PERUNDINGAN antara perwakilan rezim pemerintah Bashar al-Assad dan kelompok perlawanan Suriah yang ditengahi PBB di Jenewa, Kamis (23/2) belum menghasilkan titik terang menuju perdamaian di tengah konflik berdarah yang sudah berlangsung enam tahun.
Pertemuan ke-4 yang difasilitasi PBB itu diselenggarakan menyusul Konferensi Damai sebelumnya disponsori oleh Iran, Rusia dan Turki yang digelar di Astana, Kazakhstan, 23 Januari lalu.
Pada pertemuan Astana, dibahas upaya untuk mengokohkan gencatan senjata antara kubu pasukan loyalis rezim Presiden Bashar al-Assad dan Tentara Pembebasan Suriah (FSA), membuka dialog antara keduanya dan memerangi terorisme.
Sedangkan dalam pertemuan Jenewa, Kamis kemarin, pada tahap pertama, penengah yakni Utusan PBB untuk Suriah Staffan de Mistura berembug secara terpisah dengan masing-masing perwakiln kubu guna membahas agenda dan format dialog oleh para pihak.
Setelah itu, baru kedua belah pihak yang bertikai berunding langsung ditengahi perwakilan PBB.
Sebelumnya, seperti yang disampaikan Salem al-Meslet , Komisi Negosiasi Tinggi (NHC) dari kubu oposisi, pihak mereka sebenarnya menginginkan pertemuan langsung dengan rezim petahana Suriah ketimbang terpisah. Alasannya, hal itu dianilai lebih efektif, menghemat waktu dan menunjukkan keseriusan para pihak.
Pemerintah Suriah dalam pertemuan Jenewa kali ini dipimpin oleh Bashar al-Jafaari, sedangkan kubu oposisi dipimpin Nasr-al-Hariri.
Perubahan situasi di lapangan setelah jatuhnya kota kedua terbesar di Suriah, Aleppo ke tangan pasukan pemerintah awal Januari lalu diharapkan menjadi salah satu peluang lebih baik menuju proses perdamaian ketimbang pertemuan-pertemuan sebelumya.
Rusia minta gencatan senjata
Rusia yang mendukung rezim al-Assad dengan mengirimkan pesawat- pesawat tempur untuk memborbardir posisi kelompok perlawanan juga telah meminta agar kubu sekutunya, pasukan pemerintah Suriah menghentikan serangan selama berlangsungnya pertemuan Jenewa.
Konflik Suriah selain dipicu persoalan antara kubu loyalis al-Assad dan kubu FSA , juga akibat akumulasi kepentingan dan perebutan pengaruh antarnegara-negara sekitarnya serta “pemain” kelas dunia (AS dan Rusia).
Selain itu, perebutan pengaruh di kawasan antara Arab Saudi dan Turki di satu pihak dan Iran, Irak dan Kurdi di pihak lain juga ikut memicu konflik, begitupula antarkelompok sektarian, paham Syiah dan Sunni.
Dua juta warga Suriah hengkang, menyabung nyawa menyeberangi Laut Mediteranea atau melintasi daratan Turki menuju Eropa, sekitar 12 juta kehilangan nafkah dan 320.000 korban tewas terperangkap di tengah konflik yang berkecamuk sejak enam tahun lalu.
Sejumlah pertemuan yang diprakasai PBB berujung kegagalan, karena terbentur isu utama yakni pro-kontra mengenai kelanjutan pemerintahan petahana pimpinan Bashar al-Assad.
FSA yang didukung negara-negara Barat menganggap rezim al-Assad adalah akar persoalan sehingga harus dikesampingkan dalam setiap perundingan damai, namun sebaliknya, Rusia dan Iran ngotot menyertakan rezim al-Assad dan bersikeras dan berprinsip, persoalan Suriah harus diselesaikan sendiri oleh rakyatnya.
Jalan perdamaian agaknya masih terjal dan berliku. (AFP/Reuters/NS).
.
,




