PERANG Baratayuda Jayabinangun baru saja usai, dengan kemenangan mutlak pada kubu Pandawa. Berdasarkan pendataan ulang, pasukan Ngastina tewas di Tegal Kurusetra sebanyak 8.765 jiwa, belum termasuk para petinggi kerajaan sebagaimana Prabu Duryudana beserta adik-adiknya. Adapun keluarga Pendawa 5.432 pasukan jadi martir perjuangan. Petinggi Ngamarta Prabu Puntadewa beserta adik-adik dan ibu Kunthi selamat, tapi anak-anak Pendawa semuanya wasalam masuk swarga pengrantunan.
Berapa kerugian secara materi, sedang diaudit oleh akuntan publik. Meski kerugian lebih banyak di kubu Ngastina, aset bangunan negeri itu masih utuh. Itu karena Perang Baratayuda bisa dikonsentrasikan di Tegal Kurusetra saja, tanpa merembet ke wilayah lain. Cuma, areal medan pertempuran itu kini lebih dari 50 persen telah berubah menjadi TPU (Tempat Pemakaman Umum). Maklum, ketika perang berkobar, setiap korban langsung dimakamkan di tempat tanpa sempat dibawa ke San Diego Hill untuk kalangan wayang elit dan TPU Pondok Kelapa untuk kalangan prajurit biasa.
“Pendawa telah berhasil memiliki kembali negeri Ngastina, namun demikian kewaspadaan nasional harus ditingkatkan. Sebab sejumlah prajurit Kurawa yang selamat dan minggat, kini menjelma jadi teroris dan tengah menyusun kekuatan baru,” titah Prabu Kresna selaku penasihat keluarga Pendawa dalam Perang Baratayuda.
“Kita harus segera menanggulanginya, dengan membentuk Densus-1000. Sebab jika hanya dengan Densus-88, itu kurang kuat. Bukankah teroris punya prinsip mati satu tumbuh seribu….,” saran Werkudara adik Prabu Puntadewa.
Berdasarkan laporan Biro Pusat Intelijen (BPI) Ngamarta, sejumlah anak Kurawa sebagaimana Aswatama dan Kartomarmo dalam kondisi selamat. Kini mereka masuk hutan, lalu merekrut sejumlah cantrik dari padepokan Sokalima mantan murid Pendita Durna almarhum. Mereka dijadikan pasukan berani mati, untuk merebut kembali negeri Ngastina. Kini mereka sedang berlatih dan training merakit bom di Gunung Sahari, sebuah gunung yang terletak di perbatasan Ngastina dan Ngamarta.
“Kalau begitu tutup saja padepokan Sokalima, repot amat.” potong Werkudara.
“Nggak bisa begitu dong. Kan tak semua alumni Sokalima jadi teroris. Kamu sendiri dan juga Harjuna, semua juga alumni Sokalima. Iya kan?” ujar Prabu Kresna.
“E, iya dhing……!”
Keluarga Pendawa telah berhasil membentuk Densus-1000 dengan diketuai langsung oleh Werkudara. Kenapa dia yang dipilih bukan Sencaki? Soalnya, di samping tongkrongan juga meyakinkan, kumis tebalnya Werkudara diharapkan bikin ngeper dan ciut kaum teroris di Ngastina. Kalaupun perut Werkudara gendut, itu nggak perlu diperdebatkan. Masalahnya, di Ngamarta wayang berperut gendut lebih terhormat daripada pejabat berekening gendut.
Keluarga Pandawa segera boyongan ke Ngastina dengan segenap sisa pasukan yang ada. Bekas kerajaan Indraprasta sengaja ditenggelamkan, untuk menampung luapan Lumpur Lapindo yang terus melebar. Sebetulnya ini masalah negri lain, tapi demi toleransi dengan negara tetangga, keluarga Pandawa merelakannya. Tentu saja semuanya bukan gratis. Pendawa menerima kompensasi bernilai trilyunan, di mana dana itu selanjutnya akan dimanfaatkan untuk membangun negeri Ngastina yang rusak secara sosial dan budaya karena sekian lama dikuasai rezim korup Duryudana – Sengkuni.
“Ngastina Baru akan menjadikan rakyatnya banyak semat (kaya), terhormat dan bermartabat,” kata Prabu Puntadewa yang sudah punya rencana besar untuk kemajuan negeri peninggalan Prabu Pandu.
“Makanya kita akan kirim Sencaki ke Afrika, untuk studi banding di Burundi, bagaimana membangun permukiman sehat dan bermartabat itu.” Tambah Werkudara. “Nggak, nggak! Jangan saya, Trusthajumena saja. Dapat lebihan nggak seberapa tapi dicurigai ke mana-mana.” Potong Sencaki cepat.
Ternyata, masalah studi banding juga sedang sensitif di negeri Ngastina Baru. Maklum, pemerintahan baru Prabu Puntadewa bukan saja memberantas teror keamanan, tapi juga teror keuangan. Para PNS di Ngastina yang bekas anak buah Prabu Duryudana harus ikut Ujian Kompetensi via internet, utuk menyeleksi kejujuran mereka sebagai abdi negara. Wayang-wayang yang biasa mark up anggaran, tak lagi dapat tempat di negeri Ngastina Baru. Semboyannya: katakan tidak, pada korupsi!
Baru seminggu pindahan ke Ngastina, Dewi Utari janda almarhum Abimanyu melahirkan di RSB Kasih Ibu. Sebagai public figur, perjalanan orok dari liang rahim diberitakan rinci. Dari pembukaan satu hingga pembukaan empat, masuk koran dan TV. Padahal dulu waktu bikinnya bersama Abimanyu, tak ada satupun insan pers yang meliput. Semua dilakukan secara diem-diem, sambil merem-merem!
“Dimas Harjuna, tolong cucumu diadzani di telinga kanan, dan dikasih bisikin di telinga kiri bahwa bila telah menjadi raja kelak, jangan sekali-kali mendukung korupsi, apa lagi melakukannya.” Perintah Prabu Kresna, dan Harjuna segera melaksanakan.
“Malah saya tambahi, jangan juga merangkap ngurus partai…..!” ujar Harjuna.
Bayi yang baru lahir ini memang diramalkan dewa bakal jadi raja di Ngastina. Mestinya, sepeninggal Puntadewa kelak yang jadi raja Pancawala, tapi bocah ini ternyata juga tewas dalam Baratayuda, sehingga suksesi kemudian jatuh ke cucu Harjuna. Cuma, mengelola Ngastina Baru tantangannya semakin kompleks. Maka bayi itu lalu dinamai Parikesit, dalam arti semuanya serba cepat (pari = serba, kesit = cepat), tak boleh ragu.
Baru sehari kelahiran Parikesit, Harjuna kembali dari hutan sambil membawa Banowati, janda Duryudana sekaligus mantan pacar. Bekas permaisuri raja itu berkisah bahwa di hutan nyaris diperkosa oleh Kartamarmo, yang kini jenggotan dan pakai celana cingkrang dan berbaju rompi. Awalnya sih mau diajak nikah siri, tapi karena menolak langsung mau ditelanjangi. Untung saja Harjuna datang pada saat yang tepat.
“Kurang ajar, Banowati kan ipe (ipar) sendiri….!” kata Kepala Densus-1000 Werkudara.
“Ipe kan singkatan: iki ya penak (ini enak juga)…” potong Sencaki tanpa ekspresi.
Berdasarkan informasi Banowati, Prabu Krena yakin bahwa teroris Kartomarmo dan Aswatama diam-diam sedang menyusun target serangan ke Istana Gajahoya. Karena itulah Werkudara sang Densus-1000 harus makin waspada. Dan itu memang benar, karena Kartomarmo yang gagal memperkosa Banowati, saat itu malah kesasar hingga pretapan Grojogan Sewu, tempat Prabu Baladewa “disembunyikan” oleh Prabu Kresna.
“Kartomarmo, kenapa tubuhmu luka-luka begitu? Memangnya ada apa di Ngastina?” Prabu Baladewa mencecar dengan sejumlah pertanyaan.
“Memangnya kangmas Baladewa belum tahu? Baratayuda sudah……..”
Belum juga selesai ngomong, Kartomarmo langsung ditembak mati pakai pistol oleh Setyaka ponakan Prabu Baladewa. Baladewa pun marah, karena ada sesuatu yang ditutupi. Gantian dia ambil pusaka Nenggala dan ditusukkan ke perut putra Prabu Kresna, sehingga anak muda itu wasalam saat itu juga. Sadar telah terjadi rekayasa politik Baladewa segera tinggalkan Grojogan Sewu ke Ngastina dengan naik bis antarkota.
Di kerajaan Ngastina malam itu terjadi kerusuhan. Teroris Aswatama yang menyusup ke istana untuk membunuh bayi Parikesit, justru tewas terkena oleh keris Pulanggeni yang melesat ke dada sang teroris gara-gara tersepak kaki bayi. Untuk membangun citra, Werkudara selaku Kepala Densus-1000 segera menginjak-injak mayat Aswatama hingga mecedhel (usus terburai) dan keluar tai enom (tinja)-nya.
“Saya juga alumni Sokalima, tapi tak perlu jadi teroris, hih…..” ujar Werkudara.
“Sudah, sudah. Dia sudah mati, kok kamu semangat banget,” tegur Kresna.
Belum juga mayat Aswatama sempat dimakamkan, terjadi serbuan entah teroris dari kelompok mana. Listrik padam seketika. Dalam Istana terjadi saling tabrak dan saling injak. Sepuluh menit kemudian saat listrik nyala kembali, diketahui Setyaki, Sembadra dan Srikandi tewas tertimpa pintu lepas. Bahkan Trusthajumena yang mau diplot studi banding juga wasalam dengan leher tergorok. Makanya, hati-hati bagi yang doyan studi banding ke manca negara. Menggorok anggaran bisa kena gorok betulan! (Ki Guna Watoncarita)



