
PERANG saudara di Yaman yang sudah berlangsung tiga tahun belum ada tanda-tanda mereda, apalagi berhenti, bahkan jutaan penduduk negeri itu terancam kematian akibat kelaparan.
Lembaga Amal, Save the Children (SC) mengingatkan, sekitar 2,9 juta kaum perempuan dan anak-anak mengalami kekurangan gizi akut, sementara jutaan lainnya terancam kelaparan dan malnutrisi.
Selama 2017 saja tercatat sekitar 50.000 anak-anak meninggal akibat kelaparan atau penyakit akibat sanitasi dan lingkungan buruk , sedangkan 400.000 anak-anak lain yang masih hidup, sedang berjuang melawan kelaparan.
SC juga mencatat, sekitar 30 persen anak-anak yang mengalami kasus kekurangan gizi buruk yang tidak tertangani akhirnya meninggal dunia.
“Yaman dalam situasi darurat kemanusiaan terburuk di dunia, “ kata Direktur Program Pangan PBB (WFP) untuk Yaman, Stephen Anderson.
Kantor Berita AP melaporkan, seorang ibu muda, Umm Mirzah yang
berobat di RS Al-Sadaqa, Aden, Yaman selatan beratnya hanya 38 Kg, sementara bayinya yang berusia 17 bulan hanya 5,8 kg, jauh dari berat bayi normal seusianya.
Fisik Mirzah juga menunjukkan tanda-tanda malnutrisi akut . Kakinya bengkak karena tidak cukup mendapat asupan protein, sedangkan saat jari kakinya ditekan, legokan bekas tekanan tidak kembali.
Fadil, bayi laki-laki berusia 1,7 tahun di kota Mocha, Laut Merah saat dibawa ke RS di kota itu akhir November lalu beratnya hanya 2,9 Kg atau sepertiga dari berat bayi normal seusianya.
Bayi malang itu akhirnya juga meninggal karena ibunya yang mengalami malnutrisi tidak mempu menyusuinya. Fadil menghembuskan nafas di dekapan neneknya yang memberitahukan kabar duka itu pada ibu sang bayi yang tertidur lelap di lantai RS akibat kelaparan dan kelelahan.
Sekitar 10.000 korban tewas sejak Arab Saudi bersama koalisinya menggempur posisi milisi Houthi dukungan Iran dari darat dan udara di Yaman pada 26 Maret 2015 yang mengawali tragedi kemanusiaan terburuk di dunia di wilayah itu.
Eskalasi konflik Yaman meluas setelah koalisi Arab Saudi dan UEA turun tangan sejak Maret 2015 guna membantu Presiden Mansour Hadi yang digulingkan lawannya, Abdullah Ali dukungan milisi suku Houthi yang berada di belakang Iran.
Tak ayal lagi, konflik Yaman yang semula sebatas antara elite lokal, meluas menjadi perang proksi, perebutan hegemoni kawasan antara Iran dan Arab Saudi yang juga dipicu persoalan sektarian antara aliran Syiah (Iran) dan Sunni (Saudi).
Iran juga diduga memasok rudal pada milisi Houthi di Yaman yang beberapa kali ditembakkan ke kota-kota di Arab Saudi termasuk menyasar Istana al-Yamana di Riyadh 19 Desember 2017.
Pasca kematian Abdullah Hadi beberapa pekan lalu, Arab Saudi dan UEA pun pecah kongsi, dimana sebagian loyalisnya membentuk Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung UEA dan sebagian lain memihak pada Arab Saudi.
Yaman sempat bersatu pada 1990 di bawah Presiden Abdullah Saleh yang semula menjabat presiden Yaman Utara dan Wapres Ali Salim al-Beidh selaku presiden Yaman Selatan.
Saleh dan al-Beidh “pecah kongsi” pada 1994 dan terlibat konflik yang dimenangkan Saleh, sehingga ia menjadi penguasa tunggal sampai dilengserkan di tengah Revolusi Arab 2011.
Saleh menyerahkan kepemimpinan Yaman pada Wapres Mansour Hadi yang didukung koalisi Arab Saudi dan al-Qaeda, namun berkat dukungan Houthi (dan Iran), ia kemudian berhasil mengambil alih kembali Sana’a.
Elit lokal dan kawasan berebut pengaruh dan kekuasaan, rakyat mati di tengah-tengahnya. (AP/NS)




