
LANGKAH demokrasi negara “beruang merah”, Rusia , kali ini diuji lagi dengan munculnya tokoh muda oposisi Alexei Navalny (41) yang akan berkontestasi menantang presiden petahana Vladimir Putin pada pemilu 2018.
Berdasarkan jajak pendapat, dukungan bagi Putin yang akan maju keempat kalinya dalam pemilu memang masih tinggi (80 persen) di tengah terpuruknya kondisi perekonomian negara, meningkatnya kemiskinan dan praktek korupsi.
Awal November lalu Putin telah menyatakan untuk maju lagi pada Pemilu 2018, sehingga jika memenanginya, ia akan memimpin Kremlin lagi sampai 2024 atau menjadi presiden Rusia terlama setelah diktator Joseph Stalin.
Sedangkan sosok calon rivalnya, Navalny, seorang pengacara, semakin populer setelah dianggap berhasil memimpin demo besar-besaran anti Putin yang mengguncang panggung politik Rusia pada 2011 dan 2012.
Navalny yang menuding pemilihan legislatif saat itu diwarnai sejumlah kecurangan, bolak-balik diinterogasi, dikenai tahanan rumah dan tiga kali dibui oleh penguasa, walau tidak lama, masing-masing 15, 20 dan 25 hari.
Saudara laki-laki Navalny bahkan dijebloskan dalam penjara karena terlibat suatu perkara, yang oleh para pendukungya dianggap sebagai “korban politis” di bawah proses peradilan yang direkayasa.
Sejauh ini popularitas Navalny cenderung meningkat, terbukti ia mampu mengumpulkan 15.000 tandatangan yang dipersyaratkan bagi setiap calon presiden independen.
Berdasarkan ketentuan Komisi Pemilu Rusia (KPR), setiap calon presiden independen harus mampu mengumpulkan minima 1. 500 tandatangan di setiap kota. Navalni juga sedang berusaha mengumpulkan minimal 500 tandatangan yang dipersyaratkan di masing-masing 20 kota.
KPR sebelumnya menyatakan Navalny tidak bisa mencalonkan diri karena dikenai tuduhan kriminal, dan bisa tidaknya pencalonan dirinya akan diputuskan lagi dalam lima hari ke depan.
Putin sendiri mencurigai pihak oposisi menginginkan kudeta dan berkilah bahwa semua pihak harus menghargai oposisi yang kapabel dan bertanggungjawab, bukan yang cuma berani melawan atau menyalah-nyalahkan pemerintah.
Beratnya perjuangan Navalny tampak a.l. saat 800-an pendukungnya terpaksa berkumpul di Hutan Perak yang diselimuti salju, Minggu lalu (24/12) karena tidak satu pun pengelola gedung di Moskow mau menyewakan tempat bagi mereka.
Navalny mungkin belum bisa ikut,, apalagi memenangi pemilu, namun paling tidak proses demokratisasi terus menggelinding di berbagai penjuru dunia termasuk di bekas negara tirai besi ex-Uni Soviet, pasca glasnost dan perestroika yang dikobarkan Mikhail Gorbachev.




