BOGOR – Seorang anak dan ibu yang tewas akibat jebolnya tembok SMAN 2 Bogor pada Senin (27/2/2017) disebabkan banjir bandang dari sebuah selokan bukan aliran sungai besar.
Firdaus, Ketua RT 3 RW 4 Kampung Kedunghalang Sentral, Sukaresmi menjelaskan jika selokan Palayangan di belakang SMAN 2 Bogor itu memiliki kedalaman sekitar dua meter, selokan itu terisi air tak sampai separuh. Selokan tersebut tak berasal dari hulu di pegunungan, melainkan sebatas menampung air buangan dari beberapa perumahan di kawasan Sukaresmi, Tanah Sareal, Bogor.
Hujan lebat telah membuat selokan meluap hingga membuat ambrol tanggul di satu sisi alirannya yang berkelok. Tanggul ambrol sepanjang 20 meter.
Dibantu kontur tanah yang menurun, air menjebol dua dinding pembatas sebuah sekolah serta membuat satu keluarga dan puluhan sepeda motor ikut tersapu. Dua orang ditemukan tewas setelahnya. “Banyak rumah warga yang juga terendam banjir setinggi 1 meter,” kata Arif, salah seorang warga yang mengaku masih trauma, seperti diberitakan Tempo, Rabu (1/3/2/2017).
Duka bercampur trauma masih membekas kemarin. Sejumlah relawan dan warga Kampung Kedunghalang Sentral bergotong-royong menyingkirkan puing-puing tembok pembatas sekolah yang ambruk dan menjebol dinding rumah Hamid Setiawan akibat terjangan banjir bandang dari selokan Palayangan tersebut.





