BERTOLAK dari kasus Nikahsiri.com, diam-diam kahyangan Jonggring Salaka hendak mengevaluasi gelar “Satria Lananging Jagad” (SLJ) bagi Raden Harjuna. Sebab dengan banyaknya istri Harjuna yang “nganggur” lama tak digilir, mereka mengisi waktu ikut aplikasi Nikahsiri.com tersebut. Ini jelas lebih banyak mudlaratnya dari manfaatnya.
Dengan izin mengawini 100 wanita, Harjuna memang tak pernah “kedinginan” sepanjang masa. Tapi sebaliknya bagi pihak mereka yang diperistri, sekian lama tunggu antrian digilir Harjuna, sama saja penelantaran kaum hawa secara masal. Apa lagi Harjuna ini terkenal royal di bonggol, tapi pelit di benggol.
“SLJ sangat melanggar azas pemerataan, kakang Narada,” kata SBG (Sanghyang Betara Guru), dari Bale Marcakunda.
“Untuk meningkatkan PAA kahyangan, mestinya istri kedua sampai 100 kena pajak progresif.” Saran Patih Narada.
Sudah bukan rahasia lagi, meski istri Harjuna berjumlah 100, yang disanding dalam kesatrian Madukara hanya Sumbadra dan Srikandi. Lainya yang berjumlah 98, tinggal di rumah mertua, dari kalangan dewa, begawan, sampai eks anggota dewan yang tak pernah kena OTT. Harjuna paling datang 6 bulan sekali. Setelah sporing balansing dan amplas platina, kembali ke pangkalannya di Ngamarta.
“Merujuk fatwa MUI, 96 istri Harjuna harus diceraikan. Janda-janda itu kemudian dipersilakan menikah dengan lelaki lain yang bisa mensejahterakan,” kata SBG dalam sidang di Bale Marcakunda.
“Kalau Harjuna menolak, bagaimana adi Guru? Dia kan wayangnya ngeyelan, kayak kaum oposisi. Salah-salah kita digugat ke MK.” Patih Narada mengingatkan.
“Ya pencabutan gelar “SLJ” serta merta, dan diumumkan secara terbuka, tidak diam-diam lagi. Gitu saja kok repot.”
Memang, pencabutan gelar “SLJ” tersebut akan dilakukan secara diam-diam, agar nama baik Harjuna tetap terjaga. Dia cukup dipanggil ke Jonggring Salaka, diminta mentalak 96 istrinya, selesai. Betara Guru memang tidak mau, keputusannya yang tidak populer itu akan menimbulkan gejolak dalam masyarakat perwayangan, khususnya bagi para janda Harjuna kelak.
Tapi Betara Guru lupa bahwa di Bale Marcakunda itu banyak dewa yang lambe turah dan nggenthong umos (mulut ember). Banyak dewa yang punya link dengan pers, bahkan ada pula sejumlah dewa yang nitis ke wayang ngercapada. Misalnya, Betara Wisnu, dia punya “agen” di Dwarawati namanya Kresna. Karena kedekatan dengan Hyang Wisnu, Kresna berhak pula menyandang nama Betara Kresna. Paling celaka, hal-hal secret di kahyangan sering bocor pula kepada Kresna lewat mulut Hyang Wisnu.
“Ah, itu kan hanya pengalihan isyu. Betara Guru punya maksud terselubung,” kata Betara Wisnu kepada titisannya, Kresna, sambil ngopi di Warung Daun.
“Apa gelar “SLJ” akan dihibahkan pada wayang lain?” Raja Dwarawati itu menyelidik.
“Yang bilang kamu lho itu, bukan ulun. Awas, pernyataan ulun jangan kamu goreng seenaknya.”
Prabu Batara Kresna memang merupakan wayang banyak chanel di Jonggring Salaka. Maka dalam waktu cepat dia sudah dapat latar belakang masalahnya. Menurut sumber yang layak dipercaya di Bale Marcakunda, sesuai dengan kesepakatan bersama Betari Durga, gelar “SLJ” nantinya akan diberikan kepada Prabu Dewasrani dari negeri Tunggulmalaya, dekat Tasikmalaya sana. Ada “logistik” kardusan telah disiapkan.
