PERDAMAIAN di Suriah yang tercabik-cabik perang saudara selama hampir tujuh tahun agaknya cuma ilusi atau sekedar fatamorgana yang tampak di ufuk dari kejauhan tetapi mustahil dijangkau apalagi disentuh.
Putaran ketiga perundingan damai Suriah di ibukota Kazakhstan, Astana (l4/3) juga tidak menghasilkan sesuatu yang kongkret bagi proses perdamaian, bahkan perwakilan kelompok perlawanan yang tergabung dalam Pasukan Pembebasan Suriah (FSA) tidak hadir.
Kubu FSA beralasan, mereka tidak mengirimkan wakil pada pertemuan Astana kali ini karena menganggap lawannya, kubu rezim presiden petahana Bashar al- Assad selalu ingkar dalam setiap kesepakatan gencatan senjata.
Sebaliknya Ketua Perunding Pemerintah Suriah, Bashar al-Jaafari menuding ketidakhadiran delegasi kubu lawannya dari FSA pada pertemuan Astana yang diprakasai Iran, Rusia dan Turki, menunjukkan ketidak kompakan di dalam kubu mereka sendiri.
Menurut al-Jaafari, kehadiran delegasi pemerintah Suriah dalam pertemuan Astana adalah untuk memastikan berjalannya proses perdamaian, tanpa atau dengan kehadiran wakil-wakil FSA.
Rusia dan Iran selama ini berada di belakang rezim pemerintah Bashar al-Assad , sedangkan Turki mendukung FSA di tengah perang saudara di Suriah yang sudah memasuki tahun ke tujuh dan menurut Organisasi Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) telah merenggut 465.000 jiwa.
Pertemuan Astana sebelumnya (22 – 24 Januari) memang dimaksudkan guna mengukuhkan gencatan senjata yang sudah dicapai sejak 29 Desember 2016, namun terjadi pelanggaran disana –sini, membuka dialog antara kedua kubu yang berseteru (rezim petahana dan FSA) serta upaya memerangi terorisme.
Konflik Suriah selain dipicu persoalan internal antara kubu loyalis al-Assad dan kubu perlawanan yang tergabung dalam FSA , juga akibat akumulasi kepentingan dan perebutan pengaruh negara-negara sekitarnya serta “pemain” kelas dunia (AS dan Rusia) dan juga konspirasi politik sektarian.
Banyak kepentingan
Perebutan pengaruh di kawasan antara Arab Saudi dan Turki di satu pihak dan Iran, Irak dan Kurdi di pihak lain juga ikut memicu konflik, sementara dari kelompok sektarian terjadi perebutan pengaruh antara paham Syiah dan Sunni.
Rusia, pendukung dan pemasok senjata utama Suriah untuk menghadapi Israel, berada di belakang rezim al-Assad, karena negara beruang merah itu juga menganggap perkoncoannya dengan Suriah sangat strategis, termasuk terkait penempatan armada angkatan lautnya di Tartus, Suriah.
Yang sangat memprihatinkan masyarakat dunia, seperti dilaporkan Badan PBB untuk Anak-anak (Unicef), perang Suriah menyebabkan putusnya rantai generasi muda di negeri itu.
Bayangkan saja, kehidupan enam juta anak-anak di negeri itu tergantung bantuan, 2,8 juta diantaranya dalam kondisi rentan, bahkan sepuluh persen dari jumlah itu (sekitar 280.000 anak-anak) dalam kondisi amat buruk atau tidak memiliki akses atas hak-hak dasar mereka. Ratusan anak-anak bahkan juga dipaksa ikut perang.
Tidak hanya mengalami masa-masa kehidupan sulit, sepanjang 2016 saja tercatat 655 anak-anak meregang nyawa, 225 terbunuh di lingkungan tempat tinggal atau sekolah mereka akibat bombardemen atau terperangkap dalam kontak tembak antara kedua kubu yang bertikai.
Laporan PBB juga mengungkapkan, 85 persen dari 23 juta penduduk Suriah dihimpit kemiskinan, 12,8 juta diantaranya memerlukan bantuan medis, lebih tujuh juta orang terancam kelaparan dan l,75 juta anak-anak tidak bersekolah.
Perang, walaupun menyengsarakan rakyat, kadang-kadang dipelihara oleh kelompok elit lokal dan juga oleh pihak-pihak luar yang berkepentingan dan ikut menikmati.
Entah, sampai kapan perang Suriah akan berakhir, belum ada tanda-tandanya. Yang kadang-kala timbul dan tenggelam, hanya sekedar geliat perdamaian. (SANA/AFP/Reuters)
,




