TATAPAN Triswiyati (52) menerawang saat diwawancarai penyiar TV terkait kematian tidak wajar puteranya, anggota Yon 464 Paskhas TNI AU Prajurit Kepala Yudha Prihartono (29).
Ekspresi Triswiyati tentu bisa dimaklumi, karena apa pun yang akan dilakukan, tidak akan mampu menghidupkan kembali putera kebanggaannya yang di hadapannya kini terbujur kaku.
Walau cuma menjadi tamtama, tidak banyak pemuda di tempat kelahiran Pri di Desa Pesuruhan, Kec. Puring, Kab. Kebumen, Jawa tengah yang menjadi prajurit komando Paskhas, dulu bernama Kopasgat, sebelumnya PGT (Pasukan Gerak Tjepat).
Orang tua dan saudara-saudara merasa bangga jika Pri yang mengenakan seragam hijau loreng dan baret berwarna jingga, pulang kampung di saat Idul Fitri atau cuti dari dinasnya.
Penyebab kematian Pri masih simpang siur. Menurut pengakuan Triswiyati yang didapatnya dari petugas TNI AU yang mengantarkan jasad Pri, puteranya meninggal karena kecelakaan, namun ia enggan merinci detil peristiwanya.
Pri meregang nyawa di tengah perjalanan ke rumah sakit di Malang, beberapa saat setelah kejadian, Kamis (12/5) dan dimakamkan di pemakaman umum Desa Pesuruhan, Kebumen keesokan harinya.
Berdasarkan pengamatan Triswiyati, selain luka sayatan di leher, wajah almarhum dan sebagian bagian tubuhnya lebam-lebam, kemungkinan akibat kekerasan fisik.
Pimpinan TNI AU sendiri yang sudah menerima laporan termasuk foto-foto peristiwa berdarah itu mengindikasikan ada dugaan penganiayaan oleh tiga perwira pertama yang ditugaskan untuk melakukan pembinaan terhadap korban, yakni Lettu MP, Letda AJ dan Letda IH.
Pri yang dilaporkan terbelit kasus utang-piutang, dianggap memberikan keterangan berbelit-belit pada ketiga perwira pembina yang kemudian menghukumnya dengan mengunci di sebuah ruang di asrama Yon 464 di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang (11/5).
Pri yang berhasil membobol nako ruangan, kembali diamankan petugas, namun kemudian ia mengambil sangkur dan menyayat urat nadi di lehernya. Komandan Lanud Abdulrachman Saleh Marsma Julexi Tambayong mengatakan, Pri meninggal akibat pendarahan hebat berupa sayatan memanjang di leher kanan dan kiri, kemungkinan mengenai urat nadinya.
Kastaf TNI AU Marsekal Hadi Tjahjanto menyatakan keprihatinannya atas kejadian itu dan memerintahkan Komandan Paskhas TNI AU mendalaminya dan jika terbukti, akan mencopot para pelaku penganiayaan.
Selain untuk memberikan kejelasan bagi keluarga almarhum, pengusutan tuntas kematian Pri memang perlu dilakukan demi pembelajaran bagi semua pihak terkait, termasuk para pewira atau atasan langsung di kesatuan korban.
Prajurit komando adalah orang-orang pilihan yang diperlukan dana tidak sedikit untuk mencetaknya menjadi tentara profesional sehingga sangat disayangkan jika mati sia-sia.
Sebagai tentaranya rakyat, pengawasan agar perilaku prajurit tidak menyimpang harus pula terus dilakukan sedini mungkin agar tidak merugikan dirinya, rakyat maupun kesatuannya.
Atasan langsung, secara berjenjang, selain harus memantau terus persoalan dan masalah yang dihadapi anak buah, juga harus melakukan pembinaan secara wajar. Jika terpaksa harus dilakukan hukuman fisik, namun tujuannya tentu bukan untuk mencederai, apalagi membunuh.
Semoga, kejadian ini yang terakhir dan diambil hikmahnya bagi perbaikan ke depan.





