BANDUNG (KBK) – Mahasiswa Minang mempertanyakan apakah Sumatera Barat didikriminasi, karena mereka mulai gerah dengan wajah pemberitaan nasional yang identik dengan musibah kabut asap yang hanya memperhatikan beberapa propinsi saja. Perhatian pemerintah yang diskrimintatif terlihat jelas.
Hal itu disampaikan perwakilan mahasiswa Minang di Bandung, Muhammad Furqan Akbar, mahasiswa Universitas Telkom Bandung, kepada KBK Rabu (28/10/2015).
“Padahal status sosial media semacam Instagram, Facebook, Twitter, bahkan koran online, dari pengguna Sumatera Barat jelas-jelas memposting jeritan karena kabut asap di Sumbar,” ungkap Furqan.
Bahkan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika-red), dan juga tercatat di Global Atmosphere Watch (GAW) Koto Tabang Agam, bahwa Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) per Senin (26/10/2015), konsentrasi harian aerosol PM10 (partikel debu) berada di level 470 mikrogram, atau dalam kategori “berbahaya”. Dan angka tersebut mengalami kenaikan disetiap jamnya.
“Tak hanya saya, atas nama Unit Seni Budaya Minang (USBM) Univesitas Telkom Bandung yang merupakan komunitas perantau Minang pun berfikir Sumatera Barat didiskriminasi. Kami ingin berbuat untuk nagari kami, kami tak bisa hanya tinggal diam menunggu bantuan untuk kampung halaman kami yang entah kapan bisa terealisasi, lebih baik kami berusaha dengan kekuatan kami sendiri,” papar Furqan.
Furqan bersama BEM Universitas Telkom Bandung menggaet 60 relawan untuk melakukan penggalangan dana untuk kampung halaman dengan tema ‘USBM untuk Sumbar’.
“Meski kami berada di negeri orang, kami ingin membuktikan cinta kami terhadap kampung halaman. Mungkin hanya ini yang bisa kami lakukan sebagai bentuk kepedulian kami atas musibah asap yang melanda Nagari Ranah Minang,” imbuh Furqan.
Penggalangan dana berlangsung secara masive dari Senin (12/10/2015) lalu, hingga finalisasi Rabu (28/10/2015).
“Pelaksanaan aksi via medsos, pembukaan rekening, sosialisasi kampus, serta aksi turun ke jalan-jalan sekitar kampus dan seputaran kota Bandung,” tutur Furqan.
Menurutnya, tanggapan masyarakat sangat bagus atas aksi ini. Kegiatan ini mengundang partisipasi segenap masyarakat untuk turut peduli terhadap bencana kabut asap yang melanda Sumatera Barat. Seperti yang ia temui di daerah Pasar Minggu Telkom dan dalam agenda Car Free Day (CFD) Dago pada Minggu (25/10/2015).
“Untuk finalisasi kegiatan, kami akan menyalurkan donasi yang terkumpul lewat Dompet Dhuafa Singgalang. Kami berharap lewat agenda ini kami bisa membantu masyarakat Sumbar yang menjadi korban musibah kabut asap Riau. Semoga lewat aksi kami, juga dapat menggerakkan lembaga bahkan pemerintah untuk dapat menanggulangi kondisi daerah-daerah yang menjadi korban, tanpa ada diskriminasi terhadap wilayah lainnya,” pungkas Furqan. – nisa





