JAKARTA, KBKNEWS.id – Dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim sering kali disibukkan oleh berbagai urusan duniawi hingga lalai mengevaluasi diri. Padahal, mengevaluasi kembali amalan dan tindakan yang telah dilakukan—atau yang dikenal dengan muhasabah—adalah hal yang sangat krusial bagi keselamatan di akhirat kelak. Tanpa muhasabah, seseorang berisiko terus-menerus berada dalam kesalahan tanpa ia sadari.
Ibnu al-Qayyim rahimahullah pernah mengingatkan bahwa hal paling berbahaya bagi seorang hamba adalah sikap kelalaian (al-ihmal), meremehkan amalan, serta enggan melakukan muhasabah. Rasa nyaman yang semu atas kondisi diri sering kali membuat seseorang terpedaya (maghrur). Ia merasa amalannya sudah cukup dan baik, padahal kekhilafan dan dosa terus menumpuk dalam kesehariannya.
Mengabaikan evaluasi diri membuat pintu kemaksiatan terbuka semakin lebar. Ketika seseorang membiasakan diri lalai, ia akan menganggap dosa sebagai sesuatu yang biasa dan nyaman. Akibatnya, ia akan kesulitan untuk meninggalkan kebiasaan buruk tersebut karena hatinya telah terbiasa dan tidak lagi peka terhadap teguran.
Para ulama mengibaratkan kehidupan manusia di dunia seperti seorang pedagang yang sedang menjalankan usahanya bersama Allah. Dalam perdagangan ini, amalan-amalan wajib berfungsi sebagai modal utama yang harus dijaga. Sementara itu, amalan-amalan sunnah adalah keuntungan (profit) yang memperbanyak bekal, sedangkan dosa dan kemaksiatan merupakan kerugian yang harus dihindari.
Al-Qur’an secara tegas memerintahkan umat Islam untuk senantiasa memperhatikan apa yang telah dipersiapkan untuk hari esok, yaitu hari akhirat. Dalam Surah Al-Hasyr ayat 18:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Jika seseorang tidak membiasakan muhasabah di dunia, penyesalan mendalam pasti akan datang di akhirat. Allah menggambarkan dalam Surah Al-Fajr bagaimana manusia teringat dan menyesali segala perbuatannya ketika Neraka Jahanam diperlihatkan. Namun, penyesalan pada saat itu sudah tidak lagi berguna karena kesempatan untuk beramal telah habis.
Secara teknis, Al-Mawardi rahimahullah menjelaskan bahwa muhasabah harian dapat dilakukan pada malam hari sebelum tidur. Seseorang diam sejenak merefleksikan perbuatannya sepanjang hari, mulai dari bangun tidur hingga malam hari. Apabila mendapati amalan yang baik, ia bersyukur dan mempertahankannya; namun jika menemukan kekurangan atau dosa, ia segera memohon ampun dan memperbaikinya.
Selain setelah beramal, muhasabah juga sangat dibutuhkan sebelum dan saat sedang menjalankan suatu amalan. Sebelum beramal, seseorang perlu mengevaluasi niat serta kemampuannya agar tidak terjebak dalam niat yang salah. Sementara saat beramal, muhasabah berfungsi untuk menjaga keikhlasan hati dari rasa riya, sombong, atau keinginan mencari popularitas.
Penting pula untuk diingat bahwa seluruh nikmat yang dinikmati manusia di dunia kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Mulai dari usia, masa muda, harta yang diperoleh dan dibelanjakan, hingga ilmu yang dimiliki, semuanya akan dihisab oleh Allah. Bahkan pendengaran, penglihatan, serta apa yang terlintas di dalam hati tidak akan luput dari pertanyaan di hari kiamat.
Sebagai solusinya, para ulama menganjurkan agar kita senantiasa menerapkan sikap wara’ (meninggalkan hal yang berisiko memberi mudarat di akhirat) dan zuhud (meninggalkan hal yang tidak bermanfaat untuk akhirat). Dengan rajin mengaudit dan menghisab diri sendiri selama masih hidup di dunia, insya Allah proses hisab di akhirat kelak akan menjadi lebih ringan.
Sumber video: Yufid.TV – Amalan Ringan Sebelum Tidur Tapi Bikin Hisab di Akhirat Ringan – Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.





