Tenang Jelang Pilkada

BANGSA Indonesia yang sudah memiliki hak pilih akan mengikuti helat akbar, pesta demokrasi pilkada serentak di 101 wilayah pada 15 Februari 2017 yang akan menentukan pemimpin di daerah mereka sepanjang lima tahun ke depan.

Hiruk-pikuk, aksi unjukrasa yang memacetkan lalu-lintas dan mengganggu aktivitas lainnya , dukung-mendukung, bahkan saling hujat terutama di media sosial diharapkan pupus begitu memasuki masa  tenang, 12 – 14 Februari.

Aroma persaingan dan semangat agar calon yang diusung tampil sebagai pemenang, hendaknya ditanggalkan, dan segenap elemen bangsa hendaknya berupaya merajut kembali silaturrahim, mempertebal persatuan dan kesatuan, kembali ke khittah semula sebagai bangsa Indonesia.

Sejauh ini suasana politik di 100 daerah peserta pilkada lainnya relatif tenang, hanya terjadi riak-riak kecil di antara pendukung maupun antarkontestan, kecuali pilkada DKI yang hingar-bingar, penuh intrik akibat bercampur-baurnya berbagai kepentingan.

Pilkada DKI Jakarta 2017 diikuti tiga paslon. Pasangan Agus Harimurti dan Sylviana Murni dengan nomor urut 1 diusung oleh PKB, PPP, Demokrat dan PAN, paslon nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful Hidayat dijagokan PDI-P, Nasdem, Golkar dan Hanura, sedangkan paslon nomor urut 3 Anies Baswedan dan Sandiaga Uno membawa bendera Partai Gerindra dan PKS.

Dari data dan angka, menurut Litbang Kompas, tingkat partisipasi masyarakat di Pilkada, pemilu legislatif dan presiden sejak 2004 cenderung turun. Pada 2004 partisipasi di pemilu legislatif 73,3 persen, pilkada 2007 (63,7 persen), pemilu legislatif 2009 (50,8 persen), pilpres 2009 (67,5 persen), putaran I Pilkada 2012 (63,6 persen)dan putaran II (66,7 persen).

Sejumlah lembaga survei juga ikut menyemarakkan pilkada serentak nanti, walaupun ada yang dinilai tidak transparan mengungkapkan metodologi yang digunakan sehingga kredibilitasnya diragukan dan hasil surveinya diduga sesuai “pesanan”.

 

Peringkat elektabilitas

Berdasar rilis hasil survei Polltracking (periode 24 – 29 Januari), paslon Anies – Sandiaga meraih 31,5 persen atau unggul sementara, diikuti paslon Ahok- Djarot dengan 30,13 persen, sedangkan paslon Agus – Sylviana 25,75 persen.

Sejak awal November 2016 sampai akhir Januari 2017 elektabilitas paslon Anies – Sandiaga meningkat cukup signifikan (2,87 persen) dari 28,63 ke 31,5 persen, paslon Ahok Djarot naik 1,25 persen (dari 28,88 ke 30,13 persen) , sementara paslon Agus – Sylvi malah anjlok 4,5 persen dari 30,25 ke 25,75 persen.

Agama masih menjadi preferensi bagi responden menjatuhkan pilihannya (29 persen), disusul program yang diusung paslon (23,25 persen), pengalaman (16,63 persen), ketegasan (15,63 persen) dan kesantunan (7,63 persen).

Sedangkan survey Charta Politika Indonesia (November 2016 dan pasca debat I pada 13 Januari 2017, terjadi peningkatan elektabilitas signifikan pada paslon Ahok – Djarot (dari 28,9 menjadi 36,8 persen), naik dengan nilai tipis untuk paslon Anies – Sandiaga 26,7 ke 27 persen), dan penurunan cukup tajam bagi paslon Agus – Sylvi (dari 29,5 ke 25,9 persen).

Yang cukup menggembirakan, partisipasi warga guna menentukan pilihan di Pilkada 2017 meningkat (menjadi lebih 70 persen) dari pilkada 2012 yakni dari 6.982.179 pemilih (3.553.672 laki-laki dan 3.428.507 perempuan), menjadi 7.108.589 (3.561.690 laki-laki dan 3.546.899 perempuan) pada pilkada 2017.

Selain pemilih pasti (strong voters atau pemilih yang bergeming, tidak akan mengubah pilihan) , ketiga paslon masih harus bekerja keras merayu 21,63 persen calon pemilih yang masih bisa mengubah pilihan (swing voters)  dan 12,87 persen yang sama sekali belum menentukan pilihannya (undecided voters).

Gejolak dan dinamika sampai hari “H” pilkada 15 Feb. diprediksi akan akan terus terjadi, dan dari hasil survei terakhir, agaknya pilkada DKI Jakarta akan berlangsung dalam dua putaran mengingat tidak satu paslon pun elektabilitasnya  di atas 50 persen.

Aksi “all out” dengan mengonsolidasikan segenap kekuatan untuk memenangi pilkada DKI Jakarta juga dilakukan, bahkan bos-bos parpol pengusung kontestan, Ketua Umum PDIP Megawati pengusung paslon Agus – Sylivi, Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketum Partai Demokrat Susilo B. Yudhoyono juga “turun gunung” di ajang kampanye atau pertemuan massal lainnya.

Fluktuasi raihan suara oleh masing-masing paslon yang dapat dikumpulkan oleh masing-masing paslon dari swing dan undecided voters juga bisa dipengaruhi  hasil debat publik ketiga (10 Feb) yang akan menambah keyakinan atau malah keraguan calon pemilih.

Isu-isu baru, bisa menjadi sandungan yang dimanfaatkan sebagai “amunisi baru” oleh lawan atau meningkatkan elektabilitas masing-masing.

Ancaman Ahok di persidangan untuk mempermalukan saksi-saksi yang berbohong, menunai reaksi keras ulama NU karena dianggap tidak menghormati saksi, Maruf Amin yang menjabat Ketua MUI dan juga Rois am NU.

Dugaan penyadapan pembicaraan telpon antara Susilo B Yudhoyono dengan Maruf Amin juga mengundang tanggapan dari mantan presiden itu yang ayah Agus, calon nomor urut 1 dan juga ketua partai pengusungnya, Partai Demokrat. Susilo menuding penyadapan itu perbuatan ilegal, sedangkan Ahok secara tersirat menuding, Susilo dan Maruf bersekongkol di balik terbitnya fatwa MUI terkait penistaan agama yang didakwakan padanya.

Pilih pemimpin yang jujur dan amanah, dan persatuan dan kesatuan bangsa tetap di atas segalanya.

 

 

 

 

 

Advertisement