Kresna sebagai kakak ipar Harjuna, jelas tak terima keputusan diskriminatif Bale Marcakunda. Dia pun segera menggelar konperansi pers, menyilakan kalangan wartawan dan LSM menggoreng atau memelintir statemennya. Mustahil Betara Guru memberikan gelar itu gratisan, pasti ada uang kardusnya. Makanya Kresna dengan berani menyilakan namanya dikutip.
Esok paginya koran-koran muncul dengan berita utama nyaris sama: “Transver gelar SLJ Dewasrani setor Rp 500 M”. Keruan saja Bale Marcakunda kalang kabut dibuatnya. Betara Guru naik pitam karena namanya disebut bukan sekedar inisial. Tahu yang membocorkan rahasia negara adalah Betara Kresna, raja Dwarawati itu langsung divonis in absentia: hukum mati dengan diceburkan ke Kawah Candradimuka.
“Kasihan Kresna adi Guru, dia bisa jadi keripik.” Keluh Betara Narada.
“Biarin. Itulah sanksi keras untuk pembocor rahasia negara.” Jawab Guru ketus.
Betara Guru memang sedang sensitif belakangan ini. Jadi pengawas Unas saja pusing kok dihantam isyu yang waton nyata. Dia benar-benar puas jika sudah berhasil membinasakan Kresna, yang suka oposisi pada dewa. Maka dia segera perintahkan Betara Brama sebagai tim eksekutor, menjemput raja Dwarawati itu ke istananya. Keputusan ini sudah incracht, tak bisa diganggu gugat.
Tapi dua jam kemudian diterima kabar, Kresna sudah menghilang dari Dwarawati. Betara Brama pulang nglenthung ke kahyangan. Patih Udawa dan Haryo Setyaki menilai vonis itu salah alamat. Vonis menyebut nama Betara Krisna, sedang nama raja Dwarawati Betara Kresna.
“Dasar pokrul bambu, salah ketik saja dimasalahkan,” omel SBG lagi.
“Dwarawati tak mau kasus peradilan sesat terjadi lagi.” Patih Narada menimpali.
Kresna memang memiliki Kaca Paesan, sehingga tahu apa yang bakal terjadi. Sebelum tim eksekutor tiba di negerinya, dia langsung mengamankan diri ke tempat yang sangat dirahasiakan. Sebab dia belum siap masuk Kawah Candradimuka. Tapi di tempat persembunyiannya tersebut dia sempat ngetwitt dan FB segala.
Sudah kepalang basah, Betara Guru lalu menugasi Prabu Dewasrani untuk mencari Kresna, sekaligus membinasakan Harjuna. Tapi dua-duanya malah ngilang bersamaan. Jangan-jangan kesatria Madukara itu sibuk mengamankan para asetnya (baca: istri-istrinya). Bagi Harjuna, dicabut gelar “SLJ”-nya tak masalah, tapi jika diharuskan menceraikan 96 istrinya itu, wah ini berat.
“Sampai di mana perburuan Kresna Dewaji (ratu).” Ujar Betara Guru menunggu laporan.
“Ada indikasi masih di seputar Sumur Bandung boss.” Jawab Betara Narada.
Di Bale Marcakunda Betara Narada benar-benar capek dikerjai si Kresna Dewaji. Untuk membunuh kejenuhan dia pun iseng-iseng main internetan. Eh, saat membuka Youtube, eh…..nampak Betara Kresna sedang cengengesan, bikin monolog konsep Betara bahwa Jonggring Salaka dipenuhi pejabat korup.
“Diubres ke mana saja nggak ketemu, eh nongol di sini. Kurang ajar Kresna Dewaji…..!” omel Patih Narada kembali. (Ki Guna Watoncarita)



