Pasca Pengucilan, Lahir Poros Qatar, Iran dan Turki

Qatar, negara bergelimang petro dolar di kawasan Tel;uk yang dikucilkan sejumlah negara tetangganya (Arabian Gazete)

PERSOALAN yang dialami satu negara dengan negara lain atau dengan sejumlah negara,  bisa jadi akan membuka peluang yang bisa dimanfaatkan oleh pihak atau negara lainnya.

Fakta-fakta yang sering terjadi itu agaknya juga berlaku di tengah krisis hubungan diplomatik antara Qatar yang dikucilkan oleh Bahrain, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA),  Mesir, Libya, Yaman, diikuti negara lain di luar kawasan yakni Chad, Maladewa dan Mauritania dan Senegal.

Kubu negara-negara yang memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar agaknya ingin memberikan pelajaran pada Qatar agar tidak lagi bermain mata dan membantu kelompok-kelompok radikal seperti Hamas, Hisbollah ,  Ikhwanul Muslimin (IM) dan NIIS.

Arab Saudi, Bahrain,  Mesir dan UEA bahkan terang-terangan menerbitkan 59 daftar berisi 59 nama tokoh dan 12 lembaga   yang ditetapkan sebagai teroris, termasuk beberapa anggota keluarga dinasti Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani yang berkuasa di Qatar.

Menyusul gagalnya upaya mediasi yang dilakukan oleh Kuwait, Qatar mulai “merapat” untuk membangun  poros baru dengan Iran dan Turki yang selama ini memang sepaham dalam kebijakan mendukung gerakan kelompok-kelompok Islam radikal di Timur Tengah.

Misi diplomatik Emir Kuwait Sheikh Sabah Ahmed al-Sabah yang juga membawa pesan Raja Arab Saudi Salman bil Abdulaziz al-Saud gagal membujuk Emir Qatar Sheikh al-Thani agar negaranya mengikuti kebijakan yang dilakukan negara-negara di sekelilingnya.

Selain dituding mendukung, bahkan menyeponsori gerakan-gerakan radikal, Qatar yang lebih moderat selama ini membuat guar para tetangganya terutama akibat pemberitaan stasiun TV Al Jazeera di negara itu yang sering dianggap mencampuri  atau menyudutkan rezim-rezim monarki absolut di sekelilingnya.

Parlemen Turki dilaporkan telah menyepakati draft undang-undang yang mengijinkan pengiriman 3.000 pasukannya guna melindungi keluarga rezim yang berkuasa dan perbatasan Qatar dengan Arab Saudi sesuai dengan perjanjian  pertahanan antara kedua negara yang ditandatangani pada 2014.

 

Mampu bertahan

Dengan nada keras, Menlu Qatar Sheikh Mohammad bin Abdulrahman al-Thani menyatakan bahwa negaranya akan mampu bertahan terhadap aksi blokade yang dikenakan terhadapnya dan bertekad untuk tetap mempertahankan independensi kebijakan luar negerinya.

Delegasi militer dipimpin Wakil Kastaf AB  Turki Jenderal Umit Dundar kabarnya sedang berada di Qatar untuk mengkaji secara teknis rencana penempatan pasukannya di  sana. Sebaliknya Qatar akan mengalokasikan dana sekitar delapan milyar dolar AS sebagai imbalannya .

Sedangkan Iran, negara pesaing Arab Saudi dalam memperebutkan hegemoni di Timur Tengah, mempersilahkan Qatar menggunakan tiga pelabuhan lautnya bagi kapal-kapal niaga Qatar .

Selain Turki, Iran juga menuai manfaat krisis diplomatik di kawasan Teluk karena Qatar akan semakin tergantung pada Iran untuk memenuhi pasokan kebutuhan pangan dan  menjadi satu-satunya jalur bagi penerbangan Qatar Airways ke berbagai belahan dunia setelah Arab Saudi, Bahran dan UEA menutup wilayah udaranya.

Ditutupnya akses hubungan darat, laut dan udara dari dan ke wilayah negara-negara tetangganya menyusul pemutusan hubungan diplomatik, membuat Qatar yang tergantung dari impor terutama bahan pangan harus mencari mitra dengan negara lainnnya.

Walau pun kaya dari hasil minyak bumi yang melimpah ruah, sesuai dengan bunyi pepatah “lebih baik menciptakan seribu kawan ketimbang satu musuh”, aksi pengucilan oleh negara di sekitar kawasan bisa berdampak serius bagi perekonomian Qatar.

Dalam suasana Ramadhan ini, alangkah baiknya jika salah satu pihak mengalah. Jika tidak, eskalasi ketegangan bisa merambah kemana-mana.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement