
NEGARA jiran, Malaysia terus membangun kekuatan angkatan lautnya di tengah sengketa, perlombaan persenjataan dan perebutan pengaruh di perairan Laut China Selatan (LCS).
Kantor Berita Reuters baru-baru ini mengungkapkan, Malaysia melakukan kerjasama bertahap dengan China untuk membangun 18 kapal jenis littoral mission ship (LMS) atau sejenis kapal patroli, empat diantaranya sudah dipesan. Seluruhnya pengadaan 50 kapal perang baru sedang disiapkan.
Menurut Kepala Staf AL Diraja Malaysia, Ahmad Kamarulzaman, LMS didisain untuk operasi keamanan maritim seperti menanggulangi perompak di perbatasan laut, anti terorisme dan operasi pencarian dan penyelamatan (SAR).
Malaysia juga sedang merundingkan pengadaan kapal perang jenis littoral combat ship (LCS) dengan ukuran lebih besar serta tiga kapal pendukung multi guna (MRSS) serta dua kapal selam Scorpene dengan galangan kapal DCNS di Perancis.
Pembangunan kekuatan militer Malaysia tentu saja tidak perlu dianggap sebagai ancaman terhadap RI dari negara jiran terdekat berbatas laut di Selat Malaka dan darat di sepanjang Kalimantan yang juga negara serumpun dan sesama anggota ASEAN.
Layaknya bertetangga, tidak dipungkiri, hubungan RI dan Malaysia kadang-kadang mengalami pasang-surut. Gesekan terjadi hanya akibat kesalahpahaman di level akar rumput, masalah tapal batas atau pekerja ilegal. Namun setelah itu rujuk dan hangat kembali.
Penguatan kekuatan militer RI dan Malaysia diperlukan bagi kedua negara untuk bahu-membahu menghadapi ancaman bersama di hadapan mata, termasuk perang melawan terorisme, lalu-lintas narkoba, perompak, penyelundup dan juga pekerja ilegal terutama dari Indonesia.
Indonesia sejauh ini memiliki sekitar 438.000 personil militer tetap dan 400.000 anggota pasukan cadangan dari ketiga matra, mengungguli Malaysia dengan 80.000 personil tetap dan 321.000 anggota cadangan.
Di matra darat, jika TNI menggunakan tank tempur utama (MBT Leoprad II buatan Jerman, Malaysia menggunakan tank PT-91 buatan Polandia. Baik RI maupun Malaysia menggelar satuan tank-tank tersebut di wilayah masing-masing di Kalimantan.
Di matra udara, TNI-AU mengandalkan pesawat-pesawat tempur F-16 seri lawas A/B yang dioperasikan sejak 1990, salah satunya tergelincir di Lanuma Rusmin Nuryadin, Pakanbaru baru-baru ini.
Sebanyak 24 unit pesawat hibah dari AS F-16 seri lebih baru (seri D yang ditingkatkan menjadi Blok 52) baru saja berdatangan dan saat ini memperkuat skadron TNI AU selain Sukhoi SU-27 dan SU-30 sudah hadir lebih dulu menjaga wilayah dirgantara RI.
Kehadiran 24 unit F-16 Blok 52 tersebut untuk menggantikan skadron pesawat-pesawat tempur F-5 Tiger dan A-4 Skyhawk bekas Israel yang sudah “digrounded” karena habis usia pakainya.
TNI AU juga diperkuat pesawat-pesawat pembom taktis T-50i Golden Eagle buatan Korsel dan pesawat anti gerilya Super Tucano dari Brazil, sedangkan pesawat angkut masih mengandalkan berbagai seri C-130 Hercules, sementara skadron helikopter a.l. mengoperasikan Super Puma SA-330 buatan patungan PT Dirgantara Indonesia dan Aerospatiale, Perancis, serta heli AW-101 Westland. Skadron heli Mi-17 dan Mi-35 buatan Rusia dioperasikan oleh Penerbad.
Malaysia, walaupun lebih kecil dalam jumlah, kekuatan udaranya ditopang oleh pesawat-pesawat tempur Mig-29 Fulcrum dan Sukhoi SU-30 Flanker buatan Rusia serta F-18D Hornet buatan AS dan baru-baru ini membeli pesawat angkut baru buatan konsorsium Eropa, A400 Atlas.
TNI AL masih mengandalkan kekuatan armada lautnya pada enam fregat buatan Belanda yang relatif tua (didatangkan pada periode 1980-an), kecuali dua buatan Sigma, Belanda yang memiliki kemampuan siluman, 25 korvet dan belasan kapal patroli cepat serta dua kapal selam diesel S-209 buatan Jerman dan 39 kapal bekas (jenis Condor, Frosch dan Parchim) ex-Jerman Timur. Sementara kekuatan armada AL Malaysia yang mengandalkan sejumlah fregat dan korvet sejauh ini juga jauh lebih sedikit dibandingkan dengan TNI-AL.
Potensi konflik mengancam di kawasan Laut China Selatan antara China, Filippina dan Vietnam, di Semenanjung Korea antara dua bersaudara sekaligus musuh bebuyutan, Korsel dan Korut serta antara China dan Jepang di Laut China Timur.
RI sebagai negara maritim yang dirangkai sekitar 17.000 pulau, perlu membangun kekuatan militernya, selain sebagai dampak penangkal (deterrent effect), juga agar disegani, minimal di antara tetangga, serta harus senantiasa bersiap diri menghadapi potensi ancaman apa pun dan dari mana pun.




