JAKARTA, KBKNEWS.id — Mendampingi anak berkebutuhan khusus bukanlah tugas yang mudah. Orang tua maupun guru pendamping kerap menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kelelahan, stres, hingga kebingungan dalam menentukan pola pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Dompet Dhuafa melalui Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) yang berkolaborasi dengan Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI). Keduanya menggelar Capacity Building bertajuk “Seni Membersamai Anak Istimewa” bagi orang tua dan guru pendamping anak berkebutuhan khusus.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Perpustakaan Pemerintah Kota Depok, Sabtu (29/8/2026), tersebut diikuti sebanyak 60 caregiver.
Pelatihan ini menjadi ruang bagi para pendamping untuk memperoleh pengetahuan sekaligus berbagi pengalaman dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Salah satu materi utama yang diberikan adalah metode Applied Behavior Analysis (ABA). Metode ini diperkenalkan sebagai pendekatan untuk membantu menstimulasi kemandirian anak secara holistik, termasuk dalam mengembangkan kemampuan sosial dan mengelola emosi.
Koordinator Program Disabilitas Mandiri LPM Dompet Dhuafa, Priyanto Saputro, mengatakan pelatihan juga membekali caregiver dengan teknik shadow teacher agar mampu memberikan pembelajaran yang adaptif dan ramah anak.
“Kami ingin mengajak para pendamping atau caregiver untuk memahami cara membersamai anak istimewa dengan pendekatan perubahan perilaku anak,” ujar Priyanto.
Tak hanya pembekalan teknis, kegiatan tersebut juga menghadirkan sesi mindfulness dan ruang bercerita. Sesi ini menjadi ruang aman bagi para caregiver untuk melepas penat, berbagi pengalaman, serta saling menguatkan secara emosional.
Salah satu peserta, Dea, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru mengenai cara mendampingi anaknya. Selama 19 tahun menjadi caregiver, ia mengaku selama ini banyak belajar secara otodidak.
“Selama mengikuti acara ini, banyak sekali cara-cara pendampingan yang tepat yang baru saya tahu. Karena selama ini saya mendampingi anak istimewa benar-benar otodidak,” kata Dea.
Menurut Dea, kegiatan tersebut bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga membuatnya merasa tidak sendirian dalam menjalani peran sebagai caregiver.
“Di sini saya tidak hanya mendapat ilmu baru, tetapi juga tidak merasa sendiri lagi. Ini membuat saya lebih semangat mendampingi anak istimewa saya,” ungkapnya.
Dea berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan sehingga caregiver memiliki akses terhadap pengetahuan baru dan mampu membantu mengembangkan potensi maupun bakat anak berkebutuhan khusus.
Melalui Program Disabilitas Mandiri, Dompet Dhuafa berkomitmen mendukung kemandirian penyandang disabilitas sekaligus memperkuat kapasitas para caregiver. Upaya ini diharapkan dapat mendorong terciptanya lingkungan yang lebih inklusif dan berkelanjutan bagi anak berkebutuhan khusus beserta keluarganya.





