
KRISIS diplomatik di Timur Tengah makin memanas setelah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir yang mengisolasi tetangga serumpun mereka, Qatar (5/6) mengancam negara itu untuk segera merespons 13 butir tuntutan mereka.
Aksi keempat negara yang kemudian diikuti Chad, Libya, Maladewa, Mauritania, Mauritius dan Senegal dan Yaman dengan menutup seluruh akses darat, laut dan udara bagi Qatar, diambil karena mereka menganggap Qatar sebagai pendukung dan penyandang dana bagi kelompok teroris.
Salah satu isi tuntutan meminta Qatar untuk menurunkan level hubungan diplomatiknya dengan Iran dan menarik satuan Garda Revolusi Iran yang ditempatkan di Qatar, menutup pangkalan militer Turki serta mengentikan kerjasama militer dengan Turki.
Iran yang mayoritas penduduknya penganut aliran Syiah selama ini menjaga jarak dengan Arab Saudi yqng beraliran Sunni. Keduanya juga saling bersaing dalam perebutan hegemoni di kawasan Timur Tengah. Â Terkait krisis Suriah, Iran dan Turki berada di satu kubu pendukung pemerintah rezim Bashar al-Assad, sebaliknya Arab Saudi mendukung kelompok perlawanan.
Qatar oleh keempat negara itu juga diminta memutus hubungan dan menghentikan pendanaan bagi seluruh kelompok teroris atau gerakan radikal seperti Ikhwanul Muslimin (IM), Hezbollah, NIIS, Tanzim al Qaeda serta Front al Nusra (Faith al Sham).
Isi tuntutan lainnya yakni penutupan stasiun TV Al Jazeera bermarkas di Qatar yang pemberitaannya sering dianggap memojokkan negara-negara monarki tertutup di sekitarnya dan meminta agar kebijakan Qatar sejalan dengan negara-negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC).
Lebih jauh lagi, Qatar juga diminta menyerahkan data kelompok teroris dan oposisi terhadap pemerintah di keeempat negara itu dalam waktu sepuluh hari dan bersedia dipantau dalam secara berkala terkait hal-hal yang telah dikerjakan terkait 13 tuntutan tersebut.
Qatar sejauh ini belum merespons tuntutan dari keempat negara itu, namun Turki menolak untuk menutup pangkalan militernya yang ada di Qatar karena menganggap keempat negara itu tidak berhak mencampuri hubungan bilateral Turki dan Qatar.
Turki dan Qatar menandatangani perjanjian pertahanan pada 2014 dan pasca blokade oleh ketiga negara Teluk plus Mesir baru-baru ini, parlemen Turki telah meratifikasi UU terkait izin pengiriman pasukan dan bantuan militer bagi Qatar.
Iran dan Turki yang menjadi pelindung bagi Qatar, diuntungkan pasca krisis diplomatik diantara negara-negara di kawasan Teluk dengan memasok kebutuhan pangan Qatar yang sebelumnya sangat tergantung pasokan dari Arab Saudi dan negara-negara sekitarnya.
Ekspor Turki dilaporkan melonjak tiga kali lipat menjadi sebesar 12 milyar dolar AS pasca blokade, begitu pula Iran, walau tidak diperoleh angkanya, juga ikut menikmati dengan memasok bahan-bahan keperluan Qatar dan juga mengijinkan koridor udaranya dilalui pesawat-pesawat komersial  Qatar.
Sejauh ini belum diperoleh informasi mengenai sanksi yang akan dikenakan oleh keempat negara itu jika Qatar dalam sepuluh hari tidak mematuhi tuntutan mereka.
Pengucilan berlarut-larut, pasti berdampak buruk bagi perekonomian Qatar, negara kaya berpenduduk 2,6 juta (hanya 300.000 penduduk pribumi) yang bergelimang petro dolar itu. (AP/AFP/Reuters/NS)




