Sepakbola, Perekat Persatuan

Skuad Garuda melawan Gajah Petarung, Thailand
new tapanuli.com

GUE rela bela-belain datang dari jauh, demi kesebelasan Indonesia, “ kata Edo bersemangat. Padahal supporter remaja asal Lampung ini gagal mendapatkan tiket masuk setelah seharian berdesak-desakan, saling dorong,  ngantri di Mabes Kostrad.

Edo juga cukup puas, walaupun hanya bisa  menyaksikan penampilan kesebelasan kesayangannya itu dari TV layar lebar yang dipasang di pinggiran stadion Pakansari, Cibinong, Bogor (Rabu,14/11).

“Panggilan hati” untuk menyaksikan langsung laga final AFF Suzuki 2016 tidak hanya dirasakan  Edo, tetapi juga oleh ribuan warga lainnya yang berharap skuad Garuda kali ini keluar sebagai pemenang, tidak keok melulu seperti yang sudah-sudah.

Mereka, mayoritas bukan orang-orang yang berkelebihan, tetapi dari kelas ekonomi pas-pasan, berbondong-bondong tanpa ada yang memprovokasi, tanpa surat edaran atau instruksi berdatangan ke stadion Pakansari untuk menyemangati tim Garuda berlaga.

Sebagian datang dari wilayah-wilayah yang cukup jauh, bahkan ada yang dari luar Jawa, berbekal seadanya. Setibanya di Jakarta juga harus berebut,  berhimpitan untuk memperoleh  selembar tiket masuk.  Sangat disayangkan, penjualan tiket yang dipusatkan di Markas Kostrad, carut-marut.

Para penonton, baik yang menyaksikan langsung maupun yang  terpaku di depan layar TV masing-masing di rumah, kantor, kaffe atau warung , larut dalam sorak-sorai, terbenam dalam euforia kebersamaan saat sundulan Hansamu Yama berhasil menyarangkan si kulit bundar ke gawang Thailand.

Bangsa Indonesia saat itu menyatu dalam kebersamaan luapan emosi, menepikan , kotak-kotak primordial, sekat asal-usul dan beda keyakinan, melebur dalam keberagaman untuk mendukung skuad Garuda yang asal para pemainnya juga  beragam , termasuk pemain naturalisasi.

Kemenangan timnas PSSI di leg pertama final Piala AFF 2016 telah menjadi penawar dahaga dan melambungkan kembali asa publik pada persepakbolaan di tanah air yang miskin prestasi sepanjang dua dekade terakhir ini.

Berbekal kemenangan 2 -1 di laga kandang, Rabu lalu, Timnas PSSI tinggal selangkah lagi menggapai juara, karena cukup diperlukan skor seri atau kalah dengan selisih satu gol  dengan memasukkan minimal dua gol. Misalnya, kalah dengan skor 2 – 3, 3 – 4 atau 4 – 5 dan seterusnya).

Lupakan hiruk-pikuk politik  

Euforia kemenangan Tim Garuda kali ini juga membuat publik sejenak melupakan   hiruk-pikuk dan hingar-bingar kasus dugaan penistaan agama oleh Gubernur (non-aktif) DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama  alias Ahok.

Sejak beberapa bulan lalu, publik terbelah dalam dua kubu pro-kontra Ahok, dijejali ujaran kebencian,  caci-maki dan sumpah-serapah berbau SARA, terutama di media-media sosial yang susah diawasi.

Nuansa perseturuan tergambar di acara debat para pakar, antarpentolan parpol, ormas keagamaan, kiyai dan ulama, bahkan juga merambah ke rumah-rumah, baik antara pasangan suami-isteri atau orang tua-anak. Tiada hari tanpa berita pro-kontra Ahok di tayangan TV, radio, media cetak dan on-line dan media medsos lain.

Klimaksnya, Aksi Massa 14 November dan Aksi Massa 2 Desember (atas permintaan aparat keamanan berganti nama dengan Do’a Bersama) yang diikuti ratusan ribu, bahkan ada yang menyebutkan jutaan  orang.

Aksi-aksi pengerahan massa di bawah berbagai “bendera” dan selubung digelar oleh  kelompok-kelompok masyarakat sehingga mengundang kecurigaan antara kubu yang satu dan lainnya. Ini lawan atau kawan?

Presiden dan para pembantunya pun disibukkan luar biasa  melakukan lobby-lobby berjudul silaturrahmi dalam upaya merekat kembali persatuan yang dinilai terancam akibat polarisasi tajam para elite maupun masyarakat akar rumput.

Rangkaian proses peradilan terhadap Ahok sesuai dengan tuntutan sekelompok massa agar ia dijebloskan ke dalam bui masih berlangsung.                                                                                               Terbukti ada tidaknya penistaan agama akan ditetapkan di ruang pengadilan yang diharapkan bebas dari pengaruh siapapun dan tekanan kubu kelompok manapun.

Rakyat yang sudah mendukung para penggawa Garuda sepenuh hati, tentunya juga harus bisa menerima, termasuk kemungkinan kekalahan tim kebanggaannya itu .

Sama halnya dengan rangkaian persidangan kasus dugaan penistaan agama terhadap Ahok yang tengah berlangsung. Rakyat pun juga harus legawa menerima apapun  keputusan pengadilan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement