Sebuah pesan dari seorang teman masuk ke WhatsApp saya. Ia menceritakan tentang seorang bocah yang malang. Usia 10 tahun anak itu menderita tumor di tangannya. Sejak usia dua tahun ditinggal mati oleh sang ibu. Kemudian bapaknya pergi hingga tak kembali. Si bocah itu kemudian dirawat dan dibesarkan oleh neneknya yang hanya seorang buruh tani.
Penyakit yang dideritanya semakin lama bertambah parah. Jalan satu-satunya harus dioperasi. Rumah sakit yang ada didaerah inipun harus merujuknya ke Jakarta. Dengan segala upaya ditempuh agar anak ini bisa diobati.
Menghimpun donasi ke sana kemari terus dilakukan. Hingga teman yang mengirim pesan ini pun bersedia mendampingi selama pengobatan bocah tersebut. Walaupun ia harus berkorban meninggalkan anaknya yang masih kecil.
Sebuah foto tersebar di viral media sosial. Seorang ibu menjadi korban pembunuhan junta militer Myanmar di Rohingya. Sedihnya anak lelaki yang masih balita dari si ibu tersebut masih hidup. Ia tetap berupaya menyusu pada ibunya yang sudah meninggal. Air mata saya jatuh melihatnya. Bayi itu seumur anak saya.
Begitu banyak kisah nyata tentang manusia yang menyayat hati kita. Tentang peperangan dan kekerasan yang memakan korban terutama ibu dan anak-anak. Tentang bencana alam yang mengakibatkan banyaknya korban.
Tentang anak-anak malang yang menderita penyakit, cacat dan miskin. Soal ketimpangan hidup antara yang miskin dan kaya.
Melihat berbagai fenomena sosial ini, rasa kemanusiaan kita terpanggil. Rasa peduli muncul tak terbendung. Kepedulian sosial adalah minat atau ketertarikan kita untuk membantu orang lain.
Tak peduli orang lain itu siapa. Kepedulian sosial muncul dari kepekaan hati untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar istilah empati, yang dapat diartikan sebagai kesanggupan untuk memahami dan merasakan perasaan-perasaan orang lain seolah-olah itu perasaan diri sendiri.
Islam juga sangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Setiap jiwa layak dihargai dan tidak boleh dihilangkan secara semena-mena.
Islam mengatur bagaimana menghargai jiwa manusia pada masa perang maupun pada masa damai, sehingga berlaku hukum pidana.
Tak sulit untuk peduli atas nama kemanusiaan. Seperti tragedi yang menimpa saudara seiman di Rohingya saat ini. Mereka membutuhkan banyak bantuan berupa makanan, obat-obatan, pakaian, tempat tinggal dan rasa aman.
Jumlah muslim di Asia Tenggara ini diperkirakan 250 juta orang. Jika semua muslim ikut membantu saudara di Rohingya, terlepaslah saudara dari berbagai kesulitan.
Di Indonesia jika semua muslim (wajib zakat) mengeluarkannya dan menyalurkannya ke lembaga resmi, dan dikelola dengan baik, maka saya yakin tak akan ada orang miskin. Dalam Islam hukum zakat adalah wajib. (*)
*) Musfi Yendra, Pegiat Sosial





