
TAK hanya manusia yang harus berubah sesuai tuntutan kemajuan, termasuk dalam menyongsong revolusi industri 4.0 kini, nyamuk aedes aegypti (AE), vector pembawa virus Demam Berdarah Dengue (DBD) terntata juga beradaptasi.
Nyamuk AE, seperti dikutip Kompas (25/2) dalam wawancara dengan Budi Haryanto dari Pusat Riset erubahan Iklim (RCCC Universitas Indonesia), semakin sulit dibasmi karena terus mengalami mutasi fisiologis yang membuat keberadaannya sulit dideteksi.
Akibatnya, tanpa aksi penanggulangan serentak, penularan DBD semakin sulit ditangkal, sedangkan penyebabnya adalah terjadinya pemanasan global yang memicu naiknya suhu udara.
Sebelumnya, siklus hidup nyamuk AE adalah 12 hari sejak lahir hingga dewasa, namun saat terjadi pemanasan global ditandai dengan peningkatan suhu udara, nyamuk menjadi dewasa hanya dalam tujuh sampai sembilan hari.
Dampak lain, akibat lahir premature, bobot AE lebih ringan sehingga jarak jelajahnya lebih jauh, jika sebelumnya hanya bisa terbang lurus 120 meter, kini menjadi 140 meter atau berputar-putar pada radius 30 meter.
“Jam kerja” nyamuk yakni saat-saat nyamuk menggigit manusia berlangsung antara pukul 07.00 sampai pukul 10.00 dan pukul 15.00 sampai 17.00.
Hanya nyamuk betina yang menghisap darah manusia, tiga sampai lima hari sekali, kemudian menhasilkan 100 butir telur, sedangkan mangsanya tidak dibedakan laki atau perempuan, sebaliknya, nyamuk jantan hanya mengosumsi embun.
Iklim, Petstisida dan Lingkungan
Sementara menurut Kepala Laboratorium Dengue Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Tedjo Sasmono, perkembang biakan nyamuk AE selain dipengaruhi iklim, juga resistensi pestisida dan faktor lingkungan.
Curah hujan tinggi tetapi singkat diselingi hari-hari tanpa hujan seperti terjadi belakangan ini memudahkan nyamuk berkembang biak, sebaliknya curah hujan tinggi berlangsung lama, membuat perindukan nyamuk tersapu air sehingga jentik-jentik tidak sempat jadi dewasa.
Selain itu, pengasapan (fogging) dengan pestisida dan menjaga kebersihan lingkungan dengan mencegah tumpukan sampah atau barang-barang bekas, juga dapat menekan ledakan jumlah nyamuk.
Dari faktor virus DBD sendiri, siklus wabah terjadi sekitar lima atau enam tahunan yang juga terkait dengan imunitas populasi, sedangkan kecepatan virus DBD bermutasi juga berperan pada jumlah kasus.
Virus-virus yang bermutasi terseleksi secara alami menjadi galur virus yang lebih mudah ditransmisikan oleh nyamuk.
Kasus DBD semakin marak, seperti disebutkan laporan Kementerian Kesehatan, sejak Januari sampai 19 Februari saja tercatat 23.305 kasus DBD dengan korban 227 orang meninggal. Kasus terbanyak terdapat di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Giatkan terus pencegahan DBD melalui gerakan 3M Plus (Menguras, Menutup dan Memanfaatkan barang bekas yang berpotensi jadi tempat perkembangbiakan nyamuk) serta penggunaan alat serta zat anti nyamuk lainnya. (NS/Kompas)


