Mustarim Kehilangan Rumah akibat Gempa NTT, Kini Bertahan dengan Bantuan Dompet Dhuafa

JAKARTA, KBKNEWS.id — Mustarim Usman masih mengingat kepanikan yang dirasakannya saat gempa bumi mengguncang Pulau Flores dan sekitarnya.

Saat gempa magnitudo 7,7 terjadi pada Sabtu (18/8/2026), Mustarim sedang berada di tengah laut untuk mencari nafkah sebagai nelayan.

Meski berada di laut, getaran gempa tetap terasa. Kapal yang ditumpanginya terasa oleng. Kekhawatiran pun langsung muncul karena istri dan tiga anaknya berada di rumah.

“Saya sangat panik, karena saat itu sedang melaut,” ujar Mustarim.

Setelah kembali ke daratan, Mustarim melihat sejumlah rumah warga mengalami kerusakan. Sesampainya di rumah, ia justru tidak menemukan istri dan anak-anaknya. Dalam kepanikan, ia mencari keluarganya ke berbagai penjuru kampung.

Mustarim kemudian mengetahui bahwa keluarganya telah menyelamatkan diri ke arah pegunungan. Saat gempa terjadi, dinding dan atap rumah mulai berjatuhan. Istrinya segera membawa ketiga anak mereka keluar. Anak kedua bahkan sempat menggendong adiknya untuk menyelamatkan diri.

Keluarganya selamat, tetapi rumah yang belum genap setahun ditempati Mustarim kini rusak dan tidak layak dihuni. Kondisi tersebut membuatnya terpukul.

“Saya sangat stres dan kecewa. Saya belum genap setahun tinggal di rumah itu,” katanya.

Kini Mustarim dan keluarganya tinggal di tenda pengungsian bersama sekitar delapan kepala keluarga atau hampir 30 jiwa. Keterbatasan makanan dan air bersih menjadi salah satu kekhawatiran mereka.

Di tengah situasi tersebut, Mustarim menjadi salah satu penerima manfaat bantuan Dompet Dhuafa. Melalui Disaster Management Center (DMC), Dompet Dhuafa menyalurkan bantuan logistik dari Labuan Bajo melalui jalur laut. Bantuan tersebut tiba setelah menempuh perjalanan sekitar 20 jam menuju Desa Satar Kampas.

Selain bantuan logistik, Dompet Dhuafa juga menghadirkan layanan dapur umum untuk membantu memenuhi kebutuhan para penyintas.

Bantuan tersebut menjadi penguat bagi Mustarim dan keluarganya untuk melewati masa sulit. Ia berharap dukungan terus diberikan, terutama untuk memenuhi kebutuhan makanan dan air bersih selama berada di pengungsian.

“Kami butuh air minum bersih dan makanan. Tolong bantu kami,” ujar Mustarim.

Di tengah kehilangan rumah dan ketidakpastian, Mustarim bersama para penyintas lainnya terus berusaha bertahan dan berharap dapat segera bangkit serta menata kembali kehidupan mereka.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here