SEPERTI PNS di ngercapada, para dewa di kahyangan Jonggring Salaka juga memiliki pangkat dan golongan. Bethara Narada itu pejabat aselon I yang bergolongan IV-b, sementara Sanghyang Bethara Guru (SBG) bergolongan IV-e. Kalangan dewa yang bergolongan III-c bisa disebut misalnya: Bayu, Indra, Penyarikan, Kamajaya, Wisnu dan Brama. Betara Yamadipati meski baru golongan III-a, obyekannya banyak: tiap hari mencabut nyawa makhluk ngercapada. Pernyawa honornya Rp 500.000,- dipotong Pph 15 persen.
Dewa mentok karier dengan golongan II-d, adalah Hyang Patok dan Hyang Temburu. Mereka ini dewa yang tak begitu beken, karena pekerjaannya juga tak jelas. Justru karena bergolongan kecil, untuk menambah penghasilan harus banyak ngobyek. Habis absen finger print di Bale Marcakunda, dia ngilang cari tambahan di ngercapada. Jadi apa saja kek, yang penting halal.
“Ke mana nih Temburu? Absennya ada tapi kok orangnya nggak ada?” tegur Bethara Indra sekali waktu.
“Biasa, mbolos. Memangnya hanya anggota DPR saja yang bisa.” Jawab Bethara Patok yang masih sibuk ngepel lantai.
Ke mana saja Hyang Temburu setiap ngilang ke ngercapada? Ternyata di sana dia punya grup musik campur sari “Lejar Manah”, yang mampu menggoyang sebuah kota manakala dia pentas. Gesekan alat musik “Mustikaning Rebab” pemberian Sanghyang Wenang dulu, suaranya demikian mendayu-dayu dan menyihir penonton. Karena Temburu juga pencipta lagu-lagu, maka lagu karyanya “Lek-lekan” sangat dikenal kawula muda. Dalam berbagai kesempatan, sedang di kamar mandi misalnya, mereka selalu mendendangkan, “Lek-lekan aja lek-lekan, nek ora ana perlune, lek-lekan entuk wae yen ana gunane…….”
Demikianlah, Hyang Temburu si Raja Campursari hari itu mendadak berada di Pasetran Gandamayit, kedaton Betari Durga. Apakah dia hendak survei lapangan sebelum manggung? Bukan. Ternyata dia punya agenda khusus, yakni minta dukungan demi kariernya di masa depan. Masak jadi dewa dari jaman baheula, golongannya II-d melulu. Lainya pada dapat remunerasi, dia hanya dengar doang.
“Pukulun Betari Durga, saya pengin jadi raja di Jonggring Salaka. Bila berhasil, tahun 2020 kahyangan akan jadi Jonggring Salaka Baru.” Ujar Hyang Temburu sembari menghaturkan sembah.
“Gila kamu! Itu kan sama saja makar, mbalela dari kekuasaan yang sah. Mau dipendem seperti Betara Kivlan Zein kamu?” Tegur sekaligus hardik dewa perempuan berwujud raseksi itu.
Hyang Temburu pun segera memberi paparan dan alasan seperlunya. Dia menilai bahwa SBG selama memimpin Jonggring Salaka hanya sarat dengan pencitraan, tapi hasilnya tak dirasakan oleh dewa pada khususnya dan kawula ngercapada pada umumnya. Keluar negeri melulu dengan hasil tidak jelas. Di sisi lain dewa-dewa seputar Bale Marcakunda suka tampil hedonis, karena hobi memalak BUMN di ngercapada. Makanya, SBG harus diimpeach. Penggantinya adalah Hyang Temburu, pemimpin masa depan yang akan jadi agen perubahan.
“Sudah, sudah, jangan jumawa kamu. Kalau gagal nantinya kamu malah jadi agen gas melon.”
“Kok gitu sih Pukulun, didoain kek biar terkabul, kok malah ditakut-takuti.” Betara Temburu protes.
Mengapa Hyang Temburu begitu jumawa ingin menggantikan SBG? Katanya, banyak pendukung di ngercapada, khususnya para begawan seperti: Abiyasa, Wisrawa, Seta, Durna, Bisma, dan Druwasa, termasuk para wayang setengah dewa macam Semar, Togog, Bilung. Belum lagi para penggemar grup musiknya di setiap kolong langit.
Mendengar itu, Betari Durga pun tersenyum kecut, karena para wayang setengah dewa yang disebut Hyang Temburu rata-rata seperti dirinya. Yakni, punya kasus di kahyangan sehingga terdepak dari lingkaran kekuasaan di Jonggring Salaka. Tokoh model begitu kok mau dijadikan beking dan panutan, ya nggak bisa. Jangan-jangan baru mau bergerak langsung ditangkap. Sudag begitu nanti dibilang, kriminalisasi dewa!
“Oke kalau begitu, saya dukung dan sponsori. Tapi kamu harus berubah wujud, minimal nyamar…..” Jawab Betari Durga, yang sekaligus juga ingin balas dendam pada SBG yang notabene mantan suaminya.
“Nggak perlu Pukulun. Tampil yang sederhana apa adanya saja macam Presiden Jokowi, justru itu yang sedang digandrungi rakyat.”
