Myanmar Tuduh Laporan PBB Soal Rohingya Bias

Ilustrasi kerusuhan di Rakhine tahun 2012/ Reuters

YANGON—Deputi Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri Myanmar, Jenderal Aye Aye Soe menuduh Pelapor Khusus PBB untuk kasus Rohingya, Yanghee Lee menilai, bias dalam membuat laporan. Ia dinilai hanya melihat satu kelompok masyarakat.

Sebelumnya, Lee dan tim telah melakukan kunjungan empat hari ke Bangladesh, terutama di kamp perumahan Rohingya. Menurut Lee, kondisi warga Rohingya yang kabur ke Bangladesh sangat memprihatinkan. “Dahsyatnya kekerasan yang dialami dan disaksikan keluarga ini melebihi dari yang saya bayangkan sebelumnya,” katanya kepada Channel News Asia.

Lee menceritakan beberapa pengalaman warga Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar. Salah satunya adalah seorang ibu yang lari saat rumahnya dibakar, dan ia baru menyadari ternyata anaknya masih tertinggal di dalam.  Cerita lainnya adalah bagaimana seorang wanita kehilangan penglihatan karena kebakaran yang diduga dilakukan oleh petugas keamanan Myanmar. “Tidak ada satu orang pun yang (ceritanya) saya dengar yang tidak mengerikan,” Ms Lee.

Menanggapi itu, Aye Aye Soe mengatakan Lee telah memelintir interpretasi tentang situasi di Rakhine, dan membuatnya terdengar lebih buruk dari itu. Menurutnya, kericuhan terjadi karena serangan terhadap tiga pos perbatasan di negara bagian Rakhine Utara pada bulan Oktober. Pelakunya adalah sekelompok warga Rohingya.

Menurut PBB, operasi militer di Rakhine telah memaksa 70.000 warga Rohingya melarikan diri. Insiden ini juga diwarnai sejumlah tuduhan kekejaman seperti pembunuhan, pemerkosaan dan perusakan properti Rohingya.

Advertisement