Dompet Dhuafa senang menggunakan padanan kata kurban itu dengan berkah. Karena dari setiap tahapannya memang ada berkah tersimpan di sana. Tahun ini, THK Dompet Dhuafa menebar berkah ke 2.058 desa di Indonesia dan beberapa negara tetangga.
SETELAH dua jam perjalanan dari Pelabuhan Tenau, Kupang, Nusatenggara Timur, Tim Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa, sampai di Pulau Rote, pulau terluar di selatan Indonesia. Dari pelabuhan Rote tim melanjutkan perjalanan ke Desa Papela, Kecamatan Rote Timur, Kabupaten Rote Ndao. Dari Pelabuhan Pulau Rote ke Desa Papela, butuh waktu 1 jam dengan kendaraan roda 2.
Desa Papela merupakan desa dengan penduduk muslim terbanyak di Pulau Rote, sekitar 502 KK. Penduduk di desa ini sekitar 90 persen berprofesi sebagai nelayan, dan sisanya melakoni pekerjaan lainnya.
Mayoritas penduduk di desa ini berada dalam garis kemiskinan. Profesi nelayan belum mampu membawa keluar penduduk setempat dari situasi ekonomi yang pas-pasan. Tidak satu pun penduduk di desa ini yang terlihat menonjol secara ekonomi. Sehingga memotong hewan kurban setelah Idul Adha menjadi cerita langka di Pulau ini.
Alasan itu menjadi dasar Tim THK Dompet Dhuafa menyalurkan 10 ekor sapi untuk saudara semuslim di Pulau Rote ini pada tahun 2016 lalu. Penyalurannya melalui Mitra THK, Koperasi ISM Papela Malole di Pulau tersebut.
Penyembelihan sapi untuk Pulau Rote dipusatkan di Desa Papela. Sekitar 5 ekor sapi disembelih di hari pertama setelah Idul Adha. Sekitar Pukul 12.30 WITA, proses penyembelihan selesai dan daging kurban kemudian didistribusikan ke 4 itik di 4 Kecamatan di Pulau Rote.
Kemudian 5 ekor lagi, disembelih di hari kedua setelah lebaran, penyalurannya juga ke 4 titik di dua kecamatan yang berbeda dengan hari pertama.
Menebar Berkah
Pulau Rote, hanya salah satu contoh tempat penyembelihan hewan kurban yang diamanahkan melalui THK Dompet Dhuafa untuk kawasan pelosok yang jauh dari kota besar. Untuk tahun ini, 1438 H/2017, hewan kurban melalui THK didistribusikan ke 2.058 desa di 25 provinsi di Indonesia dan beberapa negara – negara tetangga yang membutuhkan, termasuk Palestina.
“Hewan kurban itu disembelih mulai 10 Dzulhijjah, setelah shalat Idul Adha hingga tanggal13 Dzulhijjah di daerah-daerah yang telah ditentukan oleh Dompet Dhuafa, “ terang Bambang Suherman, Direktur Mobilisasi ZIS Dompet Dhuafa.
Bambang menjelaskan, Dompet Dhuafa senang sekali menggunakan padanan kata kurban itu dengan berkah. Kenapa demikian? Karena Dompet Dhuafa ketika mendistribusikan kurbannya dari setiap tahapannya ada berkah tersimpan di sana. Kurban dalam persepsi Dompet Dhuafa, merupakan rangkaian dari proses pemberdayaan panjang peternak di Indonesia.
Di wilayah hulunya, teman-teman di bagian program Dompet Dhuafa mengintervensi masyarakat dengan membekali modal dalam bentuk ternak maupun keterampilan mengelola ternak. Kemudian proses pedampingan yang ditumbuhkan kapasitas agar peternakan yang dikelola berhasil.
Setelah tumbuh membesar, wilayah hilirnya itu adalah pasar. Ruang inilah yang dipakai Dompet Dhuafa untuk membangun rangkaian pemberdayaan peternak dengan memanfaatkan momentum kurban sebagai pasar, dari proses pemberdayaan yang sudah dilakukan.
Dari konteks seperti ini, dilihat dalam perspektif penyediaan hewan kurbannya, banyak berkah yang sudah didapatkan dari mekanisme proses pemberdayaannya di masyarakat itu. Mulai dari proses transaksinya juga tersimpan keberkahan lewat kemudahan mengakses kurban.
Dalam proses penyaluran, ada distribusi yang dilakukan Dompet Dhuafa berbeda dengan transaksi kurban yang lain. Ketika pekurban datang dan melakukan transaksi dia tidak membawa pulang hewan kurbannya, tapi hanya kwitansi.
Karena dari pemaparan pengetahuan tentang kurban, para pekurban sudah tahu kalau berkurban di Dompet Dhuafa, artinya dia harus bersedia membagikan seluruh daging kurbannya untuk penerima manfaat. “Ini keberkahan bagi pekurban,” imbuh Bambang.
Bagi yang menerima, lanjutnya, juga luar biasa berkahnya, karena pendistribusian kurban yang disampaikan Dompet Dhuafa disalurkan ke pelosok-pelosok wilayah yang tidak terjangkau mayoritas pekurban di Indonesia.
Diceritakan Bambang, setiap tahun Dompet Dhuafa terus mendapatkan kisah yang luar biasa, seperti tahun lalu di Tambora dan Pulau Rote misalnya. Hewan kurban datang di Tambora dengan perahu di malam hari dan langsung disembelih karena malam itu masih hari tasyrik.
Cerita berkahnya, lewat info dari masyarakat di sana yang menyatakan bahwa saat itulah pertama kali mereka memotong hewan kurban di Idul Adha. Biasanya tidak ada ritual penyembelihan hewan kurban di hari raya itu. Habis shalat Idul Adha, masyarakat terus bersilaturahmi ke tetangga seperti Hari Raya Idul Fitri saja, habis itu selesai, karena tidak ada yang berkurban di wilayah itu dan tidak ada pula yang membagi daging kurban ke wilayah itu.
“Hal-hal seperti itu tidak akan kita temukan di kota-kota besar. Bahkan di kota besar sering kita temui, orang – orang menyimpan daging kurban di freezer. Bahkan ketika datang hari raya kurban lagi, malahan daging kurban tahun lalu masih ada di freezer itu. Jadi daging kurban tidak terkelola dengan baik. Makanya Dompet Dhuafa berupaya menyebarkan daging kurban ini ke pelosok yang membutuhkan. Inilah rangkain berkah yang kita rancang melalui kurban,” jelas Bambang.
Sementara itu, Benny, Manager Ekonomi Dompet Dhuafa, menambahkan, pendistribusian hewan kurban melalui THK, disalurkan ke lokasi yang benar-benar membutuhkan dan telah melalui kajian mendalam di internal THK.
Kriteria pertama yang menjadi acuan pendistribusian adalah; masyarakat muslim yang di pelosok dan jauh dari akses umum atau sulit dijangkau transportasi.
Kriteria Kedua, komunitas masyarakat dhuafa di desa. Kriteria Ketiga, masyarakat yang rawan pendangkalan akidah dan Kriteria Keempat, masyarakat yang rawan terkena bencana atau sedang tertimpa bencana.
“Insya Allah berkah banget, kalau orang-orang yang dalam kategori tersebut mendapatkan tanda cinta di hari raya Idul Adha dari saudaranya semuslim lewat persembahan daging kurban,” pungkas Beni
Mau berbagi berkah dengan saudara muslim di pelosok, ya melalui THK Dompet Dhuafa kurbannya. – Maifil Eka Putra