Sepeninggal Hyang Temburu dari Pasetran Gandamayit, tahu-tahu pettt….., listrik di Jonggring Salaka mati total. Apa ngambeknya Walikota Tangerang sampai ke kahyangan segala? Benar-benar di luar akal sehat dan dungu namanya.
Penanggungjawab perlistrikan Betara Brama dicari ternyata ngilang. Hyang Bayu diminta sewa berbagai genset dari mana saja, tidak berani. Dia khawatir, jika terjadi inevesiensi malah dimaki-maki macam Dahlan Iskan di depan Komisi VII DPR dulu. Walhasil selama beberapa hari Jonggring Salaka gelap gulita. Bahkan kawah Candradimuka yang selama ini berbahan bakar areng stengkul, juga sudah tidak beroperasi lagi. Kata penyair: tak ada lagi pijar panas di kawahmu!
Tak ada listrik berarti air Jetpump juga tidak mengalir. Jonggring Salaka geger. SBG, Sanghyang Narada berserta dewa-dewa lainnya turun ke bumi mencari sumber air di Cokrotulung, Kartosura (Solo). Sedangkan para bidadari mandi di Umbul Pengging, mBoyolali. Otomatis kahyangan komplang (kosong), pemerintahan chaos.
“Masuk, masuk! Situasi sudah aman, mantap terkendali..!” perintah HyangBrama.
“Hyang Guru juga sudah pergi?” tanya Hyang Temburu.
“Sudah, dari pagi. Dia kan ikut ujian sertifikasi, biar bisa jadi Kepala Sekolah….”
Betara Brama dan Temburu yang bergelar “Ksatria Ber-rebab” segera masuk Jonggring Salaka lewat Gapura Sela Matangkep yang dibuka pakai kunci duplikat. Program pertama menyalakan listrik, kedua membentuk pemerintahan baru. Posisi SBG didemisioner dan Hyang Temburu menyatakan dirinya sebagai Hyang Jagad Pratingkah Kakehan Polah, sementara Hyang Brama diangkat jadi patih kahyangan, menggantikan Narada. Keduanya kini sudah menjadi pejabat aselon I, yang golongan kepangkatannya meloncat jadi IV-d dan IV-c.
Saat Temburu – Brama tengah menyusun program unggulan Jonggring Salaka Baru, mendadak pintu Sela Matangkep digedor-gedor SBG dan Narada. Mereka kepengin masuk tapi tak digubris, sehingga SBG kembali ke bumi dan tinggal Betara Narada yang bertahan di gapura. Dia lingak-linguk sendirian macam cah ilang, sampai kemudian dibukakan pintu oleh Temburu – Brama.
“Maaf Hyang Narada, posisi sampeyan sudah kami gantikan. Kalau mau terus berkarier di kahyangan, jadi pekatik dengan status tenaga outsorcing,” ujar Temburu.
“Elekkk, elekkkkk. Modal lagu “Lek-lekan” saja kok mimpi jadi raja Jonggring Salaka. Terlalu……! Kalau mau berbagi kekuasaan 55-45 persen gimana?” maki Betara Narada yang akhirnya melunak, tiru-tiru Amien Rais.
Temburu dengan jaminan dan fasilitas yang tidak jelas, apa lagi turun pangkat jadi tenaga alih daya, mana mau. Narada segera balik bakul ke ngercapada, mencari bala bantuan. Bersama SBG keduanya menuju ke Karangkebolotan, mencari Ki Lurah Semar. Apa benar dia memberi dukungan politik pada Betara Temburu? Jika tidak, ada harapan nama dan kedudukan SBG – Narada bisa dipulihkan.
“Siapa bilang aku mendukung Temburu si “tukang ngamen” itu? Ndak betul itu.” protes Semar berapi-api, karena namanya dicatut pihak yang tak bertanggungjawab.
“Kalau tidak, bantulah kami kakang Semar. Tanpa menjadi raja dan patih di Jonggring Salaka, mau jadi apa kami?” rengek dan mohon Narada – Guru bergantian.
Sebenarnya selama ini Semar juga tak suka dengan kebijakan SBG yang sering tidak pro rakyat. Tapi Temburu – Brama mendongkel kedudukannya di Jonggring Salaka, adalah tindakan inkonstitusional. Sebagai pengawal demokrasi, Semar sangat menentang cara-cara seperti itu. Apa lagi dia juga mendengar berita bahwa Betari Durga kini diangkat sebagai penasihat Istana Bale Marcakunda, katanya demi asas keterwakilan wanita 30 persen.
“Oo, dalang dan otaknya lagi-lagi kamu, to?” tegur Semar begitu ketemu Betari Durga di Jonggring Salaka.
“Cilakak, dia lagi, dia lagi.” Betari Durga pun terpekik. Tak menyangka situasi politik begitu cepat berubah.
Betari Durga yang semula mau dapat grasi dari kahyangan, justru hukuman ditambah. Demikian juga Betara Brama dan Temburu, segera dicopot posisinya. Sebagai hukuman, keduanya dimasukkan ke dalam kawah Condrodimuka. SBG dan Patih Narada dikembalikan pada posisinya, paling tidak hingga 2024. (Ki Guna Watoncarita)



