NGANJUK – Tingkat kedalaman longsor di Nganjuk mencapai 40 meter sehingga sangat menyulitkan tim pencarian korban yang tetimbun. Sehingga hingga kini korban bencana tanah longsor di Desa Kepel, Kabupaten Nganjuk, yang terjadi Minggu (9/11/2016), belum ditemukan satu pun.
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Kabupaten Nganjuk Agus Irianto menyebut, selama pencarian pascalongsor cuaca juga mendukung, dengan selalu cerah. Kondisi itu sangat memudahkan tim, sebab jika hujan lebih sulit melakukan pencarian. Selain itu, jalur juga menjadi semakin licin.
Dalam proses pencarian, tim sebenarnya sudah berhasil mengeduk timbunan tanah sekitar 10 meter, namun belum ada tanda-tanda temuan jenazah. Selain itu, anjing pelacak juga diperbantukan, dengan harapan lebih memudahkan pencarian korban.
Tim, kata dia, juga terus melakukan evaluasi terkait dengan proses pencarian korban tertimbun tanah longsor itu. Selain memetakan medan, juga memastikan titik pencarian, hingga pembacaan terkait dengan potensi terjadinya tanah longsor susulan.
Dilansir Antara, Agus juga menyebut, sejumlah kendala terjadi dalam pencarian korban, misalnya jalur yang berbukit hingga jalan sempit. Namun, petugas tetap berupaya sekuat tenaga membawa beragam alat untuk membantu proses pencarian tersebut.
Musibah tanah longsor terjadi di Dusun Dlopo, Desa Kepel, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk. Longsor sempat membendung sungai, menyebabkan terjadinya bendungan alam. Lima korban tewas tertimbun material longsor.





