Cerita Kegigihan Relawan LOVER di Lombok

LOMBOK UTARA — “Iya bagus, diwarnai lagi ya yang gambar ini,” terang Nani, ketika memberi arahan kepada anak didiknya di Sekolah Darurat Assyafi’iyah, Desa Menggala, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara.

Nani merupakan satu dari sekian banyak guru relawan yang diterjunkan Dompet Dhuafa untuk mengisi tenaga pengajar di sana. Setelah gempa terjadi, semua sektor kehidupan di Lombok Utara lumpuh, termasuk pendidikan.

Nani satu dari 20 guru relawan Lombok Reovery (LOVER) asa Bengkulu. Ia tak gentar harus ditempatkan di Lombok selama 6 bulan. Rasa empati, adalah alasan kenapa Nani tidak ragu mengabdi menjadi relawan LOVER.

“Saya paham betul apa yang dirasakan oleh masyarakat yang ada di Lombok ini. Saya merasa berempati karena pernah juga menjadi korban ketika gempa mengguncang Bengkulu,” terang Nani, ketika ditemui di sela kegiatan mengajarnya di Sekolah Darurat Asyafiiyah Menggala, Lombok Utara.

Sebelum memutuskan mengabdi di Lombok, Nani merupakan salah satu tenaga pengajar juga di Bengkulu. Karena pengabdianya, ia rela melepas pekerjaan sebelumnya. Di Sekolah Darurat Asyafiiyah yang diinisiasi oleh Tim LOVER Dompet Dhuafa, Nani bersama rekan-rekannya mengajar sekitar 500 siswa dari berbagai tingkatan, mulai dari MI, MTs, dan MA.

Setelah adanya Sekolah Darurat dan Guru Relawan, sedikit demi sedikit kegiatan pendidikan di Lombok Utara kembali bangkit. Sudah mulai ada guru yang kembali mengajar dan murid berangkat ke sekolah. Walaupun harus berangkat dari pengungsian dan belajar di sekolah darurat, mereka tampak bahagia dan antusias.

“Saya lihat murid-murid sangat antusias. Ya mungkin karena mulai aktif kembali sekolahnya. Tentu mereka rindu suasana sekolah. Para guru juga sudah mulai mengajar, walau tidak semua bisa datang,” tutup Nani.

Advertisement