NEGARA Arab di kawasan Teluk yang tidak disebutkan identitasnya mengirimkan delegasi angkatan udara guna mendapatkan informasi lebih detil terkait keandalan pesawat tempur berkemampuan siluman (stealth) F-35 Lightning II buatan Amerika Serikat yang digunakan negara Yahudi itu.
Kunjungan delegasi AU negara Arab itu ke Israel diungkapkan oleh peneliti Pusat Kajian Begin Sadat berbasis di Tel Aviv, Andy Cohen dalam akun twitternya seperti dikutip Al Quds al Arabi (3/7) dan Kompas (4/7).
Israel adalah negara pertama di luar AS yang telah mengoperasikan pesawat tempur generasi kelima itu dan negara pertama yang menggunakannya dalam operasi militer untuk menyerang posisi-posisi militer Iran dan milisi Hisbullah yang didukungnya di wilayah Suriah beberapa waktu lalu.
Pengamat militer menilai, kepemilikan Israel atas pesawat tempur termahal yang proyek pengembangannya hingga 2070 nanti menghabiskan 1.508 triliun dollar AS (sekitar Rp21.000 triliun) atau setara 10 kali APBN Indonesia dan harga per unitnya lebih 100 juta dollar (sekitar Rp1,4 triliun) bakal meningkatkan supremasi kekuatan udara Israel atas lawan-lawannya termasuk Iran.
Selain Israel, Turki yang juga sesama anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) juga ingin membeli skadron F-35 namun ditolak AS karena negara itu juga membeli sistem rudal pertahanan udara S-400 Triumf buatan Rusia, seteru AS di era Perang Dingin lalu.
Perpecahan diantara sesama negara Arab memang sudah lama berlangsung, misalnya terjadi antara Arab Saudi yang mayoritas rakyatnya pemeluk Islam Sunni, berebut pengaruh kawasan dengan Iran yang mayoritas menganut Islam Syiah.
Koalisi Arab Saudi dengan Uni Emirat Arab (UEA) juga saling berhadapan dengan Iran dalam konflik di Yaman yang sudah berkecemuk sejak tiga tahun lalu.
Arab dan UEA mendukung rezim Presiden Abdurabbuh Mansour Hadi, sebaliknya Iran berada di belakang milisi Houthi yang menjadi lawan mereka. Houthi beberapa kali meluncurkan serangan rudal balistik, diduga buatan Iran, ke kota-kota di Arab Saudi.
Arab Saudi, UEA, Bahrain dan Mesir berada satu front, melancarkan blokade darat, laut dan udara terhadap Qatar, sesama negara Arab Teluk yang dituduh menjadi sarang teroris yang didukung Iran.
Jalur udara Arab Saudi
Dibukanya ruang udara Arab Saudi bagi jalur penerbangan pesawat komersial menuju Tel Aviv juga menunjukkan salah satu bukti bahwa paling tidak, negara kedudukan Ka’bah – kiblat ummat muslim – tidak sepenuhnya mengambil sikap bermusuhan dengan Israel.
Kerjasama penggunaan jalur udara tersebut diawali dengan lintasan penerbangan Air India dari New Delhi menuju Tel Aviv pada 22 Maret lalu di koridor udara Arab Saudi sehingga mempersingkat waktu tempuh hingga dua jam dan tentunya juga menekan biaya operasional pesawat termasuk ngirit bahan bakar.
Tentu saja, hubungan diam-diam antara beberapa negara Arab dengan Israel membuat gusar Palestina yang sampai saat ini masih berjuang melawan Israel dan AS yang berada di belakang negara Yahudi itu.
“Hubungan mereka yang semakin mesra dengan Israel berdampak buruk bagi perjuangan rakyat Palestina, “ seru Wakil Ketua Gerakan Palestina di Israel, Sheikh Kamal Khatib.
Rakyat Palestina saat ini sedang berjuang melawan konsep damai “Abad ini” prakarsa Presiden AS Donald Trump yang menawarkan desa Abi Dish sebagai ibukota baru Palestina, sebaliknya Palestina menolak dan tetap bersikeras memilih Jerusalem Timur.
Sejumlah negara Arab seperti Arab Saudi, Bahrain dan UEA sendiri agaknya tidak menunjukkan sikap tegas mendukung perjuangan Palestina terkait isu ibukota Palestina tersebut.
Kekompakan negara-negara Arab dalam melawan Israel memang suatu keniscayaan walau mudah diucapkan, sukar diwujudkan.





