WAHYU TEJABAWONO

Sarjokesuma pengin menikahi Pregiwati, malah dibully Burisrawa-Aswatama.

WAHYU adalah zat yang tanpa bentuk, yang tak berwujud tapi bisa dirasakan oleh pemiliknya. Dengan wahyu itu seorang tokoh di dunia wayang menjadi lebih pede menjalani kehidupan. Mau nyapres misalnya, meski elektabilitiasnya demikian rendah, tetap ngotot saja untuk maju. Bahkan jika ada yang mengkritisi, hanya dijawab: “Sirik luh, gini-gini gue kan ketua umum partai!”

Menjelang akhir tahun 2017 ini kahyangan Jonggring Salaka dikabarkan akan menurunkan wahyu edisi baru, namanya: Wahyu Tejabuwono. Pernah dinamakan Tejamaya pada edisi beberapa tahun sebelumnya, tapi karena diklaim oleh pabrik kertas garet Tejamaya, akhirnya Wahyu Tejamaya tahun 2009 batal beredar dan diperebutkan. Nah, setelah dimodifikasi seperlunya, kini wahyu permakan itu dilempar lagi ke pasaran kalangan wayang.

“Ulun tegaskan lagi di sini, kepada penerima wahyu tidak dipungut biaya sepeser pun. Jika ada pitukon (bayaran) hanyalah berani laku prihatin dan menjauhi dugem,” kata Betara Narada dalam siaran persnya.

“Dugem kan wilayah pribadi seseorang, kenapa dikait-kaitkan boss?” kejar wartawan infotainment.

Betara Narada tidak mau menjawab, justru nylingker (menghindar) ke ruang lain. Sebab dia tahu persis kelakuan insan pers, jika dilayani pertanyaannya mremen-mremen (merembet) ke mana-mana. Daripada nanti tak bisa menjawab karena menyangkut hal yang sensitif, Betara Narada memilih menghindar. Ini memang cara paling aman, daripada kehilangan jabatan gara-gara keseleo lidah kepada wartawan.

Maklum, sudah jadi rahasia umum bahwa pungli di dunia perwahyuan memang ada sebenarnya, tapi susah dibuktikan. Menurut Harjuna dan Abimanyu yang sering jadi langganan wahyu, seterimanya wahyu dia diharuskan transver ke rekening tertentu alamat Jonggring Salaka. Makin ngetop nama wahyu, makin mahal “Apel Malang”-nya. Wahyu Cakraningrat misalnya, itu bisa berkisar Rp 500 juta. Tapi jika menerima wahyu Makutha Rama, itu harus ditransver dengan “Apel Washington” alias dolar AS.

Begitulah kelakuan oknum para dewa. Meski pakai jubah dan tak lepas kethu dan sorban, doyan juga uang rasuah. Alasan mereka adalah, uang itu sangat luwes dan fleksibel. Tak mengenal suku, tak mengenal agama, semua doyan. Yang tidak doyan uang hanyalah ayam!

“Dimas Burisrawa berminat nggak memperebutkan Wahyu Tejabuwana?” kata Aswatama saat ketemu putra mahkota Mandaraka.

“Enggaklah. Apa sih gunanya wahyu? Kalau dengan wahyu  menjamin dapat Wara Sembadra, saya baru mau. Ha ha ha…..,” jawab Burisrawa seenak dan sekenanya.

Demikianlah, sejak diumumkan oleh kahyangan Jonggring Salaka, nama Wahyu Tejabuwana ramai jadi pembicaraan kalangan wayang. Khususnya kaum politisi yang asli maupun sekedar karbitan. Sebab konon kabarnya, barang siapa memiliki wahyu tersebut, perjalanan menjadi Caleg DPR jadi demikian mudah. Saat mendaftar pertama sebagai Caleg lancar, dan ketika Pileg 2019 nanti dijamin mendulang suara banyak.

Dari kalangan Ngastina, politisi muda yang ngebet pengin nyaleg adalah Raden Sarjokesuma putra kesayangan Prabu Duryudana. Meski berulangkali berburu wahyu tak pernah dapat, tidak juga merasa kapok. Dia selalu percaya pada motto lama bahwa “kegagalan adalah sukses yang tertunda”. Sekali dua kali gagal nggak apa, siapa tahu yang ke-100 kalinya berhasil.

“Hei Sarjokesuma, kenapa kamu mau nyaleg segala. Bukankah tanpa jadi anggota DPR pun kelak kamu bakal menjadi raja Ngastina.” Tegur Prabu Duryudana.

“Tapi kapaaaan, rama? Ketimbang terjebak penantian tidak jelas, kan lebih baik mengisi waktu dengan jadi wakil rakyat.” Jawab Sarjokesuma pendek saja, tapi menusuk.

Kapan tanggal Wahyu Tejabuwana diturunkan, tidak pernah jelas. Dia bisa datang tiba-tiba manakala cocog dengan user-nya. Tetapi bila tidak, dibela-belain lek-lekan (begadang) sampai 40 hari pun dia takkan hadir. Maka sampai seminggu lebih Raden Sarjokesuma begadang bersama teman-teman, tak ada juga pertanda Wahyu Tejabuwono mampir ke kesatriannya. Padahal sudah berapa saja Sarjokesuma ngebon kopi dan mie rebus, buat menjamu kawan-kawan.

Secara kalkulasi politik, peluang untuk mendapatkan wahyu itu sebenarnya cukup besar. Soalnya, kubu-kubu Pendawa seperti Abimanyu, Gatutkaca dan juga Harjuna sendiri, tahun ini sama sekali tak berminat berburu wahyu. Dengan demikian wahyu yang biasanya jatuh ke kalangan keluarga Pandawa, kali ini bisa bergeser kepada peminat dari kubu Ngastina. Tapi ya itu tadi, kenapa kok terus saja sepi…..?

“Kurang apa saya laku prihatin. Sudah dua minggu ini saya tidak makan nasi lho,” kata Sarjokesuma kepada rekan-rekan.

“Tapi kok kamu kelihatan tetap enerjik saja?” Burisrawa mencoba bertanya.

“Biasa, saya hanya makan kupat tahu, arem-arem dan ketoprak….!”

Malam itu sudah hari ke-15 Sarjokesuma “tirakatan” bersama kawan-kawan, di antaranya Burisrawa dan Aswatama. Mereka menunggu “pulung” pertanda kehadiran sebuah wahyu. Tapi sampai capek dan ngantuk, tak ada juga-juga tanda keberkahan itu. Burisrawa masih mencoba ngajak ngobrol Sarjokesuma, sedangkan Aswatama cenderung diam. Dia sedang berduka rupanya, karena Pendita Durna sang ayah diperiksa polisi dalam kasus ujaran kebencian.

Malam itu Sarjokesuma benar-benar iseng. Daripada ketiduran dan kehilangan moment masuknya Wahyu Tejabawono, dia kemudian mengambil bubuk candu stok lama. Dengan menggunakan bedudan, bubuk candu yang dicampur daun awar-awar itu lalu dibakar dan disedot gantian oleh Sarjokesuma, Burisrawa dan Aswatama. Rasanya sungguh melayang-layang. Sarjokesuma misalnya, di alam khayal mendadak ketemu si cantik Raisa. Kok sempat-sempatnya, wong Raisa sendiri mau jadi pengantin.

“Angkat tangan. Atas nama hukum kalian kami tangkap!” tiba-tiba suara keras terdengar. Tak lama kemudian sejumlah polisi masuk dan memborgol Sarjokesuma, Aswatama dan Burisrawa.

“Kami nggak pesta candu, apa lagi narkoba. Kami di sini cuma dugem.” Kata Sarjokesuma mencoba beralasan.

Tetapi polisi sudah tidak peduli. Ketika anak pejabat tinggi Ngastina itu digiring ke Polres. Mereka dipaksa kencing satu persatu, menjalani test urine. Ternyata hasilnya positif, mereka terbukti memang pesta candu di  kesatrian Sarjokesuma. Itu artinya, Sarjokesuma dan kedua temannya dilarang pulang alis menjadi tahanan resmi. Tak lama kemudian pihak istana Gajahoya, termasuk dari Mandaraka dan Sokalima telpon polisi agar ketiganya dibebaskan. Tapi ditolak, karena bebas-tidaknya mereka semua jadi wewenang…..kidalang.

“Mereka kan hanya pengguna, jadi tidak perlu dipenjara, cukup direhabilitasi.” Kata Prabu Salya.

“Mereka cukup kita kirim ke RSKO Pasar Rebo, atas tanggungan negara.” Sahut Prabu Duryudana.

Sarjokesuma-Burisrawa-Aswatana segera dibawa ke RSKO. Hari berikutnya kasus Sarjokesuma dkk jadi headline semua koran di Ngastina. Paling menyakitkan, Partai Gurinda yang telah menunjuk Sarjokesuma sebagai Caleg DPR, langsung membatalkannya. Jadi percuma saja dia menunggu-nunggu kehadiran Wahyu Tejabuwana yang memang tak akan tiba. (Ki Guna Watoncarita)

           

 

 

Advertisement