EKALAYA CINIDRA

Pendita Durna tidak butuh bingkisan seliter bisa kalajengking. tapi cukup potongan jempol Ekalaya saja.

MELIHAT bahwa di Ngastina banyak berdiri yayasan perguruan yang mengarah ke komersialisasi pendidikan, Pendita Durna ikut-ikutan pula mendirikan perguruan tinggi.  Dengan modal tanah kapling pemberian Prabu Drupada dari Pancala, mulailah dia merintis mendirikan kampus Universitas Sokalima Beragama. Rektor dan dosennya dia-dia juga.

Meskipun uang gedungnya berjut-jut, perguruan tinggi yang berstatus terdaftar itu peminatnya banyak sekali. Keluarga sata Kurawa yang berjumlah 100 dan keluarga Pandawa yang berjumlah 5 wayang ikut jadi mahasiswanya Pandita Durna. Satu-satunya wayang yang diterima melalui jalur PMDK cuma Aswatama, anak tunggal sang rektor. Maklum, di kalangan wayang PMDK itu berarti: (P)enerimaan (M)ahasiswa (D)engan (K)oneksi!

“Jadi mahasiswaku jangan berkecil hati, dalam beberapa tahun lagi perguruanku akan disamakan statusnya.” bujuk Pandita Durna asal melihat calon mahasiswa tampak ragu-ragu kuliah di situ.

“Bagaimana nggak ragu, gedungnya saja cap kasio alias dikasih orang!” kata seorang mahasiswa, namanya Durmagati. Wayangnya pendek, gemuk, berdagu dua, sehingga omongannya selalu nyinyir.

Ketika kuliah para mahasiswa sudah mencapai semester 8, mereka diwajibkan mengikuti pula KKN. Oleh Pandita Dur­na para wayang calon tehnokrat itu cuma diwajibkan mengisi bak dengan klenting (tempayan) dari hydran umum. Tiap mahasiswa ditargetkan 500 liter per hari, karena bak mandi sang rektor mirip-mirip kolam renang. Mereka yang selesai mengisi bak diizinkan mengikuti kuliah Pandita Duma sesuai dengan jurusan yang diambil.

“Kalau tiap hari ngisi bak begini, kapan gue belajar?” keluh sepotong wayang yang berbibir biru lantaran kebanyakan ngangsu (isi bak).

“Ambil positifnya saja. Banyak ngisi bak, badan jadi sehat dan kuat,” hibur mahasiswa yang lain.

Pandita Durna pilih kasih. Aswatama yang dibebaskan dari uang kuliah, masih pula mendapat perlakuan istimewa: bebas ngangsu. Harjuna mengetahui kelicikan gurunya, tapi tak bisa ber­buat banyak. Mau protes kuatir malah di-DO. Maka  untuk mengejar ketinggalan ilmu memanahnya lantaran terlalu la­ma mengisi bak, setiap mengisi klenting Harjuna kini meng­gunakan ajian Barunastra. Dengan ajian tersebut, target 500 liter sehari dengan cepat dicapai.

Dengan cara demikian kesempatan kuliah semakin banyak. Karenanya, ilmu-ilmu memanah Harju­na kini selalu dapat ranking pertama. Dalam lomba-lomba memanah di luar kampus, dia selalu menjadi juara. Bahkan dalam kejuaraan All Ngesten di Ngastina, Harjuna sudah 8 kali berturut-turut merebut juara, sehingga banyak yang mengganti namanya sebagai Rudi Harjuna!

“Sebagai mahasiswa teladan, kau akan memperoleh beasiswa, Harjuna. Bahkan mulai saat ini kuangkat sebagai ahli memanah se-Ngastina…!” kata Pandita Durna.

“Terima kasih atas anugrah itu. Tapi hadiah kapling dan rumah, kapan nih?” tanya Harjuna yang ngiri atas nasib atlet-atlet di luar dunia pewayangan.

Ketenaran Harjuna sebagai ahli memanah terdengar pula oleh Ekalaya, putra Prabu Hiranyadanu dari Nisadha. Tahu bahwa kesuksesan itu berkat dididikan Pandita Durna, dia ingin pula berguru kepadanya. Sayang, kedatangan Ekalaya di Sokalima sudah terlambat. Tahun kuliah baru sudah ditutup. Meskipun dia sudah menunjukkan surat sakti dari Kahyangan dan uang sogok segepok, Pandita Durna tak bersedia menerima sebagai mahasiswanya.

“Maafkan Ekalaya, gue sudah terlanjur teken kontrak de­ngan Harjuna, jadi gue tak bisa menerima murid baru lagi untuk jurusan memanah,” jawab Durna sambil menenteng sejumlah berkas skripsi para mahasiswanya.

Ekalaya kecewa sekali dengan penolakan itu. Meskipun dia mohon untuk diizinkan kuliah barang satu semester saja, Durna rektor Universitas “Sokalima Beragama”  itu tetap menggeleng. Sebagai pengobat kecewa, Ekalaya cuma bisa ngabekti (cium dengkul) Durna meskipun Lebaran masih lama.

Ekalaya meninggalkan Sokalima dengan hati hampa. Sewaktu perjalanannya tiba di tengah belantara daerah Muara Gembong Bekasi, dia menyempatkan membuat patung Pandita Durna sebagai obsesinya. Sebagai wayang yang pernah belajar memahat patung di Muntilan Magelang, dengan cepat Ekalaya bisa menyelesaikan patung tokoh idolanya itu. Di dekat patung Durna itulah dia belajar memanah sendiri, seolah-olah diawasi oleh gurunya. Tiap pagi Ekalaya tak lupa mencium kaki patung, seakan minta restu. Setelah itu baru belajar memanah. Itulah Universitas Terbuka gaya wayang.

Beberapa tahun telah berlalu. Melihat ilmu-ilmu yang diajarkan telah banyak dikuasai mahasiswa. Pandita Durna bermaksud mengadakan kejuaraan memanah yang disebut sebagai Sokalima Cup. Setelah memperoleh sponsor dari perusahaan ini itu, perlombaan pun dilangsungkan di te­ngah hutan sekaligus berburu. Maka Yudistira bersama adik-adiknya begitu pula Duryudana bersama sanak saudaranya beriringan masuk ke hutan.

Sampai di hutan yang sudah tidak begitu lebat karena banyak penggundulan dan pencurian kayu, para mahasiswa Universitas “Sokalima Beragama” itu sibuk mengikuti Sokalima Cup. Siapa yang ahli memanah bisa dilihat dari binatang perolehannya. Harjuna sebagai pemanah top, sudah berhasil menewaskan puluhan kijang non-Toyota. Begitu pula Adipati Karno. Cuma Citraksa dan Durprakempa yang jarang kuliah karena sibuk nyalo tanah, begitu dapat sasaran cuma terwelu picek (kelinci buta).

Perbuatan murid-murid Pandita Durna lama-lama mendekati daerah Ekalaya latihan memanah. Kesatria dari Nisadha yang sudah tampak ahli merentang busur dan panahnya itu, sangat terganggu ketika mendengar salak anjing bersahut-sahutan. Demikian ahlinya Ekalaya kini memanah, hanya dengan mendengar suaranya saja dia sudah berani melepaskan anak panahnya dengan jaminan tepat sasaran.

“Anjing sialan, siang-siang begini bikin berisik aja luh…!” maki Ekalaya sambil membidik ke arah suara datang.

Kemampuan Ekalaya memang luar biasa. Anjing yang te­ngah berlari-lari memburu binatang, tiba-tiba terhenti gonggongannya lantaran 7 anak panah menancap pada mulutnya. Harjuna sebagai pemilik anjing merasa terkejut sekali. Baru kali ini dia melihat sejumlah panah dilepaskan sekaligus dengan sasaran tepat pula. Ketika melihat Ekalaya berkelebat, Harjuna segera memburunya. Bukan minta ganti rugi atas tewasnya anjing piaraan, tetapi untuk mencari tahu ilmu apa yang digunakannya, sehingga panahannya begitu canggih.

“Anda yang bernama Harjuna, to? Kalau begitu masih satu perguruan denganku, sebab aku Bambang Ekalaya juga belajar memanah kepada Pandita Durna…” jawab Ekalaya jujur.

“Ekalaya dari mana, ya? Gue kok gagal paham.” Jawab Harjuna enteng.

Keterusrterangan Ekalaya membuat Harjuna terkejut dan tersinggung kepada Pandita Durna. Pandita dari Sokalima itu pasti berkhianat. Katanya tak punya murid memanah yang lain, kok tiba-tiba muncul Ekalaya yang hebat. Buru-buru Harju­na tinggalkan kesatria saingannya itu, untuk meminta pertanggungjawaban sang rektor.

Pandita Durna ikut pula terkejut. Tapi begitu mendengar nama Ekalaya disebut-sebut, ingatlah dia peristiwa beberapa tahun lalu. Dalam hati dia merasa salut atas ketekunan mahasiswa bayangan itu. Cuma yang membuat Pandita Durna serba repot, Harjuna tetap menuntut agar ilmu memanahnya tak ada yang menandingi.

“Kau jangan cari kambing hitam, Harjuna. Karena kau selalu merasa besar dan meremehkan lawan, tahu-tahu ada sainganmu yang lebih hebat. Akuilah kekalahanmu, bahwa Ekalaya memang lebih hebat segalanya…!” kata Durna mencoba mematahkan desakan Harjuna.

Tetapi karena Harjuna tetap ngotot untuk menjadi wayang nomer satu dengan mengungkit-ungkit kontrak perjanjian yang ditandatangani dulu, terpaksa Durna mencari Ekalaya untuk mencari penyelesaian kemelut ini. Bagi Ekalaya kehadiran Durna merupakan kehormatan tersendiri, bagaikan lurah di pinggiran kedatangan gubernur.

“Bagawan Durna guruku, apa yang patut kupersembah kan sebagai ucapan terima kasihku atas didikanmu selama ini?” tanya Ekalaya penuh takzim.

“Nggak banyak kok Ekalaya. Gurumu nggak butuh bisa kalajengking seliter, bagaimana bila persembahanmu itu berupa jempol tangan kananmu saja…?”

Meskipun ini sebenarnya sangat berat, tetapi sebagai tanda bakti terhadap guru, dengan ikhlas Ekalaya memotong ibu jari tangannya dan kemudian diserahkan kepada Pandita Durna.

Setelah menerima bingkisan khusus itu, Durna minta Eka­laya mendemonstrasikan keahliannya memanah. Apa yang terjadi? Lantaran ibu jarinya telah hilang, Ekalaya tak bisa lagi memanah secara tepat. Harjuna yang sirik, puas sekali melihat kejadian ini. Sambil menyeringai Durna mengajak Harjuna pergi meninggalkan Ekalaya yang pernah menjadi saingannya itu. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement