konferensi pers di kantor Kemenperin, Jakarta, Kamis (30/7).
Dongkrak biaya impor komponen
Pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor komponen dan bahan baku elektronik yang masih didominasi dari luar negeri. Akibatnya, produsen dan distributor terpaksa menyesuaikan harga jual berbagai produk elektronik.
“Pelemahan nilai tukar Rp juga berimbas pada kenaikan biaya komponennya. Harga smartphone terus melonjak dan juga penekanan di penjualan gegara melemahnya rupiah dan kenaikan biaya komponen secara cukup signifikan,” terang Feby.
Selain faktor nilai tukar, kenaikan harga smartphone juga akibat masih dibayangi krisis pasokan chip dan memori global.
Gangguan tersebut diperkirakan menurunkan kapasitas produksi smartphone sepanjang 2026, memperpanjang waktu pasokan, sekaligus menekan penjualan.
“Di industri handphone, ini krisis chip dan memori ini juga cukup mengganggu produksi smartphone global. Juga gangguan pasokan memori ini semakin mengganggu untuk di semikonduktor.
Ini menyebabkan kapasitas produksi di smartphone ini diproyeksikan juga akan menurun di 2026 ini dan kondisi ini berpotensi akan memperpanjang waktu pasokannya dan menekan penjualan,” bebernya.
Smartphone seken tumbuh pesat
Meski demikian, Feby menilai pasar smartphone bekas justru menunjukkan pertumbuhan yang cukup pesat.
Tren tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu penopang pasar perangkat seluler di negara-negara berkembang yang sensitif terhadap harga, termasuk Indonesia.
“Namun harga smartphone bekas tumbuh pesat. Tren ini diperkirakan akan menjadi salah satu penopang pasar perangkat seluler di 2026 khususnya di negara-negara berkembang yang sensitif terhadap harga, termasuk di Indonesia,” tutup Feby.
Tren pelemahan rupiah diperkirakan terus berlangsung, dan pasar dengan harap-harap cemas menanti figur calon gubernur BI yang baru. (detikfinance.ns)




