Hari Gini Tawuran?

Warga Manggarai dan Tambak, Jakpus tawuran lagi, Minggu dan Senin (5-6 Maret) (Porosjakarta)

TAWURAN  yang tidak jelas sebab musababnya dan berlangsung bertahun-tahun, mungkin termasuk peristiwa langka di dunia yang cuma terjadi di Jakarta dan  beberapa kota lainnya di Indonesia di era peradaban saat ini.

Lebih ironis lagi, tawuran antarpenduduk Kampung Manggarai, Jakarta Selatan  dan Tambak, Jakarta Pusat Senin (6/3) merenggut nyawa dua warga Manggarai, Rafi Hakim Lubis (16) dan Fikri Fadhur Firmansyah (20). Rafi diduga meregang nyawa akibat terhirup gas airmata yang ditembakkan petugas keamanan, sedangkan Fikri tertembus dadanya akibat tertembus peluru gotri yang ditembakkan dari senapan angin.

Tawuran dimulai dengan saling lempar mercon antara kedua kubu, kemudian meluas menjadi pertarungan bebas berbekal batu, ketapel, senjata tajam, bahkan senapan angin yang belum diketahui siapa pemilik atau yang menggunakannya.

Di kawasan yang sama, sejak awal 2017 saja paling tidak telah terjadi empat kali tawuran, dipicu oleh perebutan lahan parkir di sekitar Stasiun Manggarai dan putaran “U” di ruas Jalan Tambak. Tradisi tawuran di kawasan ini diperkirakan berlangsung sejak 1975.

Selain di kawasan tersebut, tawuran antarwarga sebelumnya juga sering terjadi di kawasan Berlan dan Djohar Baru, Jakarta Pusat dan juga tawuran pelajar antarsekolah di titik-titik pertemuan mereka di jalanan.

Penulis pernah menyaksikan, tawuran di seputar perempatan lampu Merah Jl. Kebun Sirih, Jakarta Pusat antarpelajar yang mirip olahraga. Menjelang magrib, pelajar di salah satu kubu meneriakkan aba-aba agar tawuran dihentikan untuk  dilanjutkan keesokan harinya.

Tawuran tanpa sebab atau akibat hal-hal sepele seharusnya ditindak tegas, dicari akar permasalahannya dan dicegah agar tidak terjadi lagi. Di lingkungan ketetanggaan agaknya perlu distigmakan, tawuran tanpa sebab selain perbuatan kriminial, juga primitif atau perilaku menyimpang.

 

Usir penjajah

Pada masa-masa menjelang kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945, para remaja, orang tua, lintas etnis dan kedudukan, bahu-membahu mengusir penjajah, mengorbankan darah dan nyawa dengan senjata seadanya termasuk bambu runcing.

Di tanah Palestina, anak-anak, remaja dan warga dewasa bersenjatakan batu dan ketapel, bergabung dalam gerakan Intifada, memerangi Israel.

Banyak contoh di tempat-tempat di bagian dunia lainnya, warga melakukan   perlawanan fisik menghadapi ketidakadilan atau kezaliman. Ini tentu bukan persoalan, bahkan perlu diteladani.

Namun, tawuran tanpa penyebab, bukankah tindakan anomali yang harus dicari akar penyebabnya, ditindaktegas pelakunya dan dicegah agar tidak terulang kembali?

Apa artinya jika tawuran trus terjadi, sementara mulai dari Presiden Jokowi, para pemimpin agama, tokoh masyarakat, bahkan sampai tamu negara, Raja Salman dari Arab Saudi  menyerukan toleransi, kerukunan dan menghindari radikalisasi.

Seruan untuk merekat kembali kerukunan dan persatuan digaungkan setiap saat pasca terusiknya kedamaian di tengah hingar-bingar pro-kontra terhadap Gubernur non-aktif Basuki Tjahaja Purnama menjelang Pilkada DKI Jakarta, namun tawuran masih saja terjadi.

Tawuran tanpa sebab harus segera diakhiri, karena selain menganggu keamanan dan ketertiban, juga merendahkan martabat bangsa di era sivilisasi saat ini.

“PR” bagi pendidik, untuk memberikan mata pelajaran etika, mendorong murid berargumentasi dalam menyikapi perbedaan, saling menghargai,  menghormati , mengedepankan kesetiakawanan dan menjauhi benturan fisik.

Perangkat desa mulai dari RT, RW dan Lurah, mestinya juga jeli, peduli dan aktif  mengamati, memberi penyuluhan, mencegah  dan melaporkan peristiwa-peristiwa menyimpang di wilayahnya.

Aparat penegak hukum, khususnya polisi yang memiliki kantor sub pos polisi, pos polisi, polsek, polres dampai Polda, mestinya bisa mengantisipasi, mengendus potensi terjadinya tawuran, membuat jera atau atau menindak tegas pelakunya.

Jika semua  kerja… kerja…kerja,  rasanya tidak sulit mengatasi persoalan tawuran, apalagi  cuma di kawasan Manggarai dan Jalan Tambak yang mudah diakses dan diawasi karena berada di tengah ibukota.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement